Tampilkan postingan dengan label WISDOM & STORY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WISDOM & STORY. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 September 2026

Kisah Zulkarnain dalam Surah Al-Kahfi: Kekuasaan, Kepemimpinan, dan Kerendahan Hati

Kisah Zulkarnain dalam surah Al-Kahfi


Apa yang akan kita lakukan ketika memiliki kekuasaan?

Pertanyaan ini terdengar seperti pertanyaan untuk seorang pemimpin negara. Padahal, dalam kadar yang berbeda, hampir setiap kita memiliki sesuatu yang membuat kita mampu memengaruhi kehidupan orang lain.

Ada yang memiliki jabatan.

Ada yang memiliki ilmu.

Ada yang memiliki kekayaan.

Ada yang memiliki jaringan, teknologi, keterampilan, atau sekadar kesempatan untuk membantu.

Setelah membaca kisah dua pemilik kebun dan perjalanan Nabi Musa bersama Khidir, saya melanjutkan membaca Surah Al-Kahfi. Kali ini saya sampai pada kisah Zulkarnain dalam ayat 83–98.

Ada sesuatu yang menarik perhatian saya.

Jika kisah pemilik kebun berbicara tentang manusia ketika memiliki kekayaan, dan kisah Musa bersama Khidir berbicara tentang manusia ketika berhadapan dengan keterbatasan pengetahuan, maka kisah Zulkarnain membawa kita kepada pertanyaan berikutnya:

Bagaimana manusia bersikap ketika Allah memberinya kekuasaan dan kemampuan?

Jawabannya ternyata bukan sekadar tentang seberapa besar sesuatu yang mampu kita bangun.

Tetapi untuk siapa kekuatan itu digunakan.

Jumat, 28 Agustus 2026

Kisah Musa dan Khidir: Belajar Memahami Hikmah di Balik Jalan Hidup

Ilustrasi perahu kayu tua di laut tenang saat fajar, melambangkan perumpamaan perahu yang dilubangi dalam kisah Nabi Musa dan Khidir pada Surah Al-Kahfi.
Hari ini kita mungkin sedang menatap sebuah perahu yang berlubang. Besok kita mungkin baru memahami mengapa ia harus berlubang.


Pernahkah kita kecewa pada sebuah kejadian, lalu beberapa tahun kemudian baru menyadari bahwa ternyata ada kebaikan yang lahir darinya?

Sesuatu yang dahulu kita tangisi, ternyata menyelamatkan kita.

Sesuatu yang dahulu kita anggap kegagalan, ternyata mengarahkan kita ke jalan yang berbeda.

Atau sebaliknya. Sesuatu yang pernah begitu kita banggakan ternyata tidak bertahan selama yang kita bayangkan.

Saya kembali memikirkan hal ini ketika membaca Surah Al-Kahfi.

Sebelumnya, perhatian saya tertuju pada kisah dua pemilik kebun dalam Surah Al-Kahfi ayat 32–44. Salah seorang di antara mereka memiliki dua kebun yang subur. Kebunnya menghasilkan buah, dialiri air, dan memberinya kekayaan. Kemakmuran itu kemudian membuatnya merasa begitu yakin terhadap apa yang dimilikinya.

Ia bahkan berkata bahwa ia tidak menyangka kebunnya akan binasa.

Tetapi kebun itu akhirnya hancur.

Kisah tersebut seperti mengingatkan saya bahwa apa yang terlihat kuat hari ini belum tentu akan tetap kuat esok hari. Kekayaan, jabatan, kesehatan, keberhasilan, bahkan berbagai hal yang kita banggakan dalam kehidupan, semuanya berada dalam keterbatasan manusia dan kekuasaan Allah.

Lalu saya melanjutkan membaca kisah lain dalam surah yang sama.

Kisah Nabi Musa dan Khidir dalam Surah Al-Kahfi ayat 60–82.

Dan saya menemukan pelajaran lain yang terasa seperti melengkapi renungan sebelumnya.

Jika kisah pemilik kebun mengingatkan bahwa sesuatu yang tampak baik belum tentu akan selamanya baik, perjalanan Musa bersama Khidir mengajarkan bahwa sesuatu yang tampak buruk belum tentu berakhir buruk.

Di antara keduanya, ada satu pelajaran besar:

Pandangan kita terhadap kehidupan sangat terbatas.

