Ada orang yang sangat berbakat, tetapi berhenti di tengah jalan.
Ada pula orang yang pada awalnya tampak biasa-biasa saja, tetapi bertahun-tahun kemudian justru melangkah jauh lebih depan.
Apa yang membedakan keduanya?
Kita mungkin tergoda menjawab: kecerdasan. Bakat. Kesempatan. Latar belakang.
Namun, pengalaman Angela Duckworth ketika menjadi guru justru membawanya pada pertanyaan yang berbeda.
Sebelum dikenal sebagai psikolog yang meneliti grit, Duckworth pernah bekerja sebagai konsultan manajemen. Ia kemudian beralih menjadi guru matematika kelas tujuh di sekolah negeri. Di ruang kelas itulah ia melihat sesuatu yang mengusiknya: siswa yang paling cepat memahami pelajaran tidak selalu menjadi siswa yang memperoleh hasil terbaik. Sebaliknya, beberapa siswa yang tidak tampak paling menonjol justru mampu berkembang ketika terus belajar dan berusaha.
Pengamatan sederhana itu kemudian berkembang menjadi pertanyaan penelitian yang jauh lebih besar:
Siapa yang akan berhasil dalam perjalanan panjang, dan mengapa?
Pertanyaan itu membawa Duckworth keluar dari ruang kelas menuju dunia psikologi.
Dan dari sana lahirlah satu kata yang kemudian menjadi sangat populer:
grit.
Ketika Kecerdasan Ternyata Bukan Seluruh Cerita
Kita menyukai bakat.
Bakat mudah terlihat.
Seorang anak dapat menghitung lebih cepat daripada teman-temannya. Seseorang mampu berbicara di depan publik seolah tanpa latihan. Ada mahasiswa yang dengan cepat memahami konsep yang bagi orang lain membutuhkan waktu berhari-hari.
Kita melihat itu dan berkata, “Dia memang berbakat.”
Tidak ada yang salah dengan bakat.
Masalahnya muncul ketika kita diam-diam menganggap bakat sebagai ramalan masa depan.
Seolah-olah siapa yang paling cepat di garis awal pasti akan menjadi orang pertama yang mencapai garis akhir.
Padahal hidup tidak bekerja sesederhana itu.
Setelah meninggalkan dunia mengajar untuk mendalami psikologi, Duckworth bersama rekan-rekannya meneliti berbagai kelompok, termasuk kadet di Akademi Militer Amerika Serikat di West Point dan peserta Scripps National Spelling Bee. Penelitian awal mereka menemukan bahwa kegigihan dalam mengejar tujuan jangka panjang berhubungan dengan berbagai bentuk pencapaian dan ketahanan. Di West Point, misalnya, grit membantu memprediksi siapa yang bertahan melalui masa awal pendidikan militer yang berat.
Duckworth kemudian mendefinisikan grit sebagai passion and perseverance for long-term goals, semangat dan ketekunan dalam mengejar tujuan jangka panjang. American Psychological Association juga merangkum grit sebagai kombinasi kegigihan dan konsistensi dalam mengejar tujuan jangka panjang.
Perhatikan bahwa ada dua kata penting di sana.
Passion.
Dan perseverance.
Bukan sekadar tertarik pada sesuatu selama beberapa minggu.
Bukan pula bekerja keras selama dua hari setelah menonton video motivasi.
Grit berbicara tentang kemampuan menjaga arah dan terus melakukan pekerjaan yang dibutuhkan ketika perjalanan berlangsung jauh lebih lama daripada antusiasme awal kita.
Karena itu, metafora yang digunakan Duckworth sangat kuat: kehidupan dengan grit lebih mirip maraton daripada sprint.
Dalam sprint, kita mengerahkan hampir seluruh tenaga dalam waktu singkat.
Dalam maraton, persoalannya berbeda.
Kita harus mengatur tenaga.
Menjaga ritme.
Mengetahui kapan harus memperlambat langkah.
Dan yang paling penting: tetap bergerak ketika garis finis bahkan belum terlihat.
Bukankah banyak hal penting dalam kehidupan juga seperti itu?
Kehidupan Jarang Memberikan Hasil Secara Instan
Menulis skripsi, tesis, atau disertasi adalah maraton.
Membangun karier adalah maraton.
Belajar bahasa asing adalah maraton.
Mendidik anak adalah maraton.
