Pernahkah kita terlibat dalam sebuah diskusi, lalu di tengah percakapan menyadari bahwa kita sebenarnya sudah tidak lagi mencari kebenaran?
Kita hanya ingin menang.
Kita mendengar lawan bicara, tetapi bukan untuk memahami. Kita mendengarkan sambil menyiapkan jawaban. Ketika muncul informasi yang mendukung pendapat kita, kita menerimanya dengan mudah. Tetapi ketika datang bukti yang menggoyahkan keyakinan kita, tiba-tiba standar pembuktiannya menjadi jauh lebih tinggi.
Menariknya, Al-Qur'an berbicara tentang kecenderungan manusia ini jauh sebelum kita mengenal istilah confirmation bias, motivated reasoning, atau intellectual humility.
QS. Al-Kahf ayat 54 menghadirkan sebuah paradoks.
وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِن كُلِّ مَثَلٍ ۚ وَكَانَ الْإِنسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا
"Dan sungguh, dalam Al-Qur'an ini Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia dengan bermacam-macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah."
QS. Al-Kahf: 54
Allah telah menjelaskan kebenaran dengan berbagai cara.
Namun manusia tetap saja suka membantah.
Pertanyaannya kemudian bukan hanya: apakah kita sudah mendapatkan penjelasan?
Pertanyaan yang lebih dalam adalah:
apakah hati kita masih bersedia menerima kebenaran ketika kebenaran itu tidak sesuai dengan apa yang ingin kita percayai?