Sabtu, 22 Agustus 2026

Empat Tahap Ketika Nikmat Perlahan Menguasai Hati

Ilustrasi kebun anggur yang subur saat matahari terbit, sebagai perumpamaan kisah pemilik dua kebun dalam Surah Al-Kahfi.
Sama seperti kebun yang menanti matahari terbit, segala nikmat yang kita miliki sejatinya tunduk pada kehendak-Nya




Yang menarik dari pemilik kebun dalam Surah Al-Kahfi adalah kejatuhannya tidak dimulai ketika kebunnya hancur.

Kejatuhannya sudah dimulai jauh sebelumnya.

Di dalam hati.

Jika diperhatikan, ada semacam perjalanan batin yang digambarkan Al-Qur'an. Nikmat yang semula berada di tangan perlahan masuk ke dalam cara seseorang menilai dirinya, melihat orang lain, memahami masa depan, bahkan memandang hubungannya dengan Allah.

Saya melihat setidaknya ada empat tahap yang patut kita jadikan cermin.

Kamis, 30 Oktober 2025

Ketika Hatinya Menemukan Tempat Berlabuh


Said tampak sukses di mata semua orang.

Jabatan yang tinggi, ekonomi mapan, penampilan yang elegan, pembicara yang fasih dan keluarga yang ideal, ia miliki semuanya. 

Namun ia tahu bahwa di balik penampilan yang memukau ini tersimpan kekosongan yang menghantuinya setiap malam sebelum ia tidur.

Ia berkata pada dirinya sendiri :

Aku punya segalanya... kecuali ketenangan hati dan pikiran

Sabtu, 18 Oktober 2025

Senyum Pak Karino: Saat Sebuah Foto Mengajarkan Arti Menghargai

Pelajaran dari  Sebuah Ajak Foto

Pagi itu, cahaya matahari menyelinap lembut melalui sela pagar tangga kampus. Langkah mahasiswa terdengar terburu, sebagian menunduk memeriksa ponsel, sebagian lainnya sibuk mengejar waktu kuliah. Di antara hiruk pikuk itu, seorang lelaki berkaus biru berdiri tenang, sapu di tangan kanannya. Bajunya sederhana, tapi bersih.

Lalu datanglah seorang ustadz muda, Ustadz Rio Saputra. Dengan senyum bersahaja, ia merangkul lelaki itu dan berkata, “Pak, kita foto bareng, ya.”

Satu jepretan kamera, dan lahirlah gambar sederhana yang menyimpan makna besar.

Senyum itu milik Pak Karino, petugas kebersihan kampus yang sudah lebih dari sepuluh tahun bekerja menjaga kebersihan setiap sudut ruang belajar kita.

“Berfoto bareng itu tanda kita menghargai , bukan karena status, tapi karena kita sama-sama manusia.”
Rio Saputra


Siapa sangka, ajakan berfoto itu menjadi momen pertama dalam karier panjang Pak Karino bersama mahasiswa. Saat ditanya apakah selama ini pernah diajak berfoto oleh siapa pun di kampus, ia hanya menggeleng.

Tidak ada rasa kecewa di wajahnya, hanya senyum tenang, seolah mengatakan: “Tidak apa-apa, saya sudah terbiasa menjadi latar.”

Pak Karino datang ke kampus setiap pagi, jauh sebelum bel masuk berbunyi. Di saat sebagian mahasiswa masih menyiapkan catatan kuliah, ia sudah memegang sapu dan ember. Menyapu halaman, mengepel lorong, menata kursi, membersihkan kaca, menyingkirkan jejak sisa aktivitas hari sebelumnya.

Ia jarang berbicara banyak, tetapi setiap langkahnya meninggalkan keteduhan. Kampus yang bersih dan nyaman sering dianggap hal biasa, padahal di baliknya ada keringat dan dedikasi orang-orang seperti dia,  pekerja senyap yang menjaga ritme kehidupan akademik tetap berjalan.

“Bayangkan kalau sehari saja beliau tak masuk,” ujar Ustadz Rio. “Kampus pasti berantakan. Tapi entah kenapa, orang yang paling membuat kampus kita bersih justru sering tak terlihat.”

Sayangnya, masih banyak mahasiswa yang belum menghargai kerja seperti itu. Masih saja ada yang membuang sampah sembarangan — bahkan di area masjid. Namun, alih-alih marah, Pak Karino memilih diam, membersihkan dengan hati sabar. Ia mengajar tanpa kata, lewat teladan sederhana.