Membangun organisasi adalah maraton.
Menjadi penulis juga demikian.
Pada awal perjalanan, motivasi biasanya tidak sulit ditemukan.
Ada sesuatu yang baru.
Ada target.
Ada rasa penasaran.
Ada bayangan tentang keberhasilan.
Tetapi ujian sebenarnya sering datang beberapa waktu kemudian, ketika kebaruan itu menghilang.
Proposal dikembalikan dengan banyak catatan.
Tulisan yang kita buat ternyata tidak banyak dibaca.
Kemampuan yang kita pelajari terasa tidak berkembang.
Rencana yang kita susun gagal.
Pekerjaan yang selama ini dikerjakan belum menghasilkan sesuatu yang bisa dibanggakan.
Di fase seperti inilah bakat mulai kehilangan sebagian daya tariknya.
Sebab pertanyaannya bukan lagi:
“Seberapa hebat saya memulai?”
Pertanyaannya berubah menjadi:
“Apakah saya masih bersedia berjalan ketika proses ini tidak lagi menyenangkan?”
Grit hidup di wilayah itu.
Bukan ketika semuanya berjalan baik.
Tetapi ketika ada cukup banyak alasan untuk berhenti, sementara kita masih memiliki alasan yang lebih dalam untuk terus belajar.
Tetapi Grit Bukan Sekadar “Jangan Pernah Menyerah”
Di titik ini kita juga perlu berhati-hati.
Popularitas gagasan grit dapat membuatnya terdengar seperti mantra sederhana:
Pokoknya jangan menyerah.
Padahal hidup jauh lebih kompleks.
Bertahan pada strategi yang jelas-jelas tidak bekerja bukan grit.
Mempertahankan tujuan yang sudah tidak bermakna hanya karena takut dianggap gagal juga bukan kebijaksanaan.
Ketekunan tidak sama dengan keras kepala.
Kita bisa teguh pada tujuan, tetapi fleksibel pada cara.
Ini perbedaan yang penting.
Bayangkan seseorang ingin mencapai sebuah kota.
Tujuannya tetap sama.
Tetapi ketika jalan yang biasa dilewati tertutup, ia tidak perlu duduk di depan penghalang sambil berkata, “Saya tidak akan menyerah.”
Ia mencari jalan lain.
Kadang mundur sebentar.
Kadang bertanya.
Kadang membuka peta kembali.
Kadang bahkan harus mengakui bahwa sejak awal ia mengambil jalan yang keliru.
Grit bukan kemampuan menabrak tembok berulang kali.
Grit adalah kesediaan untuk terus mencari jalan menuju sesuatu yang memang layak diperjuangkan.
Dan penelitian tentang grit sendiri juga berkembang. Sebuah meta-analisis besar yang mencakup 88 sampel independen dengan lebih dari 66.000 partisipan menemukan bahwa hubungan grit dengan performa dan retensi bersifat moderat, serta grit memiliki tumpang tindih yang cukup kuat dengan sifat conscientiousness. Menariknya, aspek perseverance of effort, ketekunan dalam berusaha, tampak lebih konsisten berhubungan dengan hasil dibandingkan konsistensi minat.
Artinya, grit bukan tombol ajaib yang menjelaskan seluruh keberhasilan manusia.
Dan menurut saya, justru di situlah gagasan ini menjadi lebih sehat.
Keberhasilan tetap dipengaruhi kesempatan, kualitas pendidikan, dukungan sosial, kondisi ekonomi, kesehatan, lingkungan, strategi, kemampuan, bahkan keberuntungan.
Tidak semua orang memulai perlombaan dari garis yang sama.
Maka kita tidak seharusnya menggunakan grit untuk menyalahkan orang yang sedang menghadapi keadaan sulit.
Tetapi di antara banyak hal yang tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan, ada satu wilayah yang masih dapat terus kita latih:
cara kita merespons kesulitan.
Growth Mindset: “Belum Bisa” Berbeda dengan “Tidak Bisa”
Di sinilah gagasan growth mindset dari Carol Dweck menjadi menarik.
Secara sederhana, growth mindset adalah cara pandang bahwa kemampuan tidak selalu bersifat tetap; kemampuan dapat berkembang melalui proses belajar, strategi yang lebih baik, latihan, dan respons terhadap tantangan. Dweck sering membandingkannya dengan fixed mindset, yaitu kecenderungan melihat kemampuan seolah-olah sudah ditentukan dan sulit berubah.
