Jumat, 11 September 2026

Kisah Zulkarnain dalam Surah Al-Kahfi: Kekuasaan, Kepemimpinan, dan Kerendahan Hati

Kisah Zulkarnain dalam surah Al-Kahfi


Apa yang akan kita lakukan ketika memiliki kekuasaan?

Pertanyaan ini terdengar seperti pertanyaan untuk seorang pemimpin negara. Padahal, dalam kadar yang berbeda, hampir setiap kita memiliki sesuatu yang membuat kita mampu memengaruhi kehidupan orang lain.

Ada yang memiliki jabatan.

Ada yang memiliki ilmu.

Ada yang memiliki kekayaan.

Ada yang memiliki jaringan, teknologi, keterampilan, atau sekadar kesempatan untuk membantu.

Setelah membaca kisah dua pemilik kebun dan perjalanan Nabi Musa bersama Khidir, saya melanjutkan membaca Surah Al-Kahfi. Kali ini saya sampai pada kisah Zulkarnain dalam ayat 83–98.

Ada sesuatu yang menarik perhatian saya.

Jika kisah pemilik kebun berbicara tentang manusia ketika memiliki kekayaan, dan kisah Musa bersama Khidir berbicara tentang manusia ketika berhadapan dengan keterbatasan pengetahuan, maka kisah Zulkarnain membawa kita kepada pertanyaan berikutnya:

Bagaimana manusia bersikap ketika Allah memberinya kekuasaan dan kemampuan?

Jawabannya ternyata bukan sekadar tentang seberapa besar sesuatu yang mampu kita bangun.

Tetapi untuk siapa kekuatan itu digunakan.

Rabu, 09 September 2026

Banyak Perguruan Tinggi Tutup: Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi?



Barusan saya membaca sebuah tulisan di Entrepreneur yang membuat saya berhenti cukup lama.

Judulnya berbicara tentang semakin banyaknya perguruan tinggi yang tutup di Amerika Serikat dan kemungkinan datangnya krisis penerimaan mahasiswa yang lebih dalam.

Awalnya saya mengira persoalannya sederhana: jumlah mahasiswa berkurang, pendapatan kampus turun, lalu sebagian perguruan tinggi akhirnya tidak mampu bertahan.

Namun semakin saya membaca, saya menyadari bahwa persoalannya jauh lebih kompleks.

Dan mungkin justru di situlah pelajaran pentingnya.

Kampus tidak selalu runtuh karena satu masalah besar. Ia bisa melemah karena terlalu banyak masalah kecil yang dibiarkan bertahun-tahun.

Sabtu, 05 September 2026

Apakah AI benar-benar mengerti ketika kita sedang curhat?



Bayangkan seseorang berkata:

“Saya baik-baik saja. Hanya akhir-akhir ini rasanya ingin sendiri.”

Bagi sebuah mesin, mungkin ada kata-kata tertentu yang bisa dikenali, dikategorikan, dan dianalisis.

Tetapi bagi manusia yang memahami konteksnya, kalimat itu bisa memiliki makna yang jauh lebih dalam.

“Baik-baik saja” bisa berarti benar-benar baik.

Tetapi bisa juga berarti, saya belum siap bercerita lebih jauh.

Pertanyaan semacam inilah yang membuat saya tertarik untuk melihat kembali bagaimana AI digunakan untuk menganalisis narasi kesehatan mental, khususnya ketika narasi tersebut berasal dari konteks budaya Asia.

Dalam banyak budaya Asia, termasuk Indonesia, kesedihan, tekanan, konflik, atau persoalan psikologis tidak selalu disampaikan secara langsung.

Kadang kita menggunakan bahasa yang halus.

Kadang menggunakan metafora.

Kadang kita bercerita panjang tentang keluarga, pekerjaan, hubungan, atau kehidupan sehari-hari tanpa pernah mengatakan secara eksplisit bahwa kita sedang mengalami persoalan kesehatan mental.

Maka muncul pertanyaan yang menurut saya penting:

Apakah akurasi AI dalam melakukan coding terhadap sebuah teks sudah cukup untuk mengatakan bahwa AI memahami cerita manusia?

Ubah Cerita Anda, Ubah Hidup Anda: Rahasia Breakthrough ala Tony Robbins



Pernahkah Anda tahu apa yang seharusnya dilakukan, tetapi tetap tidak melakukannya?

Anda tahu bisnis perlu berkembang. Anda tahu karier harus bergerak maju. Anda tahu ada keputusan besar yang sudah terlalu lama ditunda.

Namun entah mengapa, seperti ada sesuatu yang menahan.

Lalu kita mulai mencari alasan.

"Saya belum punya cukup modal."

"Saya tidak cukup berbakat."

"Usia saya sudah tidak muda lagi."

"Mungkin memang bukan jalan saya."

Sekilas, alasan-alasan itu terdengar masuk akal. Tetapi semakin sering diulang, semakin besar kemungkinan kita mulai memperlakukannya sebagai kebenaran.

