Rabu, 19 Agustus 2026

Siapa yang Diam-Diam Sedang Membentuk Hati Kita?

Lingkaran pertemanan yang saling mengingatkan dalam kebaikan dan keridaan Allah QS Al-Kahf 28
Lingkaran pertemanan yang saling mengingatkan dalam kebaikan dan keridaan Allah QS Al-Kahf 28


Pernah ada satu masa ketika seseorang merasa hidupnya baik-baik saja. Ia masih shalat, masih mengingat Allah, dan masih memiliki keinginan tulus untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Tetapi perlahan, ada sesuatu yang berubah.

Bukan karena ia tiba-tiba membenci agamanya. Bukan pula karena ia sengaja berniat menjauh dari Allah. Ia hanya mulai lebih sering berada di lingkungan yang berbeda.

Obrolannya mulai bergeser. Dulu, ia merasa tenang ketika berbincang tentang ilmu, kehangatan keluarga, kekhusyukan ibadah, dan ikhtiar memperbaiki diri. Sekarang, topik pembicaraan lebih sering berputar pada siapa yang penghasilannya paling fantastis, siapa yang rumahnya paling megah, siapa yang kariernya melesat paling cepat, siapa yang gaya liburannya paling mewah, dan siapa yang paling banyak menuai sorotan.

Awalnya tidak ada yang terasa salah. Semuanya tampak wajar dan lumrah.

Sampai pada suatu hari, ia menyadari sebuah pergeseran dalam batinnya: ia mulai gemar membandingkan hidupnya dengan pencapaian orang lain.

Apa yang dulu terasa cukup, kini terasa kurang. Apa yang dulu disyukuri dengan tulus, kini dipandang biasa saja. Dan apa yang dulu paling ia takuti, kehilangan kedekatan dengan Allah, perlahan justru tidak lagi terasa mencemaskan.

Begitulah cara hati berubah. Sering kali bukan terjadi dalam satu malam, melainkan tergerus sedikit demi sedikit: melalui apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, dan terutama melalui siapa yang senantiasa hadir mengisi hari-hari kita.

Senin, 17 Agustus 2026

Membongkar 7 Jebakan Mental yang Diam-Diam Mengontrol Hidupmu

Ilustrasi jebakan mental dan cara kerja otak manusia

Pernahkah kamu mengambil keputusan yang rasanya sudah dipikirkan matang-matang, tapi ujung-ujungnya disesali? Atau mungkin kamu sering terjebak membeli barang diskon yang sebenarnya tidak kamu butuhkan?

Jika ya, kamu tidak sendirian. Faktanya, otak kita diam-diam sering menyabotase diri kita sendiri.

Dalam buku legendaris Thinking, Fast and Slow, pemenang Nobel Ekonomi, Daniel Kahneman, membongkar rahasia cara kerja otak manusia. Setelah puluhan tahun melakukan penelitian bersama sahabatnya, Amos Tversky, Kahneman menyimpulkan satu hal mengejutkan: manusia itu tidak rasional, pemalas, dan penuh cacat logika.

Mari kita bedah apa saja jebakan mental (bias kognitif) yang setiap hari mengontrol hidup kita, dan bagaimana cara melawannya.

Sabtu, 15 Agustus 2026

Mengenal Diri Sendiri dan Menentukan Arah Hidup: Perspektif Islam tentang Pengembangan Diri



Ada orang yang menjalani hidup seperti berjalan di sebuah jalan panjang tanpa benar-benar tahu ke mana arah yang dituju. Ia terus bergerak, bekerja, belajar, mengejar pencapaian, bahkan terlihat sukses di mata orang lain. Namun, di dalam dirinya masih muncul satu pertanyaan sederhana:

“Sebenarnya saya ingin menjadi siapa?”

Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, jawabannya dapat menentukan banyak hal dalam kehidupan.

Jim Rohn mengatakan:

“Positive self-direction says, ‘I know who I am and I know where I want to go.’