Saya belajar hari itu bahwa menghormati manusia bisa sesederhana mengajaknya berfoto.”
Catatan Seorang Dosen

Senyum di foto itu menular. Beberapa mahasiswa yang melihat kejadian itu mulai menyapa Pak Karino keesokan harinya. Ada yang menanyakan kabar, ada yang membantu membuang sampah. Dari satu foto, tumbuh kesadaran kecil: bahwa penghormatan tidak harus dalam bentuk penghargaan besar, cukup dengan perhatian kecil yang tulus.

Di dunia yang semakin bising dengan gelar dan jabatan, kisah Pak Karino menjadi oase sederhana. Ia mengingatkan bahwa nilai manusia tidak diukur dari pangkat atau posisi, tetapi dari manfaat dan ketulusan.

Sebuah ajakan foto di tangga kampus telah membuka mata banyak orang bahwa penghargaan bisa dimulai dari hal paling sederhana: menyapa, tersenyum, dan mengakui keberadaan orang lain.

Kini, setiap kali kita menaiki tangga yang sama, mungkin kita akan teringat pada satu hal,  bahwa kampus bukan hanya berdiri di atas ilmu, tapi juga di atas rasa hormat kepada sesama.


Jumat, 14 Februari 2025

Mengapa Proses itu Penting? Belajar dari Perjalanan Hidup Rasulullah ﷺ


Dalam kehidupan, kita sering kali mendambakan kesuksesan yang instan. Kita ingin mencapai puncak tanpa mendaki, ingin menuai tanpa menanam, ingin menang tanpa berjuang. Padahal, Allah telah menetapkan sunnatullah bahwa segala sesuatu di dunia ini harus melalui proses. Bahkan Rasulullah ﷺ, manusia paling mulia, tidak langsung diangkat menjadi pemimpin besar tanpa melewati perjalanan panjang penuh tempaan.

Masa Kecil yang Tidak Mudah

Rasulullah ﷺ lahir sebagai yatim. Ayahnya, Abdullah, telah meninggal sebelum beliau lahir. Tidak lama kemudian, ibunya, Aminah, juga meninggalkan dunia saat beliau masih sangat belia. Beliau dibesarkan oleh sang kakek, Abdul Muthalib, yang kemudian juga meninggal dunia. Lalu pengasuhan berpindah ke pamannya, Abu Thalib. Ini bukan kebetulan, tetapi bagian dari proses Allah untuk membentuk pribadi yang kuat dan mandiri sejak kecil.

Bayangkan, seorang anak kecil yang tidak memiliki kasih sayang orang tua sepenuhnya. Namun, justru dari situ beliau belajar tentang ketabahan, kemandirian, dan kekuatan mental. Allah membentuk Rasulullah ﷺ sejak dini untuk menjadi manusia yang mampu bertahan dalam situasi tersulit. Ketika kita merasa hidup penuh ujian, ingatlah bahwa bahkan Nabi pun melewati fase sulit ini.

Minggu, 09 Februari 2025

Hikmah Al-Qur'an dalam Kehidupan: Refleksi dari Surah Al-A'raf: 52


 “Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan kepada mereka sebuah Kitab (Al-Qur'an) yang telah Kami jelaskan atas dasar pengetahuan Kami, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Surah Al-A'raf: 52)

Malam itu, Fadli duduk di ruang tamu kecilnya. Jam dinding menunjukkan pukul 10 malam, tetapi pikirannya terlalu gaduh untuk tidur. Ia baru saja kehilangan pekerjaannya, dan tabungannya menipis. Di meja kecil di hadapannya, Al-Qur'an tergeletak. Sudah berbulan-bulan ia tidak menyentuhnya, hanya menjadi penghias sudut ruangan.

Dalam keheningan malam, Fadli merasa panggilan dalam hatinya. Dengan ragu, ia membuka mushaf itu dan menemukan dirinya berada pada ayat Surah Al-A'raf: 52. Matanya tertumbuk pada kata-kata “Hudan wa Rahmah”—petunjuk dan rahmat. Ia berhenti sejenak, mencoba mencerna apa makna ayat ini untuk hidupnya yang sedang berantakan.

