Senin, 26 Oktober 2026

Etos Kerja Kader Muhammadiyah: Dari Nilai Menjadi Amal, dari Amanah Menjadi Karya




Ada satu pertanyaan sederhana yang saya ajukan kepada mahasiswa di awal sesi:

“Siapa diri kita ketika tidak ada yang mengawasi?”

Pertanyaan itu sengaja saya pilih untuk membuka materi “Etos Kerja Kader Muhammadiyah” dalam kegiatan Baitul Arqam Mahasiswa.

Saya tidak langsung memulai dengan definisi etos kerja. Bagi saya, etos kerja justru lebih mudah dipahami melalui hal-hal sederhana yang sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa.

Misalnya soal deadline.

Saya bertanya, “Siapa yang pernah mendapat tugas dua minggu, tetapi baru benar-benar serius mengerjakannya dua jam sebelum deadline?”

Beberapa tangan terangkat. Sebagian tertawa.

Saya lanjutkan, “Mahasiswa memang punya kemampuan luar biasa. Waktu dua minggu bisa dipadatkan menjadi dua jam.”

Ketika Anak TK Menjadi Jalan Hidayah Ayahnya: Kisah dari Subuh di Masjid



Kadang Allah menghadirkan jalan pulang melalui seseorang yang bahkan belum cukup dewasa untuk memahami betapa besar pengaruh tindakannya.

Ada satu kisah yang saya bawa pulang dari kajian Subuh Ahad pagi di Masjid Raya Baitul Izzah, Provinsi Bengkulu. Bukan tentang materi kajian yang disampaikan, melainkan tentang seorang jamaah yang saya temui setelahnya.

Seperti biasa, setiap Ahad pagi saya berusaha mengikuti kajian Subuh di masjid tersebut. Ada kebahagiaan tersendiri bisa memulai hari dengan duduk bersama orang-orang yang ingin belajar dan mendekatkan diri kepada Allah.

Selepas kajian, biasanya para jamaah dipersilakan menikmati makanan dan minuman yang telah disediakan di bagian belakang masjid. Sebuah kebiasaan sederhana yang menambah kehangatan suasana, sekaligus menjadi kesempatan untuk saling mengenal.

Namun, pagi itu saya tidak langsung beranjak.

Seorang jamaah mendekat, dan kami pun berbincang.

Beliau ternyata datang dari Sukaraja, sebuah daerah di Kabupaten Seluma. Dari Kota Bengkulu, perjalanan menuju daerah tersebut kira-kira membutuhkan waktu 30–40 menit, tergantung titik keberangkatan dan kondisi jalan.

Saya membayangkan, untuk bisa hadir mengikuti kajian selepas Subuh, tentu ada kesungguhan yang perlu dijaga. Bangun lebih awal, mempersiapkan diri, kemudian menempuh perjalanan menuju masjid.

Percakapan kami berkembang ke berbagai hal. Namun, dari semua yang beliau ceritakan, ada satu kisah yang paling membekas dalam pikiran saya.

Kisah tentang bagaimana seorang anak kecil menjadi jalan bagi ayahnya untuk kembali kepada Allah.

Rabu, 21 Oktober 2026

Journaling, Bernapas, dan Berkomunikasi



Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah unggahan di Threads.

Seorang perempuan bercerita tentang masa berat yang sedang ia alami. Ia kemudian menemui seorang psikolog. Dari cerita yang ia bagikan, ada sesuatu yang menarik perhatian saya.

Setelah datang membawa persoalan hidup yang begitu kompleks, saran yang ia terima terdengar sangat sederhana:

Journaling.

Mengatur cara bernapas.

Komunikasi.

Saya tidak mengetahui keseluruhan konteks konsultasinya. Saya juga tidak tahu apa yang sebenarnya dibicarakan dalam ruang terapi, bagaimana psikolog tersebut melakukan asesmen, atau apakah ada intervensi lain yang tidak diceritakan dalam unggahan itu.

Karena itu, tulisan ini bukan untuk menilai psikolog tersebut.

Justru unggahan itu membuat saya memikirkan pertanyaan yang berbeda:

Mengapa ketika masalah kita terasa sangat berat, kita sering mengharapkan solusi yang juga terdengar rumit?

Minggu, 11 Oktober 2026

Ketika Setan Datang dari Segala Arah: Tadabbur QS. Al-A'raf Ayat 17 tentang Godaan, Keikhlasan, dan Syukur



Pernahkah kita merasa sedang berada di jalan yang benar, tetapi tanpa sadar hati justru mulai menjauh dari Allah?

