Kamis, 05 November 2026

Dua Ketimpangan yang Menentukan Kehidupan: Pengetahuan dan Keberanian


Ada sesuatu yang sejak lama mengusik pikiran saya ketika memperhatikan kehidupan manusia. Mengapa orang-orang yang hidup dalam masyarakat yang sama bisa memiliki pencapaian yang begitu berbeda? Mengapa ada orang yang mampu melihat peluang ketika orang lain hanya melihat kesulitan? Mengapa sebagian orang terus berkembang, sementara sebagian lainnya seolah berjalan di tempat?

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa saya pada sebuah pemikiran sederhana: barangkali ada dua ketimpangan yang sering luput dari perhatian kita, yaitu ketimpangan pengetahuan dan ketimpangan keberanian.

Kita terbiasa membicarakan ketimpangan ekonomi, pendidikan, teknologi, dan kesempatan. Kita melihat ada orang yang kaya dan miskin, berpendidikan tinggi dan rendah, memiliki akses luas dan terbatas.

Namun, di balik perbedaan tersebut, saya melihat persoalan lain yang tidak kalah penting. Tidak semua orang mengetahui hal yang sama. Dan bahkan ketika mereka mengetahui sesuatu, tidak semua orang memiliki keberanian yang sama untuk menjadikannya tindakan nyata.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa pengetahuan dan keberanian merupakan satu-satunya penentu keberhasilan. Kehidupan tentu jauh lebih kompleks. Ada pengaruh keluarga, lingkungan, kesempatan, modal, kekuasaan, bahkan keberuntungan.

Tetapi semakin saya merenungkannya, semakin saya merasa bahwa dua hal ini layak mendapat perhatian lebih serius.

Sabtu, 31 Oktober 2026

Tadabbur QS. Az-Zumar Ayat 53: Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah


Pernahkah seseorang merasa bahwa dosa-dosanya sudah terlalu banyak untuk diampuni? Ia ingin berubah, tetapi masa lalunya terus menghantui. Ia ingin mendekat kepada Allah, tetapi muncul perasaan bahwa dirinya sudah terlalu jauh. Bahkan, mungkin ia mulai bertanya dalam hati, apakah masih ada kesempatan baginya untuk kembali?

Ada perbedaan besar antara dua pernyataan: Saya telah melakukan kesalahan dan Saya sudah tidak pantas lagi menjadi orang baik.

Pernyataan pertama mengakui kenyataan. Pernyataan kedua seolah-olah menjatuhkan vonis terhadap seluruh masa depan.

Sayangnya, tidak sedikit orang yang terjebak dalam perasaan semacam itu. Mereka bukan hanya terbebani oleh kesalahan yang pernah dilakukan, tetapi juga kehilangan keyakinan bahwa hidupnya masih bisa diperbaiki.

Padahal, ada satu ayat Al-Qur'an yang memberikan jawaban sangat kuat terhadap kegelisahan tersebut.

Kamis, 29 Oktober 2026

Sains Berjiwa: Ketika Sastra dan Ilmu Pengetahuan Bertemu


Refleksi dari Seminar Internasional Bulan Bahasa Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Apakah seorang ilmuwan cukup hanya menjadi pintar? Atau ia juga perlu memiliki kepekaan untuk memahami manusia di balik ilmu pengetahuan yang dikembangkannya?

Pertanyaan ini muncul dalam perenungan saya setelah mengikuti sebuah kegiatan yang menarik kemarin, 28 Oktober 2026.

Saya berkesempatan mengikuti Seminar Internasional dalam rangka Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Bengkulu.

Ada satu gagasan dari pemaparan pemateri yang menarik perhatian saya. Sebuah konsep yang sederhana, tetapi menyimpan makna mendalam tentang pendidikan, penelitian, dan masa depan ilmu pengetahuan.

Sains Berjiwa.

Dalam salah satu slide presentasi Mella Sarah Elmania, terdapat sebuah judul yang cukup menggugah: Sastra sebagai Pondasi Cara Berpikir Ilmuwan.

Selama ini, kita mungkin terbiasa menempatkan sastra dan sains dalam dua dunia yang berbeda. Sastra dianggap sebagai wilayah imajinasi, perasaan, kreativitas, dan bahasa. Sementara itu, sains dipandang sebagai dunia angka, data, metode, eksperimen, dan logika.

Seolah-olah keduanya berjalan di jalur masing-masing.

Namun, bagaimana jika justru ada sesuatu yang penting ketika keduanya dipertemukan?

Bagaimana jika sastra bukan sekadar pelengkap ilmu pengetahuan, melainkan salah satu jalan untuk membentuk cara berpikir seorang ilmuwan?

Dan lebih jauh lagi, bagaimana jika kemajuan ilmu pengetahuan tidak cukup hanya diukur dari kecanggihan penemuannya, tetapi juga dari kemampuannya memahami dan memberi manfaat bagi kehidupan manusia?