Kamis, 02 Januari 2025

Hidup dalam Harmoni: Belajar dari Surah Ali 'Imran: 134


Di sebuah sore, Fatimah duduk di depan rumahnya, memikirkan apa yang baru saja terjadi di pasar. Seorang pedagang muda tanpa sengaja menumpahkan minyak goreng ke pakaian Fatimah. Wajah Fatimah memerah, ingin sekali ia meluapkan amarahnya. Tapi ia teringat ayat yang pernah ia hafal:

"Orang-orang yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarah serta memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (Ali 'Imran: 134)

Fatimah menarik napas dalam-dalam. Ia menahan amarahnya, meskipun hatinya masih bergolak. Dengan senyuman, ia berkata kepada pedagang itu, "Tidak apa-apa, Nak. Lain kali lebih hati-hati, ya."

Kamis, 13 Februari 2020

Orang yang Rendah Hati akan Ditinggikan


Pagi itu, kami memutuskan untuk olahraga sambil menghirup udara segar sambil melihat matahari terbit. Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah jalur lintas yang menghubungkan Kota Bengkulu dengan Kabupaten Bengkulu Tengah.

Sekalipun seseorang telah mencapai #kebijaksanaan yang sempurna, seharusnya bisa bersikap tidak sombong dan lebih rendah hati, bagaikan batang padi yang semakin merunduk bila butir padinya makin berisi.

Kamis, 06 Februari 2020

Bersyukur


Syukuri yang sedikit
Agar Allah memberi Anda yang banyak

Sahabat yang baik, jika kita ingin bahagia dalam menjalani hidup ini, maka salah satu keterampilan yang harus kita miliki adalah keterampilan dalam #bersyukur.

Mengapa?

karena Alloh memberikan tambahan nikmat dan karunia kepada orang-orang yang paling banyak bersyukur bukan kepada orang yang memiliki banyak keinginan.

Baca juga: Bersyukur dan Impian

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"...Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambahkan (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azabku sangat pedih."
(Q.S Ibrahim 14 : 7)

Jadi yang mengundang bertambahnya nikmat dan karunia dari Alloh itu adalah #syukur.

Jadi jangan takut terhadap nikmat yang belum ada, tapi takutlah jika kita tidak bisa mensyukuri nikmat yang sudah ada karena karunia dari Alloh itu ada di setiap saat, hanya saja kita sering lupa untuk mensyukuri nikmat dan karunia tersebut.

Step by step and day by day, #success after success and failure after failure-- #Focus not on arriving at your destination, but on simply becoming better as you go.

Baca juga: Apapun yang Terjadi Bersyukurlah

Mudah-mudahan kita bisa menjadi orang yang senantiasa bersyukur kepada hal sekecil apapun.


Jumat, 23 Agustus 2019

Saat Semua Berpaling – Kisah Ka’ab bin Malik, Rodhiyallahu ‘Anhu #4


Kita sudah mengikuti penuturan kisah Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu dan penyikapannya untuk memilih jalan kejujuran dalam menyampaikan ketiadaan uzur yang dimilikinya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam karena tidak mengikuti perang Tabuk. Dirinya lebih memilih dimarahi oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam daripada dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Kisah #3)

Lalu kejujuran Ka’ab dipuji oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dengan sabdanya;
”Tentang orang ini, maka pembicaraannya memang benar – tidak berdusta. Oleh sebab itu bolehlah engkau berdiri sehingga Allah akan memberikan keputusannya tentang dirimu.”

Rabu, 14 Agustus 2019

Harta Kita yang Sesungguhnya


Ketika Rasulullah SAW bertanya kepada Aisyah tentang seekor kambing yang disembelih, apakah yang tersisa darinya Aisyah, Aisyah menjawab, “Tidak ada yang tersisa kecuali bagian bahunya.” Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tersisa seluruhnya kecuali bagian bahunya.” (HR. Muslim)

Ya, hanya bahu kambing saja yang akhirnya habis dimakan. Dikunyah, masuk ke kerongkongan hingga masuk ke lambung. Sedangkan bagian kambilng yang lain disedekahkan, ia kekal di sisi Allah.

Bagi Rasulullah, sedekah akan mendatangkan pahala yang banyak dan menjadi amal yang memperbesar timbangan kebaikan.

Kenapa Rasul bisa mengatakan yang disedekahkan akan kekal dan itulah milik mereka yang sebenarnya?

Rabu, 30 Januari 2019

Kisah Inspirasi Seorang Eka Tjipta Widjaya


Salah satu ciri khas seorang muslim dalam memandang adalah selalu mengambil pelajaran dari segala sesuatu. Ya mengambil hikmah dan sisi positif yang bisa dijadikan pelajaran hidup.