Kita masih salat. Masih bekerja dengan baik. Masih belajar, mengajar, membantu orang lain, bahkan mungkin aktif mengajak orang berbuat kebaikan.

Dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja.

Namun, bagaimana jika di balik semua kebaikan itu perlahan tumbuh keinginan untuk dipuji? Bagaimana jika ilmu yang kita miliki justru membuat kita semakin sulit menerima nasihat? Atau bagaimana jika kesibukan mengejar sesuatu yang baik ternyata membuat kita semakin sering menunda kewajiban kepada Allah?

Sabtu, 10 Oktober 2026

STIKES Al-Su’aibah Gelar Workshop Letter to the Editor, Dorong Dosen Tingkatkan Publikasi Ilmiah Internasional Berbantuan AI



STIKES Al-Su’aibah — Dalam upaya meningkatkan kapasitas dan produktivitas publikasi ilmiah dosen, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Al-Su’aibah menyelenggarakan Workshop “Bedah Struktur Letter to Editor: Solusi Cepat Tingkatkan Kinerja Publikasi di Jurnal Internasional Bereputasi” pada Jumat, 9 Oktober 2026, pukul 09.00–16.00 WIB.

Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting ini dibuka langsung oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) STIKES Al-Su’aibah, Lina Contesa, M.Kes., dan diikuti oleh seluruh dosen di lingkungan STIKES Al-Su’aibah.

Workshop menghadirkan Rio Saputra, M.Pd., dosen Universitas Muhammadiyah Bengkulu sekaligus peneliti, penulis, dan trainer, sebagai narasumber.

Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat keterampilan dosen dalam mengidentifikasi kesenjangan penelitian, menyusun argumentasi akademik, dan mengembangkan Letter to the Editor (LTE) sebagai salah satu bentuk kontribusi ilmiah yang dapat dipublikasikan di jurnal internasional.

Rabu, 07 Oktober 2026

Orang Pintar Belum Tentu Kaya: Memahami Makna Iqra’, Ilmu, dan Kesuksesan



Sejak kecil kita sering mendengar nasihat sederhana:

“Belajarlah yang rajin supaya pintar. Kalau pintar, nanti hidupmu akan sukses.”

Nasihat itu tentu tidak salah. Pendidikan dan pengetahuan dapat membuka banyak pintu kehidupan. Tetapi semakin dewasa, kita menemukan kenyataan yang ternyata tidak sesederhana rumus tersebut.

Ada orang yang sangat pintar, pendidikannya tinggi, gelarnya panjang, pengetahuannya luas, tetapi kehidupan ekonominya biasa-biasa saja.

Sebaliknya, ada orang yang mungkin tidak mempunyai gelar akademik tinggi, tetapi mampu membangun usaha, menciptakan lapangan pekerjaan, membaca peluang, dan memperoleh kekayaan.

Lalu di mana letak persoalannya?

Kalau kepintaran membuat seseorang kaya, mengapa tidak semua orang pintar menjadi kaya?

Selasa, 29 September 2026

Ketika Orang yang Kita Cintai Belum Berubah: Makna QS. Al-Qashash Ayat 56 tentang Hidayah



Ada satu bentuk kelelahan yang sering tidak terlihat oleh orang lain.

Bukan kelelahan karena pekerjaan yang berat. Bukan pula karena perjalanan yang panjang. Tetapi kelelahan karena terlalu ingin seseorang berubah.

Kita mungkin pernah berada pada posisi itu.

Ada seseorang yang kita sayangi. Seseorang yang ingin kita lihat lebih dekat dengan Allah. Seseorang yang sebenarnya kita tahu memiliki potensi menjadi lebih baik, tetapi perjalanan hidupnya masih membawa ia ke arah yang berbeda dengan harapan kita.

Kita sudah mencoba berbicara dengan lembut. Kita sudah memberikan nasihat dengan penuh perhatian. Kita sudah berusaha menunjukkan contoh melalui sikap dan tindakan.

Namun ketika perubahan yang kita harapkan belum juga datang, perlahan muncul pertanyaan dalam hati:

Apakah saya kurang berusaha?

Apakah cara saya salah?

Apakah saya gagal membimbingnya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sangat manusiawi.

Sebab ketika kita mencintai seseorang, kita tidak hanya ingin berada dekat dengannya. Kita juga ingin melihat kebaikan tumbuh dalam dirinya. Kita ingin melihat hidupnya menjadi lebih baik, hatinya lebih tenang, dan langkahnya lebih dekat kepada Allah.

Namun di sinilah Al-Qur’an memberikan sebuah pelajaran yang sangat dalam tentang cinta, usaha, dan batas kemampuan manusia.