![]() |
| Hari ini kita mungkin sedang menatap sebuah perahu yang berlubang. Besok kita mungkin baru memahami mengapa ia harus berlubang. |
Pernahkah kita kecewa pada sebuah kejadian, lalu beberapa tahun kemudian baru menyadari bahwa ternyata ada kebaikan yang lahir darinya?
Sesuatu yang dahulu kita tangisi, ternyata menyelamatkan kita.
Sesuatu yang dahulu kita anggap kegagalan, ternyata mengarahkan kita ke jalan yang berbeda.
Atau sebaliknya. Sesuatu yang pernah begitu kita banggakan ternyata tidak bertahan selama yang kita bayangkan.
Saya kembali memikirkan hal ini ketika membaca Surah Al-Kahfi.
Sebelumnya, perhatian saya tertuju pada kisah dua pemilik kebun dalam Surah Al-Kahfi ayat 32–44. Salah seorang di antara mereka memiliki dua kebun yang subur. Kebunnya menghasilkan buah, dialiri air, dan memberinya kekayaan. Kemakmuran itu kemudian membuatnya merasa begitu yakin terhadap apa yang dimilikinya.
Ia bahkan berkata bahwa ia tidak menyangka kebunnya akan binasa.
Tetapi kebun itu akhirnya hancur.
Kisah tersebut seperti mengingatkan saya bahwa apa yang terlihat kuat hari ini belum tentu akan tetap kuat esok hari. Kekayaan, jabatan, kesehatan, keberhasilan, bahkan berbagai hal yang kita banggakan dalam kehidupan, semuanya berada dalam keterbatasan manusia dan kekuasaan Allah.
Lalu saya melanjutkan membaca kisah lain dalam surah yang sama.
Kisah Nabi Musa dan Khidir dalam Surah Al-Kahfi ayat 60–82.
Dan saya menemukan pelajaran lain yang terasa seperti melengkapi renungan sebelumnya.
Jika kisah pemilik kebun mengingatkan bahwa sesuatu yang tampak baik belum tentu akan selamanya baik, perjalanan Musa bersama Khidir mengajarkan bahwa sesuatu yang tampak buruk belum tentu berakhir buruk.
Di antara keduanya, ada satu pelajaran besar:
Pandangan kita terhadap kehidupan sangat terbatas.