Rabu, 28 Oktober 2026

Makna Sabar dalam Islam: Pengertian, Hakikat, dan Cara Melatihnya dalam Kehidupan Sehari-hari


Dalam kajian ini, Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri menekankan bahwa fondasi agama pada dasarnya kembali kepada dua pilar besar: syukur dan sabar. Bahkan, syukur pun tidak selalu mudah, ia sering menuntut kesabaran agar nikmat tidak berubah menjadi sebab lalai, sombong, atau berlebihan. Karena itu, sabar bukan sekadar kalimat penghibur seperti “sabar ya”, tetapi sebuah ilmu dan keterampilan yang perlu dipelajari secara rinci supaya bisa diamalkan tepat pada situasi nyata.

Selasa, 27 Oktober 2026

Tadabbur QS. Az-Zumar Ayat 7: Allah Tidak Membutuhkan Ibadah Kita


Pernahkah kita merasa kecewa ketika kebaikan yang kita lakukan tidak dihargai?

Kita sudah berusaha membantu seseorang, tetapi tidak mendapat ucapan terima kasih. Kita bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi orang lain yang memperoleh pujian. Kita berbagi pengetahuan, meluangkan waktu, bahkan mengorbankan kepentingan pribadi, tetapi semua itu seolah berlalu tanpa ada yang memperhatikan.

Lalu muncul perasaan yang mungkin tidak selalu berani kita akui.

Mengapa tidak ada yang menghargai usaha saya?

Pertanyaan seperti ini sangat manusiawi. Kita ingin dihargai, diakui, dan merasa bahwa apa yang kita lakukan memiliki arti.

Namun, pernahkah kita memikirkan pertanyaan yang lebih dalam?

Jika tidak ada seorang pun yang mengetahui kebaikan kita, apakah kita masih bersedia melakukannya?

Senin, 26 Oktober 2026

Etos Kerja Kader Muhammadiyah: Dari Nilai Menjadi Amal, dari Amanah Menjadi Karya




Ada satu pertanyaan sederhana yang saya ajukan kepada mahasiswa di awal sesi:

“Siapa diri kita ketika tidak ada yang mengawasi?”

Pertanyaan itu sengaja saya pilih untuk membuka materi “Etos Kerja Kader Muhammadiyah” dalam kegiatan Baitul Arqam Mahasiswa.

Saya tidak langsung memulai dengan definisi etos kerja. Bagi saya, etos kerja justru lebih mudah dipahami melalui hal-hal sederhana yang sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa.

Misalnya soal deadline.

Saya bertanya, “Siapa yang pernah mendapat tugas dua minggu, tetapi baru benar-benar serius mengerjakannya dua jam sebelum deadline?”

Beberapa tangan terangkat. Sebagian tertawa.

Saya lanjutkan, “Mahasiswa memang punya kemampuan luar biasa. Waktu dua minggu bisa dipadatkan menjadi dua jam.”

Ketika Anak TK Menjadi Jalan Hidayah Ayahnya: Kisah dari Subuh di Masjid



Kadang Allah menghadirkan jalan pulang melalui seseorang yang bahkan belum cukup dewasa untuk memahami betapa besar pengaruh tindakannya.

Ada satu kisah yang saya bawa pulang dari kajian Subuh Ahad pagi di Masjid Raya Baitul Izzah, Provinsi Bengkulu. Bukan tentang materi kajian yang disampaikan, melainkan tentang seorang jamaah yang saya temui setelahnya.

Seperti biasa, setiap Ahad pagi saya berusaha mengikuti kajian Subuh di masjid tersebut. Ada kebahagiaan tersendiri bisa memulai hari dengan duduk bersama orang-orang yang ingin belajar dan mendekatkan diri kepada Allah.

Selepas kajian, biasanya para jamaah dipersilakan menikmati makanan dan minuman yang telah disediakan di bagian belakang masjid. Sebuah kebiasaan sederhana yang menambah kehangatan suasana, sekaligus menjadi kesempatan untuk saling mengenal.

Namun, pagi itu saya tidak langsung beranjak.

Seorang jamaah mendekat, dan kami pun berbincang.

Beliau ternyata datang dari Sukaraja, sebuah daerah di Kabupaten Seluma. Dari Kota Bengkulu, perjalanan menuju daerah tersebut kira-kira membutuhkan waktu 30–40 menit, tergantung titik keberangkatan dan kondisi jalan.

Saya membayangkan, untuk bisa hadir mengikuti kajian selepas Subuh, tentu ada kesungguhan yang perlu dijaga. Bangun lebih awal, mempersiapkan diri, kemudian menempuh perjalanan menuju masjid.

Percakapan kami berkembang ke berbagai hal. Namun, dari semua yang beliau ceritakan, ada satu kisah yang paling membekas dalam pikiran saya.

Kisah tentang bagaimana seorang anak kecil menjadi jalan bagi ayahnya untuk kembali kepada Allah.