Perbedaannya tampak sederhana.
Tetapi konsekuensinya bisa besar.
Bayangkan dua orang menerima hasil buruk setelah mencoba sesuatu.
Orang pertama berkata:
“Saya memang tidak berbakat.”
Orang kedua berkata:
“Cara saya belum berhasil. Apa yang perlu saya pelajari?”
Peristiwanya sama.
Kekecewaannya mungkin sama.
Tetapi makna yang mereka bangun dari kegagalan itu berbeda.
Yang pertama menjadikan kegagalan sebagai vonis terhadap identitas.
Yang kedua menjadikannya informasi.
Yang satu mendengar kata:
tidak bisa.
Yang lain menambahkan satu kata kecil:
belum.
Belum bisa.
Belum mengerti.
Belum menemukan caranya.
Belum mencapai hasil yang diharapkan.
Kata belum tidak menjamin bahwa semua tujuan akhirnya akan tercapai. Hidup tentu tidak sesederhana itu.
Tetapi kata tersebut menjaga satu pintu tetap terbuka:
pintu untuk belajar.
Dan mungkin itulah hubungan penting antara growth mindset dan grit.
Grit membantu kita bertahan dalam perjalanan.
Growth mindset membantu kita percaya bahwa selama perjalanan itu kita masih bisa berubah.
Sering Kali yang Membentuk Masa Depan Justru Hari-Hari Biasa
Ketika membaca tentang grit, saya merasa mudah bagi kita untuk membayangkan kisah-kisah luar biasa.
Atlet juara dunia.
Pengusaha sukses.
Ilmuwan besar.
Tokoh yang bertahan menghadapi kegagalan berkali-kali.
Tetapi barangkali grit yang paling penting justru jarang tampak dramatis.
Ia muncul pada hari Selasa biasa.
Saat tidak ada yang bertepuk tangan.
Saat tidak ada pencapaian yang bisa diunggah.
Saat kita tetap membuka buku meskipun hanya mampu belajar tiga puluh menit.
Saat kita kembali memperbaiki tulisan yang kemarin terasa buruk.
Saat seorang mahasiswa membaca kembali komentar pembimbing dan mulai merevisi satu halaman.
Saat seorang guru mencoba cara baru setelah kelas sebelumnya tidak berjalan sesuai rencana.
Saat seseorang kembali berolahraga setelah rutinitasnya sempat terputus.
Tidak heroik.
Tidak viral.
Tetapi dilakukan lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Kita sering melebih-lebihkan kekuatan satu hari yang sangat produktif, tetapi meremehkan kekuatan seribu hari yang cukup konsisten.
Padahal hidup lebih sering dibentuk oleh yang kedua.
Bagaimana Menumbuhkan Grit?
Duckworth sendiri pernah mengakui bahwa memahami grit lebih mudah daripada mengetahui secara pasti bagaimana menumbuhkannya. Dalam pembicaraan awalnya tentang grit, ia menunjuk growth mindset sebagai salah satu gagasan yang menjanjikan, tetapi penelitian tentang intervensi grit juga mengingatkan kita untuk tidak menjanjikan hasil yang terlalu sederhana.
Maka mungkin kita tidak perlu memulai dengan pertanyaan besar:
“Bagaimana saya menjadi manusia yang sangat gigih?”
Pertanyaan itu terlalu abstrak.
Mulailah dari sesuatu yang lebih kecil.
1. Temukan sesuatu yang cukup penting untuk diperjuangkan
Tidak semua tujuan layak mendapatkan waktu bertahun-tahun dari hidup kita.
Grit bukan tentang mengejar sebanyak mungkin tujuan.
Justru sering kali ia membutuhkan keberanian memilih.
Apa yang benar-benar penting?
Mengapa saya ingin melakukannya?
Siapa yang akan mendapat manfaat jika saya terus mengembangkan kemampuan ini?
Tujuan yang memiliki makna lebih dalam biasanya memberi kita alasan untuk bertahan ketika motivasi sedang rendah.
2. Bedakan tujuan dengan strategi
Jangan terlalu cepat meninggalkan tujuan hanya karena satu cara gagal.
Tetapi jangan pula terlalu mencintai satu cara sehingga kita tidak mau belajar.
Tujuan boleh teguh.