Dalam membangun bisnisnya, pria kelahiran Quanzhou, 27 Februari 1921 ini memiliki rahasia untuk mencapai kesuksesannya. Dalam filosofi kehidupannya, Eka Tjipta mengutamakan kejujuran dan kredibilitas di segala lini kehidupannya.

"Jujur, menjaga kredibilitas, tanggung jawab, baik terhadap keluarga, pekerjaan maupun terhadap sosial," ucap Eka Tjipta Widjaja seperti dikutip di situs resmi Sinar Mas.

Apa rahasia seorang yang hanya lulusan SD seperti Eka Tjipta bisa sukses?  

Senin, 07 Januari 2019

Waspadalah! Hukuman Bagi Anak Durhaka Akan Disegerakan di Dunia


“Diakan orangnya nakal, ibadahnya bolong-bolong, tapi kenapa rezekinya lancar ya?” demikian pertanyaan salah satu seorang teman beberapa waktu yang lalu.

Sebagian yang lain bertanya, “Kenapa ya, dia dikenal sebagai sosok yang baik, taat beragama, tetapi kehidupannya susah?”

Saya sengaja mengawali tulisan ini dengan dua pertanyaan di atas. Kenapa? Karena kita cenderung menilai seseorang dari luarnya. Padahal manusia memiliki dimensi kehidupan lain yang jarang kita ketahui.

Menjawab pertanyaan pertama, sebenarnya lancar atau seratnya rezeki bukanlah pertanda kasih sayang atau murka Allah kepada hamba-Nya. Akan tetapi, yang menjadi poin pentingnya adalah bagaimana ia menyikapi setiap kondisi yang hadir dalam teras kehidupannya. Apakah ia sosok yang mampu bersyukur ketika lapang dan bersabar ketika sempit?

Secara sederhana, dunia ini akan diberikan kepada orang yang Allah cintai dan tidak ia  cintai. Akan tetapi, nikmat agama hanya Allah berikan kepada orang yang Ia cintai.

Menjawab pertanyaan kedua, tentu berbicara dimensi rezeki  setiap orang hendaknya mengupayakan dengan aneka usaha yang baik dan halal menurut pandangan Allah. jika semua upaya sudah dikerahkan, lalu nasib belum juga berubah?

Pertanyaannya, benarkah usahanya sudah maksimal? Cara kerjanya diperbaiki? Dan yang terpenting sudahkah ia memperbaiki hubungannya kepada orang tuanya? Istri dan anak-anaknya (jika sudah berkeluarga)?

Kedua pertanyaan di atas sebenarnya memiliki keterkaitan erat pada satu simpulan pada topik yang ingin kita bahas saat ini, yaitu efek durhaka kepada orang tua.

Orang yang pertama, yang kelihatan nakal tadi bisa jadi sosok yang sangat santun, hormat, dan memuliakan orang tuanya. Sedangkan, sosok yang kedua (rajin ibadah), sering/ pernah menyakiti orang tuanya dengan goresan yang sangat dalam.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: كُلُّ الذُّنُوبِ يُؤَخِّرُ اللَّهُ تَعَالَى مِنْهَا مَا شَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، إِلَّا عُقُوقَ الْوَالِدَيْنِ ، فَإِنَّهُ يُعَجِّلُهُ لِصَاحِبِهِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا قَبْلَ
الْمَمَاتِ-الطبراني

Artinya: Rasulullah Shallallahun Alaihi Wasallam bersabada,”Setiap dosa-dosa, Allah Ta’ala mengakhirkan (balasannya), sebagaimana yang Dia kehendaki dari dosa-dosa itu hingga hari kiamat. Kecuali durhaka kepada kedua oranguanya, sesungguhnya Allah menyegerakan (balasan) nya bagi pelakunya saat hidup di dunia sebelum wafat.” (Riwayat At Thabarani dan Al Hakim, dishahihkan oleh Al Hakim dan As Suyuthi)

Al Munawi menyatakan bahwa Allah Ta’ala akan mengakhirkan balasan setiap dosa-dosa di hari kiamat. Maka di hari itu para pelakunya memperolah balasannya jika Allah menghendaki. Kecuali hukuman bagi siapa yang berbuat durhaka kepada kedua orangtua, yakni kedua orangtua kandung Muslim, maka Allah menyegerakannya hukuman di dunia.

