“Sebenarnya saya cocok menjadi apa?”
Pertanyaan ini terdengar sederhana.
Tetapi bagi seorang pelajar yang sedang memilih jurusan, mahasiswa yang mulai memikirkan karier, atau bahkan seseorang yang sudah bekerja tetapi merasa berada di tempat yang salah, pertanyaan tersebut bisa menjadi sangat membingungkan.
Kita ingin memilih dengan benar.
Kalau bisa, sejak awal.
Kita tidak ingin menghabiskan empat tahun kuliah di jurusan yang ternyata tidak disukai. Tidak ingin bekerja bertahun-tahun sebelum menyadari bahwa pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan diri kita. Tidak ingin terlalu banyak mengambil jalan memutar.
Karena itulah tes minat bakat terasa menarik.
Kita menjawab sejumlah pertanyaan, mengerjakan beberapa bagian tes, lalu memperoleh gambaran mengenai minat, kecenderungan, kemampuan, atau bidang yang mungkin cocok.
Seolah-olah setelah sekian lama tersesat, seseorang akhirnya memberikan kompas.
Tetapi kemudian muncul pertanyaan lain.
Bisakah sebuah tes benar-benar memberi tahu kita siapa diri kita dan jalan hidup seperti apa yang seharusnya kita pilih?
Atau justru kita baru benar-benar mengenal diri setelah mencoba, gagal, berpindah arah, bertemu banyak orang, dan mengalami sendiri dunia yang sebelumnya hanya kita bayangkan?
Di sinilah tes minat bakat bertemu dengan sesuatu yang jauh lebih berantakan tetapi sangat manusiawi:
trial and error.
