Kamis, 29 Oktober 2026

Sains Berjiwa: Ketika Sastra dan Ilmu Pengetahuan Bertemu


Refleksi dari Seminar Internasional Bulan Bahasa Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Apakah seorang ilmuwan cukup hanya menjadi pintar? Atau ia juga perlu memiliki kepekaan untuk memahami manusia di balik ilmu pengetahuan yang dikembangkannya?

Pertanyaan ini muncul dalam perenungan saya setelah mengikuti sebuah kegiatan yang menarik kemarin, 28 Oktober 2026.

Saya berkesempatan mengikuti Seminar Internasional dalam rangka Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Bengkulu.

Ada satu gagasan dari pemaparan pemateri yang menarik perhatian saya. Sebuah konsep yang sederhana, tetapi menyimpan makna mendalam tentang pendidikan, penelitian, dan masa depan ilmu pengetahuan.

Sains Berjiwa.

Dalam salah satu slide presentasi Mella Sarah Elmania, terdapat sebuah judul yang cukup menggugah: Sastra sebagai Pondasi Cara Berpikir Ilmuwan.

Selama ini, kita mungkin terbiasa menempatkan sastra dan sains dalam dua dunia yang berbeda. Sastra dianggap sebagai wilayah imajinasi, perasaan, kreativitas, dan bahasa. Sementara itu, sains dipandang sebagai dunia angka, data, metode, eksperimen, dan logika.

Seolah-olah keduanya berjalan di jalur masing-masing.

Namun, bagaimana jika justru ada sesuatu yang penting ketika keduanya dipertemukan?

Bagaimana jika sastra bukan sekadar pelengkap ilmu pengetahuan, melainkan salah satu jalan untuk membentuk cara berpikir seorang ilmuwan?

Dan lebih jauh lagi, bagaimana jika kemajuan ilmu pengetahuan tidak cukup hanya diukur dari kecanggihan penemuannya, tetapi juga dari kemampuannya memahami dan memberi manfaat bagi kehidupan manusia?

Rabu, 28 Oktober 2026

Makna Sabar dalam Islam: Pengertian, Hakikat, dan Cara Melatihnya dalam Kehidupan Sehari-hari


Dalam kajian ini, Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri menekankan bahwa fondasi agama pada dasarnya kembali kepada dua pilar besar: syukur dan sabar. Bahkan, syukur pun tidak selalu mudah, ia sering menuntut kesabaran agar nikmat tidak berubah menjadi sebab lalai, sombong, atau berlebihan. Karena itu, sabar bukan sekadar kalimat penghibur seperti “sabar ya”, tetapi sebuah ilmu dan keterampilan yang perlu dipelajari secara rinci supaya bisa diamalkan tepat pada situasi nyata.

Selasa, 27 Oktober 2026

Tadabbur QS. Az-Zumar Ayat 7: Allah Tidak Membutuhkan Ibadah Kita


Pernahkah kita merasa kecewa ketika kebaikan yang kita lakukan tidak dihargai?

Kita sudah berusaha membantu seseorang, tetapi tidak mendapat ucapan terima kasih. Kita bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi orang lain yang memperoleh pujian. Kita berbagi pengetahuan, meluangkan waktu, bahkan mengorbankan kepentingan pribadi, tetapi semua itu seolah berlalu tanpa ada yang memperhatikan.

Lalu muncul perasaan yang mungkin tidak selalu berani kita akui.

Mengapa tidak ada yang menghargai usaha saya?

Pertanyaan seperti ini sangat manusiawi. Kita ingin dihargai, diakui, dan merasa bahwa apa yang kita lakukan memiliki arti.

Namun, pernahkah kita memikirkan pertanyaan yang lebih dalam?

Jika tidak ada seorang pun yang mengetahui kebaikan kita, apakah kita masih bersedia melakukannya?

Senin, 26 Oktober 2026

Etos Kerja Kader Muhammadiyah: Dari Nilai Menjadi Amal, dari Amanah Menjadi Karya




Ada satu pertanyaan sederhana yang saya ajukan kepada mahasiswa di awal sesi:

“Siapa diri kita ketika tidak ada yang mengawasi?”

Pertanyaan itu sengaja saya pilih untuk membuka materi “Etos Kerja Kader Muhammadiyah” dalam kegiatan Baitul Arqam Mahasiswa.

Saya tidak langsung memulai dengan definisi etos kerja. Bagi saya, etos kerja justru lebih mudah dipahami melalui hal-hal sederhana yang sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa.

