Refleksi dari Seminar Internasional Bulan Bahasa Universitas Muhammadiyah Bengkulu
Apakah seorang ilmuwan cukup hanya menjadi pintar? Atau ia juga perlu memiliki kepekaan untuk memahami manusia di balik ilmu pengetahuan yang dikembangkannya?
Pertanyaan ini muncul dalam perenungan saya setelah mengikuti sebuah kegiatan yang menarik kemarin, 28 Oktober 2026.
Saya berkesempatan mengikuti Seminar Internasional dalam rangka Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Bengkulu.
Ada satu gagasan dari pemaparan pemateri yang menarik perhatian saya. Sebuah konsep yang sederhana, tetapi menyimpan makna mendalam tentang pendidikan, penelitian, dan masa depan ilmu pengetahuan.
Sains Berjiwa.
Dalam salah satu slide presentasi Mella Sarah Elmania, terdapat sebuah judul yang cukup menggugah: Sastra sebagai Pondasi Cara Berpikir Ilmuwan.
Selama ini, kita mungkin terbiasa menempatkan sastra dan sains dalam dua dunia yang berbeda. Sastra dianggap sebagai wilayah imajinasi, perasaan, kreativitas, dan bahasa. Sementara itu, sains dipandang sebagai dunia angka, data, metode, eksperimen, dan logika.
Seolah-olah keduanya berjalan di jalur masing-masing.
Namun, bagaimana jika justru ada sesuatu yang penting ketika keduanya dipertemukan?
Bagaimana jika sastra bukan sekadar pelengkap ilmu pengetahuan, melainkan salah satu jalan untuk membentuk cara berpikir seorang ilmuwan?
Dan lebih jauh lagi, bagaimana jika kemajuan ilmu pengetahuan tidak cukup hanya diukur dari kecanggihan penemuannya, tetapi juga dari kemampuannya memahami dan memberi manfaat bagi kehidupan manusia?