Padahal, salah satu penghalang terbesar dalam hidup sering kali bukan keadaan di luar diri kita.

Melainkan cerita yang terus kita katakan kepada diri sendiri.

Kekuatan Imperfect Action

Motivasi Sukses Imperfect Action Tony Robbins.
Ada orang yang sudah bertahun-tahun ingin memulai bisnis.

Idenya ada.

Rencananya ada.

Nama merek sudah dipikirkan.

Logo sudah beberapa kali diganti.

Strategi pemasaran sudah disusun.

Namun satu hal belum pernah dilakukan:

memulai.

Alasannya terdengar masuk akal.

"Saya masih harus belajar."

"Produknya belum sempurna."

"Saya belum cukup percaya diri."

"Nanti kalau semuanya sudah siap, baru saya mulai."

Masalahnya, kata “nanti” bisa berubah menjadi berminggu-minggu.

Berminggu-minggu berubah menjadi berbulan-bulan.

Dan tanpa disadari, bertahun-tahun berlalu sementara seseorang masih berdiri di tempat yang sama.

Di sinilah filosofi imperfect action menjadi menarik.

Tony Robbins pernah menyampaikan sebuah gagasan sederhana tetapi kuat:

“Winners take imperfect action while others are still planning.”

Intinya sederhana:

Orang yang maju tidak selalu memiliki rencana paling sempurna. Mereka adalah orang yang bersedia bergerak meskipun semuanya belum sempurna.

Jumat, 28 Agustus 2026

Kisah Musa dan Khidir: Belajar Memahami Hikmah di Balik Jalan Hidup

Ilustrasi perahu kayu tua di laut tenang saat fajar, melambangkan perumpamaan perahu yang dilubangi dalam kisah Nabi Musa dan Khidir pada Surah Al-Kahfi.
Hari ini kita mungkin sedang menatap sebuah perahu yang berlubang. Besok kita mungkin baru memahami mengapa ia harus berlubang.


Pernahkah kita kecewa pada sebuah kejadian, lalu beberapa tahun kemudian baru menyadari bahwa ternyata ada kebaikan yang lahir darinya?

Sesuatu yang dahulu kita tangisi, ternyata menyelamatkan kita.

Sesuatu yang dahulu kita anggap kegagalan, ternyata mengarahkan kita ke jalan yang berbeda.

Atau sebaliknya. Sesuatu yang pernah begitu kita banggakan ternyata tidak bertahan selama yang kita bayangkan.

Saya kembali memikirkan hal ini ketika membaca Surah Al-Kahfi.

Sebelumnya, perhatian saya tertuju pada kisah dua pemilik kebun dalam Surah Al-Kahfi ayat 32–44. Salah seorang di antara mereka memiliki dua kebun yang subur. Kebunnya menghasilkan buah, dialiri air, dan memberinya kekayaan. Kemakmuran itu kemudian membuatnya merasa begitu yakin terhadap apa yang dimilikinya.

Ia bahkan berkata bahwa ia tidak menyangka kebunnya akan binasa.

Tetapi kebun itu akhirnya hancur.

Kisah tersebut seperti mengingatkan saya bahwa apa yang terlihat kuat hari ini belum tentu akan tetap kuat esok hari. Kekayaan, jabatan, kesehatan, keberhasilan, bahkan berbagai hal yang kita banggakan dalam kehidupan, semuanya berada dalam keterbatasan manusia dan kekuasaan Allah.

Lalu saya melanjutkan membaca kisah lain dalam surah yang sama.

Kisah Nabi Musa dan Khidir dalam Surah Al-Kahfi ayat 60–82.

Dan saya menemukan pelajaran lain yang terasa seperti melengkapi renungan sebelumnya.

Jika kisah pemilik kebun mengingatkan bahwa sesuatu yang tampak baik belum tentu akan selamanya baik, perjalanan Musa bersama Khidir mengajarkan bahwa sesuatu yang tampak buruk belum tentu berakhir buruk.

Di antara keduanya, ada satu pelajaran besar:

Pandangan kita terhadap kehidupan sangat terbatas.

Sabtu, 22 Agustus 2026

Empat Tahap Ketika Nikmat Perlahan Menguasai Hati

Ilustrasi kebun anggur yang subur saat matahari terbit, sebagai perumpamaan kisah pemilik dua kebun dalam Surah Al-Kahfi.
Sama seperti kebun yang menanti matahari terbit, segala nikmat yang kita miliki sejatinya tunduk pada kehendak-Nya




Yang menarik dari pemilik kebun dalam Surah Al-Kahfi adalah kejatuhannya tidak dimulai ketika kebunnya hancur.

Kejatuhannya sudah dimulai jauh sebelumnya.

Di dalam hati.

Jika diperhatikan, ada semacam perjalanan batin yang digambarkan Al-Qur'an. Nikmat yang semula berada di tangan perlahan masuk ke dalam cara seseorang menilai dirinya, melihat orang lain, memahami masa depan, bahkan memandang hubungannya dengan Allah.

Saya melihat setidaknya ada empat tahap yang patut kita jadikan cermin.