Jumat, 14 Agustus 2026

Ketika Guru Dirumahkan: Apakah Sekolah Kehilangan Guru Terbaik atau Guru Kehilangan Ruang untuk Bertumbuh?



Polemik guru yang dirumahkan di Bengkulu kembali mengingatkan kita pada satu persoalan penting dalam dunia pendidikan: bagaimana seharusnya sekolah dan yayasan memperlakukan guru yang telah mengabdikan dirinya selama bertahun-tahun?

Belakangan ini, masyarakat Bengkulu ramai memperbincangkan persoalan sejumlah guru di sebuah lembaga pendidikan Islam yang disebut telah lama mengabdi, tetapi kemudian tidak lagi mengajar. Di satu sisi, muncul narasi bahwa guru tersebut telah diberhentikan dan mempertanyakan hak setelah hubungan kerja berakhir.

Di sisi lain, pihak yayasan menyatakan bahwa tidak ada pemecatan. Istilah yang digunakan adalah guru tersebut “dirumahkan”.

Perbedaan istilah inilah yang kemudian menimbulkan pertanyaan publik.

Apakah “dirumahkan” sama dengan dipecat?

Apakah guru yang tidak lagi diperbolehkan mengajar tetapi tidak menerima surat pemutusan hubungan kerja dapat disebut telah mengalami PHK?

Dan yang lebih penting: ketika seorang guru telah mengabdi selama bertahun-tahun, apakah persoalannya cukup diselesaikan hanya dengan mengatakan bahwa hubungan kerja sudah tidak dilanjutkan?

Visi Al-Qur’an Menjawab Tantangan Zaman



Saya menonton pengajian tematik bertajuk “Visi Al-Qur’an Menjawab Tantangan Zaman”, hasil ikhtiar Universitas Islam Indonesia (UII) bersama Pusat Studi Al-Qur’an. Dalam ruang yang penuh adab dan keheningan, hadir dua sosok ulama dengan kedalaman ilmu dan kejernihan hikmah: Gus Baha dan Prof. Quraish Shihab, yang menuntun jamaah menapaki jalan pemahaman Al-Qur’an dengan cara yang membumi sekaligus melangit.

Dalam tausiyahnya, Gus Baha berbicara dengan kesederhanaan yang menembus relung nurani. Ia mengingatkan bahwa agama tidak semata berdiri di atas ritual besar yang tampak, melainkan pada kewajiban dasar, fardu ain, yang sering luput dari perhatian. Ia memuliakan peran kiai kampung, orang-orang kecil, mereka yang mungkin tak dikenal, tetapi setia menunaikan kewajiban agama dan sosial secara nyata. 

Sabtu, 08 Agustus 2026

Dari Bengkulu ke Dunia, 2.300 Calon Mahasiswa dari 40 Negara Ingin Kuliah di UM Bengkulu


Siapa sangka, Bengkulu yang berada di pesisir barat Pulau Sumatra kini mulai dilirik anak-anak muda dari berbagai penjuru dunia untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Bukan puluhan atau ratusan, jumlahnya sudah menembus 2.300 pendaftar dari 40 negara yang ingin menjadi bagian dari Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UM Bengkulu).

Angka itu bukan sekadar deretan statistik. Di baliknya ada ribuan anak muda dengan bahasa, budaya, dan latar belakang yang berbeda, tetapi memiliki satu tujuan yang sama: mencari kesempatan belajar di Indonesia. Dan menariknya, pilihan mereka jatuh pada sebuah kampus di Bengkulu.

Ketika Perasaan Menjadi Tuhan


Di zaman sekarang, kita sering mendengar istilah-istilah psikologi populer seperti toxic, gaslighting, narcissist, atau trauma. Kata-kata ini muncul di media sosial, di ruang diskusi, bahkan dalam percakapan keluarga sehari-hari.

Kamis, 09 Juli 2026

Menulis Ulang Cerita Kita


Pernahkah Anda merasa seperti sedang berjalan di dalam lingkaran? Menghadapi jenis masalah yang sama, merasakan patah hati yang serupa, atau terjebak dalam kecemasan yang itu-itu saja, hanya dengan orang dan latar tempat yang berbeda.

Saat hal itu terjadi, mudah bagi kita untuk mengutuk keadaan. Kita bertanya-tanya, "Mengapa hidup begitu tidak adil pada saya?" atau "Mengapa pola ini terus berulang?"

Belakangan ini, saya merenungkan satu kenyataan pahit yang sejalan dengan itu, namun sebenarnya sangat membebaskan: Kualitas hidup kita tidak pernah ditentukan oleh apa yang terjadi pada kita, melainkan oleh makna yang kita berikan pada kejadian tersebut.

Siapa yang Menulis Ceritamu?

Sabtu, 30 Mei 2026

Kapan Waktu yang Tepat untuk Pergi ke Psikolog? Mengenal Sinyal Lelah Mental

Ruang Ceria CV. Psikologi Ceria

Pernahkah kamu merasa sangat lelah, padahal tidak sedang melakukan aktivitas fisik yang berat? Atau mungkin, akhir-akhir ini kamu menjadi lebih mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, dan merasa cemas tanpa alasan yang jelas?

Jika iya, itu adalah sinyal bahwa kesehatan mentalmu sedang mengirimkan alarm tanda bahaya. Banyak dari kita yang masih menunda untuk mencari bantuan profesional karena merasa masalah yang dihadapi "belum cukup parah". Padahal, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan mengobati penyakit fisik.

Senin, 25 Mei 2026

Pemimpin yang Ditakuti atau Pemimpin yang Dikenang?

Hampir semua orang pernah merasakan berada di bawah kepemimpinan yang membuat hari terasa berat. Datang bekerja dengan rasa cemas, berbicara hati-hati, takut salah, dan merasa tidak pernah cukup baik. Tanpa sadar, suasana seperti itu sering kali bukan disebabkan oleh pekerjaan itu sendiri, melainkan oleh cara seseorang memimpin.