Apa yang akan kita lakukan ketika memiliki kekuasaan?
Pertanyaan ini terdengar seperti pertanyaan untuk seorang pemimpin negara. Padahal, dalam kadar yang berbeda, hampir setiap kita memiliki sesuatu yang membuat kita mampu memengaruhi kehidupan orang lain.
Ada yang memiliki jabatan.
Ada yang memiliki ilmu.
Ada yang memiliki kekayaan.
Ada yang memiliki jaringan, teknologi, keterampilan, atau sekadar kesempatan untuk membantu.
Setelah membaca kisah dua pemilik kebun dan perjalanan Nabi Musa bersama Khidir, saya melanjutkan membaca Surah Al-Kahfi. Kali ini saya sampai pada kisah Zulkarnain dalam ayat 83–98.
Ada sesuatu yang menarik perhatian saya.
Jika kisah pemilik kebun berbicara tentang manusia ketika memiliki kekayaan, dan kisah Musa bersama Khidir berbicara tentang manusia ketika berhadapan dengan keterbatasan pengetahuan, maka kisah Zulkarnain membawa kita kepada pertanyaan berikutnya:
Bagaimana manusia bersikap ketika Allah memberinya kekuasaan dan kemampuan?
Jawabannya ternyata bukan sekadar tentang seberapa besar sesuatu yang mampu kita bangun.
Tetapi untuk siapa kekuatan itu digunakan.