Secara sederhana, pesan tersebut dapat dimaknai bahwa arah hidup yang positif dimulai dari kemampuan mengenali siapa diri kita dan mengetahui ke mana kita ingin pergi.

Jumat, 14 Agustus 2026

Ketika Guru Dirumahkan: Apakah Sekolah Kehilangan Guru Terbaik atau Guru Kehilangan Ruang untuk Bertumbuh?



Polemik guru yang dirumahkan di Bengkulu kembali mengingatkan kita pada satu persoalan penting dalam dunia pendidikan: bagaimana seharusnya sekolah dan yayasan memperlakukan guru yang telah mengabdikan dirinya selama bertahun-tahun?

Belakangan ini, masyarakat Bengkulu ramai memperbincangkan persoalan sejumlah guru di sebuah lembaga pendidikan Islam yang disebut telah lama mengabdi, tetapi kemudian tidak lagi mengajar. Di satu sisi, muncul narasi bahwa guru tersebut telah diberhentikan dan mempertanyakan hak setelah hubungan kerja berakhir.

Di sisi lain, pihak yayasan menyatakan bahwa tidak ada pemecatan. Istilah yang digunakan adalah guru tersebut “dirumahkan”.

Perbedaan istilah inilah yang kemudian menimbulkan pertanyaan publik.

Apakah “dirumahkan” sama dengan dipecat?

Apakah guru yang tidak lagi diperbolehkan mengajar tetapi tidak menerima surat pemutusan hubungan kerja dapat disebut telah mengalami PHK?

Dan yang lebih penting: ketika seorang guru telah mengabdi selama bertahun-tahun, apakah persoalannya cukup diselesaikan hanya dengan mengatakan bahwa hubungan kerja sudah tidak dilanjutkan?

Visi Al-Qur’an Menjawab Tantangan Zaman



Saya menonton pengajian tematik bertajuk “Visi Al-Qur’an Menjawab Tantangan Zaman”, hasil ikhtiar Universitas Islam Indonesia (UII) bersama Pusat Studi Al-Qur’an. Dalam ruang yang penuh adab dan keheningan, hadir dua sosok ulama dengan kedalaman ilmu dan kejernihan hikmah: Gus Baha dan Prof. Quraish Shihab, yang menuntun jamaah menapaki jalan pemahaman Al-Qur’an dengan cara yang membumi sekaligus melangit.

Dalam tausiyahnya, Gus Baha berbicara dengan kesederhanaan yang menembus relung nurani. Ia mengingatkan bahwa agama tidak semata berdiri di atas ritual besar yang tampak, melainkan pada kewajiban dasar, fardu ain, yang sering luput dari perhatian. Ia memuliakan peran kiai kampung, orang-orang kecil, mereka yang mungkin tak dikenal, tetapi setia menunaikan kewajiban agama dan sosial secara nyata. 

Sabtu, 08 Agustus 2026

Dari Bengkulu ke Dunia, 2.300 Calon Mahasiswa dari 40 Negara Ingin Kuliah di UM Bengkulu


Siapa sangka, Bengkulu yang berada di pesisir barat Pulau Sumatra kini mulai dilirik anak-anak muda dari berbagai penjuru dunia untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Bukan puluhan atau ratusan, jumlahnya sudah menembus 2.300 pendaftar dari 40 negara yang ingin menjadi bagian dari Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UM Bengkulu).

Angka itu bukan sekadar deretan statistik. Di baliknya ada ribuan anak muda dengan bahasa, budaya, dan latar belakang yang berbeda, tetapi memiliki satu tujuan yang sama: mencari kesempatan belajar di Indonesia. Dan menariknya, pilihan mereka jatuh pada sebuah kampus di Bengkulu.

Ketika Perasaan Menjadi Tuhan


Di zaman sekarang, kita sering mendengar istilah-istilah psikologi populer seperti toxic, gaslighting, narcissist, atau trauma. Kata-kata ini muncul di media sosial, di ruang diskusi, bahkan dalam percakapan keluarga sehari-hari.