Rabu, 28 November 2018

Dialog Dahysat Umar bin Abdul Aziz dan Putranya

Siang itu, saat qailulah (tidur siang menjelang dzuhur), Umar bin Abdul Aziz hendak merebahkan punggungnya sejenak. Ia belum lama dibaiat sebagai khalifah. Putranya, Abdul Malik yang masih sangat belia dan dikenal sholih serta ahli ilmu masuk menemui ayahnya itu, protes.

Abdul Malik berkata, “Wahai Amirul Mukminin, apa jawabanmu kelak di hadapan Rabb mu jika Dia bertanya kepadamu: kamu melihat bid’ah dan tidak kamu matikan atau sunnah dan tidak kamu hidupkan?

Umar Bin Abdul Aziz menjawab tenang, “Semoga Allah merahmatimu dan membalas kebaikanmu sebagai anak yang baik. Anakku, sesungguhnya masyarakatmu dulu telah melakukan semua itu seikat demi seikat hingga kuat sekali, maka kapan pun kamu hendak mencabutnya dari mereka, aku khawatir mereka akan membuat gaduh dan pertikaian hingga akan banyak pertumpahan darah.

Abdul Malik bertanya lagi, “Wahai ayah, apa yang menghalangimu untuk segera menegakkan keadilan seperti yang kau inginkan?”

Umar bin Abdul Aziz menjelaskan strateginya, “Wahai anakku, sesungguhnya aku ingin melatih dan mengajak masyarakat sebuah latihan yang sulit. Aku ingin menghidupkan keadilan, tapi aku akhirkan agar aku bisa mengeluarkannya bersamaan dengan sifat tamak terhadap dunia. Agar mereka lari dari ini dan masuk dengan tenang ke ini.”

Kamis, 25 Oktober 2018

Jadi Orang Sholeh sebelum Orang Kaya

Sebuah nasehat yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Apa nasehat itu?

Usahakan menjadi orang sholeh dulu sebelum menjadi orang kaya. Kalaupun kita akhirnya ditakdirkan tidak menjadi orang kaya maka kita tetap didalam keberkahan Allah swt karena kesholehan kita. Jangan bercita-cita menjadi orang kaya dulu baru mau menjadi orang sholeh karena belum tentu kekayaannya tersebut akan membawanya menuju kesholehan.

Sahabat, menjadi kaya mungkin naluri  dasar manusia. Banyak yang berlomba-lomba, bekerja siang dan malam untuk meraihnya. Akan tetapi, kita kadang terlupa. Bahwa dalam upaya meraih menjadi orang kaya itu kita banyak mengabaikan perintah-Nya. Maka nasehat, guru saya ini menjadi pengingat yang berharga. Hendaknya seseorang menjadi orang sholeh dulu sebelum menjadi orang kaya.

Jakarta, 14 Safar 1449 H | @riosaputranew

Rabu, 24 Oktober 2018

Tak Ada Rasa Aman Tanpa Keadilan


Seperti biasa, Abdullah bin Rawahah menunaikan tugasnya. Sahabat Rasulullah shalaullahhu ‘alaihi wassalam yang agung itu, setiap tahunnya pergi ke kampung orang-orang yahudi Bani Quraidhah untuk menghitung taksiran panen kurma.

Sesuai perjanjian, panen itu dibagi dua. Satu bagian untuk kaum muslimin di Madinah, dan setengahnya lagi untuk orang-orang yahudi itu.

Abdullah bin Rawahah terkenal kejeliannya dalam merinci taksiran hasil panen. Dari sana ia bisa membagi dengan sama kurma-kurma itu. Keadilan Abdullah bin Rawahah justru tidak disukai oleh orang-orang yahudi. Maka, suatu hari, mereka berusaha menyuap Abdullah bin Rawahah, agat bisa mendapatkan bagian kurma yg lebih banyak.

Mengetahui hal itu, Abdullah bin Rawahah marah Kepada orang-orang yahudi itu lalu berkata, "Wahai musuh-musuh Allah, kalian hendak menyodorkan makanan yang haram kpdaku ? Padahal demi Allah aku datang dari sisi orang yang paling kucintai (Rasulullah shalaullahhu ‘alaihi wassalam) dan kalian adalah orang-orang yang paling aku benci, lebih besar dari kebencianku terhadap kera dan babi. Tapi kebencianku kepada kalian dan kecintaanku kepada Rasulullah shalaullahhu ‘alaihi wassalam tidak mempengaruhiku untuk tidak berbuat adil terhadap kalian".

