Rabu, 16 September 2026

Menjadi Versatilist: Mengapa Keahlian Saja Tidak Lagi Cukup di Era AI

 Menjadi Versatilist: Mengapa Keahlian Saja Tidak Lagi Cukup di Era AI

Ada satu kalimat di layar besar pada saat pembicara publik berbicara tentang keahlian yang membuat saya berhenti cukup lama:

“40% of IT staff will be versatilists, holding multiple roles, most of which will be business rather than technology-related.”

Prediksi Gartner itu disampaikan pada 2017 untuk menggambarkan perubahan yang mereka perkirakan terjadi menjelang 2021. Istilah yang digunakan bukan sekadar specialist, melainkan IT staff: empat dari sepuluh diprediksi bergerak menjadi versatilist, orang yang memiliki kemampuan untuk menjalankan beberapa peran dan menghubungkan kompetensi teknis dengan kebutuhan bisnis.

Angka 40 persen mungkin sudah terasa seperti statistik lama.

Tetapi gagasan di belakangnya justru terasa semakin dekat dengan kehidupan kita hari ini.

Apalagi ketika AI mulai mengambil alih sebagian pekerjaan yang dahulu hanya dapat dilakukan oleh orang dengan keahlian teknis tertentu.

Lalu saya bertanya:

Apakah menjadi ahli dalam satu bidang masih cukup untuk menghadapi masa depan?

Jawabannya mungkin bukan meninggalkan keahlian.

Justru kita perlu menjadi ahli, tetapi tidak berhenti menjadi pembelajar.

Dari Specialist Menuju Versatilist

Selama bertahun-tahun, pendidikan mengajarkan kita pentingnya spesialisasi.

Dan memang begitulah seharusnya.

Kita membutuhkan dokter yang memahami kedokteran secara mendalam. Insinyur yang benar-benar menguasai teknik. Dosen yang memiliki kedalaman keilmuan. Peneliti yang memahami metodologi. Programmer yang tidak sekadar bisa menyalin kode, tetapi mengerti bagaimana sebuah sistem bekerja.

Dunia tetap membutuhkan specialist.

Persoalannya, masalah-masalah kehidupan tidak selalu datang dalam kotak-kotak yang rapi sesuai nama program studi kita.

Seorang dokter hari ini tidak hanya berhadapan dengan penyakit, tetapi juga teknologi kesehatan, komunikasi pasien, data, kebijakan, dan manajemen pelayanan.

Seorang dosen tidak cukup hanya memahami substansi mata kuliah. Ia berhadapan dengan generasi mahasiswa yang berubah, teknologi pembelajaran, AI, riset, komunikasi publik, bahkan kebutuhan untuk membangun jejaring.

Seorang programmer bisa menulis kode dengan sangat baik, tetapi ketika ia harus memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan pengguna, menjelaskan solusi kepada manajemen, memimpin tim, atau mempertimbangkan dampak bisnis dari teknologi yang dibuatnya, keahlian teknis saja tidak selalu cukup.

Di titik inilah konsep versatilist menjadi menarik.

Versatilist bukan orang yang tahu semua hal.

Bukan pula orang yang berpindah-pindah bidang tanpa pernah mempunyai kedalaman.

Ia tetap memiliki fondasi kompetensi yang kuat, tetapi mampu menghubungkan kompetensi itu dengan domain lain.

Saya membayangkannya seperti sebuah pohon.

Seorang specialist membutuhkan akar yang dalam.

Seorang versatilist juga membutuhkan akar yang dalam, tetapi ia tidak berhenti pada akar.

Ia menumbuhkan cabang.

Komunikasi.

Bisnis.

Teknologi.

Kepemimpinan.

Data.

Kolaborasi.

Kreativitas.

Kemampuan memahami manusia.

Akarnya tetap dalam, tetapi cabangnya semakin luas.

Barangkali justru kombinasi itulah yang semakin dibutuhkan.

Prediksi Lama, Pertanyaan yang Semakin Relevan

Menariknya, bertahun-tahun setelah prediksi tersebut, Gartner masih menggunakan istilah versatilist ketika membahas talenta di era AI.