Misalnya soal deadline.

Saya bertanya, “Siapa yang pernah mendapat tugas dua minggu, tetapi baru benar-benar serius mengerjakannya dua jam sebelum deadline?”

Beberapa tangan terangkat. Sebagian tertawa.

Saya lanjutkan, “Mahasiswa memang punya kemampuan luar biasa. Waktu dua minggu bisa dipadatkan menjadi dua jam.”

Ketika Anak TK Menjadi Jalan Hidayah Ayahnya: Kisah dari Subuh di Masjid



Kadang Allah menghadirkan jalan pulang melalui seseorang yang bahkan belum cukup dewasa untuk memahami betapa besar pengaruh tindakannya.

Ada satu kisah yang saya bawa pulang dari kajian Subuh Ahad pagi di Masjid Raya Baitul Izzah, Provinsi Bengkulu. Bukan tentang materi kajian yang disampaikan, melainkan tentang seorang jamaah yang saya temui setelahnya.

Seperti biasa, setiap Ahad pagi saya berusaha mengikuti kajian Subuh di masjid tersebut. Ada kebahagiaan tersendiri bisa memulai hari dengan duduk bersama orang-orang yang ingin belajar dan mendekatkan diri kepada Allah.

Selepas kajian, biasanya para jamaah dipersilakan menikmati makanan dan minuman yang telah disediakan di bagian belakang masjid. Sebuah kebiasaan sederhana yang menambah kehangatan suasana, sekaligus menjadi kesempatan untuk saling mengenal.

Namun, pagi itu saya tidak langsung beranjak.

Seorang jamaah mendekat, dan kami pun berbincang.

Beliau ternyata datang dari Sukaraja, sebuah daerah di Kabupaten Seluma. Dari Kota Bengkulu, perjalanan menuju daerah tersebut kira-kira membutuhkan waktu 30–40 menit, tergantung titik keberangkatan dan kondisi jalan.

Saya membayangkan, untuk bisa hadir mengikuti kajian selepas Subuh, tentu ada kesungguhan yang perlu dijaga. Bangun lebih awal, mempersiapkan diri, kemudian menempuh perjalanan menuju masjid.

Percakapan kami berkembang ke berbagai hal. Namun, dari semua yang beliau ceritakan, ada satu kisah yang paling membekas dalam pikiran saya.

Kisah tentang bagaimana seorang anak kecil menjadi jalan bagi ayahnya untuk kembali kepada Allah.

Rabu, 21 Oktober 2026

Journaling, Bernapas, dan Berkomunikasi



Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah unggahan di Threads.

Seorang perempuan bercerita tentang masa berat yang sedang ia alami. Ia kemudian menemui seorang psikolog. Dari cerita yang ia bagikan, ada sesuatu yang menarik perhatian saya.

Setelah datang membawa persoalan hidup yang begitu kompleks, saran yang ia terima terdengar sangat sederhana:

Journaling.

Mengatur cara bernapas.

Komunikasi.

Saya tidak mengetahui keseluruhan konteks konsultasinya. Saya juga tidak tahu apa yang sebenarnya dibicarakan dalam ruang terapi, bagaimana psikolog tersebut melakukan asesmen, atau apakah ada intervensi lain yang tidak diceritakan dalam unggahan itu.

Karena itu, tulisan ini bukan untuk menilai psikolog tersebut.

Justru unggahan itu membuat saya memikirkan pertanyaan yang berbeda:

Mengapa ketika masalah kita terasa sangat berat, kita sering mengharapkan solusi yang juga terdengar rumit?

Minggu, 11 Oktober 2026

Ketika Setan Datang dari Segala Arah: Tadabbur QS. Al-A'raf Ayat 17 tentang Godaan, Keikhlasan, dan Syukur



Pernahkah kita merasa sedang berada di jalan yang benar, tetapi tanpa sadar hati justru mulai menjauh dari Allah?

Kita masih salat. Masih bekerja dengan baik. Masih belajar, mengajar, membantu orang lain, bahkan mungkin aktif mengajak orang berbuat kebaikan.

Dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja.

Namun, bagaimana jika di balik semua kebaikan itu perlahan tumbuh keinginan untuk dipuji? Bagaimana jika ilmu yang kita miliki justru membuat kita semakin sulit menerima nasihat? Atau bagaimana jika kesibukan mengejar sesuatu yang baik ternyata membuat kita semakin sering menunda kewajiban kepada Allah?