Baca juga: Al-Qur'an membawa kebenaran dan Keadilan

Orang-orang yahudi itu terdiam. Bahkan mereka kemudian memuji sikap Abdullah seraya berkata, "Karena perbuatan seperti inilah, maka langit dan bumi menjadi tegak".

Minggu, 30 September 2018

Semuanya Penting


Pada bulan ke-2 diawal kuliah saya, seorang Profesor memberikan quiz mendadak pada kami. Karena kebetulan cukup menyimak semua kuliah-kuliahnya, saya cukup cepat menyelesaikan soal-soal quiz, sampai pada soal yang terakhir. Isi Soal terakhir ini adalah :

Siapa nama depan wanita yang menjadi petugas pembersih sekolah ?

Saya yakin soal ini cuma "bercanda". Saya sering melihat perempuan ini. Tinggi, berambut gelap dan berusia sekitar 50-an, tapi bagaimana saya tahu nama depannya..?

Saya kumpulkan saja kertas ujian saya, tentu saja dengan jawaban soal terakhir kosong.

Sebelum kelas usai, seorang rekan bertanya pada Profesor itu, mengenai soal terakhir akan "dihitung" atau tidak.

"Tentu Saja Dihitung !!" kata si Profesor.

"Pada perjalanan karirmu, kamu akan ketemu banyak orang. Semuanya penting !.

Semua harus kamu perhatikan dan pelihara, walaupun itu cuma dengan sepotong senyuman, atau sekilas "hallo" !

Saya selalu ingat pelajaran itu. Saya kemudian tahu, bahwa nama depan ibu pembersih sekolah adalah "Dorothy".

***

Sahabat, ketika kita memandang seseorang yang dianggap rendah oleh orang lain. bisa saja, karena kedudukan/ profesinya, maka cobalah untuk melihat mereka dari sudut pandang yang berbeda. Mereka adalah sosok-sosok pahlawan bagi keluarganya, tulang punggung yang menjadi tumpuan hidup bagi orang-orang yang mencintainya, dan yang terpenting mereka adalah salah satu makhluk ciptaan-Nya.

Saya masih ingat salah satu sabda nabi “Carilah keridhaanku dengan berbuat baik kepada orang-orang lemah kalian, karena kalian diberi rezeki dan ditolong disebabkan orang-orang lemah kalian.”

Minggu, 12 Agustus 2018

Perempuan Tua itu "Hanya" Pembersih Masjid


Suatu siang, di msjd Nabawi, Madinah Munawwarah. Tidak seperti biasanya, Rasulullah shalaullahu ‘alaihi wassalam tampak kehilangan sesuatu. Sorot matanya melihat ke sudut-sudut masjid. Ia mencari sosok yang biasa ia lihat ada di masjidnya. Rasul shalaullahu ‘alaihi wassalam lantas bertanya kepada para sahabatnya, perihal perempuan tua yang biasa membersihkan masjid.

Para sahabat tampak heran dengan pertanyaan Rasul shalaullahu ‘alaihi wassalam Mereka tidak mengira sosok nenek tua itu mendapat perhatian besar dari Rasulullah shalaullahu ‘alaihi wassalam. Para sahabat lalu menyampaikan bahwa, perempuan itu telah meninggal dunia.

Rasul shalaullahu ‘alaihi wassalam, sang teladan, gusar dan bertanya heran kepada para sahabat, "Kenapa kalian tdk mengabariku"?

Para sahabat menjelaskan, "Dia meninggal di malam hari dan kami tidak ingin mengganggu engkau".

Seperti tersentak Rasulullah shalaullahu ‘alaihi wassalam mendengar berita duka itu. Jiwanya yang halus dan penyayang begitu tersentuh saat menerima berita bahwa, sosok permpuan tua yang biasa dijumpainya, kini telah menghadap Allah subhanahu wata’ala, tanpa sepengetahuannya. Rasul shalaullahu ‘alaihi wassalam segera meminta para sahabatnya, "Tunjukkan kepadaku kuburannya".

Siang itu, para sahabat bersama Rasulullah shalaullahu ‘alaihi wassalam pergi ke sebuah makam tempat perempuan tua itu disemayamkan, baru tadi malam. Rasulullah shalaullahu ‘alaihi wassalam lalu menshalatinya dan berdo'a untuknya (Shahih Bukhari dan Muslim).