Strategi harus terus dievaluasi.
Ketika gagal, jangan hanya bertanya:
“Apakah saya harus berhenti?”
Tanyakan juga:
“Apa sebenarnya yang sedang diajarkan kegagalan ini?”
3. Bangun hubungan yang sehat dengan proses
Kita hidup di dunia yang memperlihatkan hasil jauh lebih sering daripada proses.
Kita melihat wisuda, bukan malam-malam ketika seseorang hampir menyerah.
Kita melihat buku yang terbit, bukan puluhan revisinya.
Kita melihat podium, bukan latihan yang membosankan.
Akibatnya, kita mudah menganggap proses sebagai gangguan yang harus dilewati sebelum kehidupan yang sebenarnya dimulai.
Padahal proses itulah kehidupannya.
Jika kita hanya mencintai hasil, perjalanan panjang akan terasa seperti hukuman.
Tetapi ketika kita mulai menghargai proses belajar, kemajuan kecil pun memiliki arti.
4. Ukur kemajuan dengan jarak yang cukup panjang
Ada hari ketika kita merasa tidak berkembang.
Itu normal.
Satu hari terlalu pendek untuk menilai sebuah perjalanan.
Seorang anak mungkin tidak melihat pertumbuhan tubuhnya setiap pagi. Tetapi foto beberapa tahun lalu menunjukkan perubahan yang sangat jelas.
Pertumbuhan kemampuan sering bekerja seperti itu.
Tidak selalu terlihat dari hari ke hari.
Tetapi menjadi nyata ketika kita melihatnya dari jarak yang cukup panjang.
Maka jangan terlalu cepat mengadili diri berdasarkan satu hari buruk.
Atau satu ujian.
Atau satu penolakan.
Atau satu kegagalan.
Bukan Menjadi yang Paling Hebat, tetapi Terus Menjadi Lebih Baik
Mungkin kita tidak selalu bisa menjadi orang paling pintar di ruangan.
Kita juga tidak selalu menjadi orang paling berbakat ketika sebuah perjalanan dimulai.
Ada begitu banyak hal dalam kehidupan yang tidak kita pilih.
Kita tidak memilih seluruh kondisi awal kita.
Tidak memilih seluruh kesempatan yang datang.
Tidak memilih setiap kesulitan yang harus dihadapi.
Tetapi masih ada ruang tempat kita dapat mengambil keputusan.
Apakah kita mau belajar?
Apakah kita mau memperbaiki cara?
Apakah kita bersedia menjadi pemula cukup lama?
Apakah kegagalan akan kita perlakukan sebagai vonis, atau sebagai informasi?
Dan ketika tujuan itu masih layak diperjuangkan, apakah kita bersedia berjalan satu langkah lagi?
Grit mengingatkan kita bahwa masa depan tidak hanya dibangun dari kemampuan yang sudah kita miliki hari ini.
Ia juga dibangun melalui manusia yang perlahan sedang kita bentuk sepanjang perjalanan.
Mungkin pada akhirnya perjalanan besar kehidupan memang tidak selalu dimenangkan oleh mereka yang berlari paling cepat.
Kadang, mereka hanyalah orang-orang yang cukup sabar untuk belajar, cukup rendah hati untuk memperbaiki arah, dan cukup tekun untuk tetap berjalan ketika garis finis belum terlihat.
Sebab bakat mungkin membantu kita memulai perjalanan. Tetapi dalam banyak hal yang benar-benar berarti, ketekunanlah yang membuat kita terus berjalan.
Referensi
Angela Duckworth, Grit: The Power of Passion and Perseverance, TED Talks Education, 2013.
Duckworth, A. L., Peterson, C., Matthews, M. D., & Kelly, D. R. (2007). Grit: Perseverance and Passion for Long-Term Goals. Journal of Personality and Social Psychology, 92(6), 1087–1101.
Credé, M., Tynan, M. C., & Harms, P. D. (2017). Much Ado About Grit: A Meta-Analytic Synthesis of the Grit Literature. Journal of Personality and Social Psychology, 113(3), 492–511.
Carol Dweck, The Power of Believing That You Can Improve, TEDxNorrköping, 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung. Semoga langkah Anda hari ini membawa semangat baru untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak. Saya menghargai setiap dedikasi dan perjalanan Anda. Sampai kita berjumpa kembali, dalam tulisan atau kehidupan nyata.