Minggu, 11 Oktober 2026

Ketika Setan Datang dari Segala Arah: Tadabbur QS. Al-A'raf Ayat 17 tentang Godaan, Keikhlasan, dan Syukur



Pernahkah kita merasa sedang berada di jalan yang benar, tetapi tanpa sadar hati justru mulai menjauh dari Allah?

Kita masih salat. Masih bekerja dengan baik. Masih belajar, mengajar, membantu orang lain, bahkan mungkin aktif mengajak orang berbuat kebaikan.

Dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja.

Namun, bagaimana jika di balik semua kebaikan itu perlahan tumbuh keinginan untuk dipuji? Bagaimana jika ilmu yang kita miliki justru membuat kita semakin sulit menerima nasihat? Atau bagaimana jika kesibukan mengejar sesuatu yang baik ternyata membuat kita semakin sering menunda kewajiban kepada Allah?

Sabtu, 10 Oktober 2026

STIKES Al-Su’aibah Gelar Workshop Letter to the Editor, Dorong Dosen Tingkatkan Publikasi Ilmiah Internasional Berbantuan AI



STIKES Al-Su’aibah — Dalam upaya meningkatkan kapasitas dan produktivitas publikasi ilmiah dosen, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Al-Su’aibah menyelenggarakan Workshop “Bedah Struktur Letter to Editor: Solusi Cepat Tingkatkan Kinerja Publikasi di Jurnal Internasional Bereputasi” pada Jumat, 9 Oktober 2026, pukul 09.00–16.00 WIB.

Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting ini dibuka langsung oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) STIKES Al-Su’aibah, Lina Contesa, M.Kes., dan diikuti oleh seluruh dosen di lingkungan STIKES Al-Su’aibah.

Workshop menghadirkan Rio Saputra, M.Pd., dosen Universitas Muhammadiyah Bengkulu sekaligus peneliti, penulis, dan trainer, sebagai narasumber.

Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat keterampilan dosen dalam mengidentifikasi kesenjangan penelitian, menyusun argumentasi akademik, dan mengembangkan Letter to the Editor (LTE) sebagai salah satu bentuk kontribusi ilmiah yang dapat dipublikasikan di jurnal internasional.

Rabu, 07 Oktober 2026

Orang Pintar Belum Tentu Kaya: Memahami Makna Iqra’, Ilmu, dan Kesuksesan



Sejak kecil kita sering mendengar nasihat sederhana:

“Belajarlah yang rajin supaya pintar. Kalau pintar, nanti hidupmu akan sukses.”

Nasihat itu tentu tidak salah. Pendidikan dan pengetahuan dapat membuka banyak pintu kehidupan. Tetapi semakin dewasa, kita menemukan kenyataan yang ternyata tidak sesederhana rumus tersebut.

Ada orang yang sangat pintar, pendidikannya tinggi, gelarnya panjang, pengetahuannya luas, tetapi kehidupan ekonominya biasa-biasa saja.

Sebaliknya, ada orang yang mungkin tidak mempunyai gelar akademik tinggi, tetapi mampu membangun usaha, menciptakan lapangan pekerjaan, membaca peluang, dan memperoleh kekayaan.

Lalu di mana letak persoalannya?

Kalau kepintaran membuat seseorang kaya, mengapa tidak semua orang pintar menjadi kaya?

Selasa, 29 September 2026

Ketika Orang yang Kita Cintai Belum Berubah: Makna QS. Al-Qashash Ayat 56 tentang Hidayah



Ada satu bentuk kelelahan yang sering tidak terlihat oleh orang lain.

Bukan kelelahan karena pekerjaan yang berat. Bukan pula karena perjalanan yang panjang. Tetapi kelelahan karena terlalu ingin seseorang berubah.

Kita mungkin pernah berada pada posisi itu.

Ada seseorang yang kita sayangi. Seseorang yang ingin kita lihat lebih dekat dengan Allah. Seseorang yang sebenarnya kita tahu memiliki potensi menjadi lebih baik, tetapi perjalanan hidupnya masih membawa ia ke arah yang berbeda dengan harapan kita.

Kita sudah mencoba berbicara dengan lembut. Kita sudah memberikan nasihat dengan penuh perhatian. Kita sudah berusaha menunjukkan contoh melalui sikap dan tindakan.

Namun ketika perubahan yang kita harapkan belum juga datang, perlahan muncul pertanyaan dalam hati:

Apakah saya kurang berusaha?

Apakah cara saya salah?

