Kadang Allah menghadirkan jalan pulang melalui seseorang yang bahkan belum cukup dewasa untuk memahami betapa besar pengaruh tindakannya.
Ada satu kisah yang saya bawa pulang dari kajian Subuh Ahad pagi di Masjid Raya Baitul Izzah, Provinsi Bengkulu. Bukan tentang materi kajian yang disampaikan, melainkan tentang seorang jamaah yang saya temui setelahnya.
Seperti biasa, setiap Ahad pagi saya berusaha mengikuti kajian Subuh di masjid tersebut. Ada kebahagiaan tersendiri bisa memulai hari dengan duduk bersama orang-orang yang ingin belajar dan mendekatkan diri kepada Allah.
Selepas kajian, biasanya para jamaah dipersilakan menikmati makanan dan minuman yang telah disediakan di bagian belakang masjid. Sebuah kebiasaan sederhana yang menambah kehangatan suasana, sekaligus menjadi kesempatan untuk saling mengenal.
Namun, pagi itu saya tidak langsung beranjak.
Seorang jamaah mendekat, dan kami pun berbincang.
Beliau ternyata datang dari Sukaraja, sebuah daerah di Kabupaten Seluma. Dari Kota Bengkulu, perjalanan menuju daerah tersebut kira-kira membutuhkan waktu 30–40 menit, tergantung titik keberangkatan dan kondisi jalan.
Saya membayangkan, untuk bisa hadir mengikuti kajian selepas Subuh, tentu ada kesungguhan yang perlu dijaga. Bangun lebih awal, mempersiapkan diri, kemudian menempuh perjalanan menuju masjid.
Percakapan kami berkembang ke berbagai hal. Namun, dari semua yang beliau ceritakan, ada satu kisah yang paling membekas dalam pikiran saya.
Kisah tentang bagaimana seorang anak kecil menjadi jalan bagi ayahnya untuk kembali kepada Allah.