Tanah dan pepasir makam permpuan tua itu menjadi saksi betapa kepedulian Rasulullah shalaullahu ‘alaihi wassalam terhadap sebuah jasa yang dianggap kecil oleh orang lain. Perhatian besar seorang utusan Allah subhanahu wata’ala, kepada jasa yang dianggap sepele oleh orang lain.

Senin, 06 Agustus 2018

Berbaik Sangka


Zaman teknologi seperti saat ini, manusia sulit sekali terlepas dari gawai. Hampir setiap waktu gawai selalu dekat dan menghiasi kehidupan manusia. Beberapa yang lain, memutuskan untuk tidak menggunakan gawai sama sekali. Tentu ini keputusan yang langka. Tapi saya tetap menemukan ada saja orang seperti ini.

Problem yang muncul dalam kehidupan di sosial media adalah kita banyak sekali melihat/ membaca postingan sahabat, teman, atau kolega kita. Postingan itu tidak jarang dianggap oleh sebagian pamer, ingin menunjukkan eksistensinya, dan berbagai prasangka-prasangka buruk lainnya. Yang lebih menyedihkan, sebagian kelompok menudik kelompok/ orang tertentu dengan tuduhan-tuduhan yang tidak beralasan.

Saya selalu ingat pesan guru saya, “Kita hanya menilai seseorang dari yang tampak, tapi tidak bisa menilai kondisi hatinya”. Dengan kata lain, jika dibahasakan ulang,

“Kita tidak bisa membaca hati manusia, apalagi hanya dari dunia maya.”

Belum tentu orang yang menuliskan rutinitas amalnya adalah riya’. Bisa jadi ia berniat menyemangati kawannya.

Belum tentu orang yang mengabarkan rezeki yang diterimanya adalah berbangga-banggaan dengan harta. Bisa jadi, ia ingin menyiarkan syukur atas karunia-Nya.

Mereka yang menuliskan pengalamannya di sosial media, belum tentu ingin menjadi selebritis dunia maya. Bisa jadi ada inspirasi yang hendak dibagikannya.

Mereka yang mengabarkan sedang mengisi kultum entah di mana, belum tentu ingin dipuji amal dakwahnya. Bisa jadi ia ingin memberi harapan pada rekannya, bahwa di sana dakwah masih menyala.

Mereka yang menyampaikan secuplik ilmu yang diketahuinya, belum tentu ingin diakui banyak ilmunya. Bisa jadi ia terpanggil untuk menyampaikan sedikit yang ia punya.

Mereka yang gemar mengkritisi kekeliruan yang dilihatnya, belum tentu merasa dirinya paling benar sedunia. Bisa jadi, itu karena ia sungguh mencintai saudaranya.

Mereka yang gemar menuliskan apapun yang dipikirkannya, belum tentu ingin diakui sebagai perenung berwibawa. Bisa jadi, ia adalah pelupa, dan mudah ingat dengan membagikannya.

Mereka yang selalu merespon apa yang dilihatnya, belum tentu ingin eksis di dunia maya. Bisa jadi ia memang senang berbagi yang dia punya.

Mereka yang selalu membagikan nasehat, konten positif di grup atau medsos mereka bukan berarti mereka sedang menganggur. Tapi, mereka ingat akan saudaranya yang harus mendapatkan hal positif.

Mereka yang tidak merespon kiriman-kirimanmu bukan berarti mereka tidak membaca dan tidak mau merespon, tapi mereka sedang merenungi dan mencoba untuk mengamalkan.

Isi hati adalah misteri, maka baik sangka lebih terpuji. Tapi baik sangka, tak berarti membiarkan kawan-kawan melakukan sesuatu yang nampak keliru di mata kita.

Baik sangka, harus disertai dengan saling mengingatkan agar tidak tergelincir niatnya, agar tidak terhapus pahala amalnya.

Apa yang nampak keliru di mata kita, disitulah tugas kita untuk meluruskannya.

Baik sangka itu menentramkan, Saling mengingatkan juga merupakan kebutuhan.

Baik sangka itu indah, tapi bukan berarti membiarkan saudara terlihat salah.

Baik sangka, dan nasehat-menasehati adalah kewajiban sesama muslim

Semoga kita bisa senantiasa belajar bersama. Selamat berbaik sangka.

Semoga bermanfaat dan tetap semangat Untuk menggapai keridhohan-Nya.

Baca juga: Berprasangka Baik

Jakarta, 24 Dzulqoidah 1439 H
RSP