Apakah saya gagal membimbingnya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sangat manusiawi.

Sebab ketika kita mencintai seseorang, kita tidak hanya ingin berada dekat dengannya. Kita juga ingin melihat kebaikan tumbuh dalam dirinya. Kita ingin melihat hidupnya menjadi lebih baik, hatinya lebih tenang, dan langkahnya lebih dekat kepada Allah.

Namun di sinilah Al-Qur’an memberikan sebuah pelajaran yang sangat dalam tentang cinta, usaha, dan batas kemampuan manusia.

Minggu, 27 September 2026

Tes Minat Bakat vs Trial and Error: Mana yang Lebih Efektif Menentukan Karier?





“Sebenarnya saya cocok menjadi apa?”

Pertanyaan ini terdengar sederhana.

Tetapi bagi seorang pelajar yang sedang memilih jurusan, mahasiswa yang mulai memikirkan karier, atau bahkan seseorang yang sudah bekerja tetapi merasa berada di tempat yang salah, pertanyaan tersebut bisa menjadi sangat membingungkan.

Kita ingin memilih dengan benar.

Kalau bisa, sejak awal.

Kita tidak ingin menghabiskan empat tahun kuliah di jurusan yang ternyata tidak disukai. Tidak ingin bekerja bertahun-tahun sebelum menyadari bahwa pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan diri kita. Tidak ingin terlalu banyak mengambil jalan memutar.

Karena itulah tes minat bakat terasa menarik.

Kita menjawab sejumlah pertanyaan, mengerjakan beberapa bagian tes, lalu memperoleh gambaran mengenai minat, kecenderungan, kemampuan, atau bidang yang mungkin cocok.

Seolah-olah setelah sekian lama tersesat, seseorang akhirnya memberikan kompas.

Tetapi kemudian muncul pertanyaan lain.

Bisakah sebuah tes benar-benar memberi tahu kita siapa diri kita dan jalan hidup seperti apa yang seharusnya kita pilih?

Atau justru kita baru benar-benar mengenal diri setelah mencoba, gagal, berpindah arah, bertemu banyak orang, dan mengalami sendiri dunia yang sebelumnya hanya kita bayangkan?

Di sinilah tes minat bakat bertemu dengan sesuatu yang jauh lebih berantakan tetapi sangat manusiawi:

trial and error.

Kamis, 24 September 2026

Grit: Ketika Bakat Membuka Pintu, Ketekunan Membawa Kita Sampai Tujuan



Ada orang yang sangat berbakat, tetapi berhenti di tengah jalan.

Ada pula orang yang pada awalnya tampak biasa-biasa saja, tetapi bertahun-tahun kemudian justru melangkah jauh lebih depan.

Apa yang membedakan keduanya?

Kita mungkin tergoda menjawab: kecerdasan. Bakat. Kesempatan. Latar belakang.

Namun, pengalaman Angela Duckworth ketika menjadi guru justru membawanya pada pertanyaan yang berbeda.

Sebelum dikenal sebagai psikolog yang meneliti grit, Duckworth pernah bekerja sebagai konsultan manajemen. Ia kemudian beralih menjadi guru matematika kelas tujuh di sekolah negeri. Di ruang kelas itulah ia melihat sesuatu yang mengusiknya: siswa yang paling cepat memahami pelajaran tidak selalu menjadi siswa yang memperoleh hasil terbaik. Sebaliknya, beberapa siswa yang tidak tampak paling menonjol justru mampu berkembang ketika terus belajar dan berusaha.

Pengamatan sederhana itu kemudian berkembang menjadi pertanyaan penelitian yang jauh lebih besar:

Siapa yang akan berhasil dalam perjalanan panjang, dan mengapa?

Ketika Mahasiswa Bisa Bertanya kepada AI, Apa yang Harus Diajarkan Dosen?

 

Dr. Kasmiruddin, M.Si.
Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Bengkulu



Oleh: Dr. Kasmiruddin, M.Si.

Dulu, mahasiswa datang ke kampus karena dosen memiliki sesuatu yang sulit diperoleh: informasi.

Hari ini, sebagian besar informasi ada di genggaman.

Cukup buka laptop, ketik pertanyaan kepada Artificial Intelligence (AI), dalam hitungan detik muncul jawaban yang rapi, lengkap, bahkan meyakinkan.

Lalu muncul pertanyaan yang menggelitik:

Jika AI mampu menjawab hampir semua pertanyaan mahasiswa, untuk apa mereka masih membutuhkan dosen?