Dalam publikasinya pada 2026, Gartner mendefinisikan versatilist sebagai pekerja yang mampu menggabungkan technical depth dengan cross-domain skills. Gartner menyebut hanya sekitar seperempat pekerja IT yang saat ini masuk kategori tersebut, sedangkan tim AI berkinerja tinggi umumnya memiliki sekitar 40–60 persen versatilist.

Artinya, prediksi 40 persen pada masa lalu tidak perlu kita baca sebagai ramalan yang otomatis menjadi kenyataan.

Justru ada pelajaran yang lebih menarik.

Kebutuhan terhadap manusia yang mampu menjembatani berbagai domain ternyata belum hilang.

Bahkan di tengah AI, kebutuhan itu menjadi semakin nyata.

Gartner pada 2026 juga menyoroti kemampuan manusia seperti judgment, membangun kepercayaan, dan persuasi sebagai kemampuan yang semakin penting ketika AI mulai terlibat lebih besar dalam pekerjaan dan pengambilan keputusan.

Ini membuat saya berpikir tentang sebuah paradoks.

Semakin canggih teknologi kita, semakin penting pula keterampilan yang sangat manusiawi.

High Tech Membutuhkan High Touch

Hari ini mesin sudah bisa membantu kita melakukan banyak hal.

Menulis draf.

Merangkum dokumen.

Menganalisis data.

Membuat presentasi.

Menerjemahkan.

Menulis kode.

Menghasilkan gambar.

Mencari pola dari informasi dalam jumlah besar.

Kemampuan yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam bahkan berhari-hari, dalam beberapa kasus kini dapat dilakukan dalam hitungan menit.

Lalu apa yang terjadi ketika kemampuan teknis tertentu semakin mudah diakses?

Nilai manusia mungkin perlahan bergeser.

Bukan hanya pada kemampuan menghasilkan jawaban, tetapi kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat.

Bukan hanya mengolah informasi, tetapi memahami maknanya.

Bukan hanya menghasilkan seratus pilihan, tetapi mempunyai judgment untuk menentukan pilihan yang paling tepat.

Bukan hanya bertanya, “Bisakah teknologi melakukan ini?”

Tetapi juga:

“Apakah kita memang perlu melakukannya?”

“Siapa yang akan terdampak?”

“Apakah keputusan ini adil?”

“Apakah solusi ini benar-benar menjawab persoalan manusia?”

AI dapat membantu kita bekerja lebih cepat.

Tetapi kecepatan tidak otomatis menghasilkan kebijaksanaan.

Teknologi dapat memperbesar kemampuan.

Tetapi ia tidak dengan sendirinya menentukan untuk apa kemampuan itu seharusnya digunakan.

Karena itu, high tech membutuhkan high touch.

Kemampuan berkomunikasi.

Mendengarkan.

Membangun kepercayaan.

Bernegosiasi.

Memahami konteks.

Berkolaborasi.

Memimpin.

Berpikir kritis.

Mungkin selama ini kita menyebutnya soft skills.

Saya semakin ragu apakah kata “soft” masih tepat.

Sebab dalam banyak situasi, justru kemampuan-kemampuan inilah yang paling sulit dipelajari dan paling menentukan apakah keahlian teknis seseorang benar-benar menghasilkan dampak.

Sikap, Pengetahuan, dan Keterampilan

Ada bagian lain dalam slide pada foto itu yang menurut saya tidak kalah penting.

Di sisi kiri tertulis tiga hasil pendidikan:

Sikap.
Pengetahuan.
Keterampilan.

Tiga kata yang terlihat sederhana.

Tetapi semakin saya pikirkan, ketiganya seperti menjawab persoalan yang sedang kita bicarakan.

Pengetahuan menjawab:

Apa yang kita pahami?

Keterampilan menjawab:

Apa yang mampu kita lakukan dengan apa yang kita pahami?

Sedangkan sikap menyentuh pertanyaan yang lebih dalam:

Manusia seperti apa yang menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu?

Ketiganya tidak bisa berdiri sendiri.

Pengetahuan tanpa keterampilan mudah berhenti menjadi teori.

Keterampilan tanpa pengetahuan mudah kehilangan dasar.

Dan pengetahuan serta keterampilan tanpa sikap yang baik bisa kehilangan arah.

Maka mungkin pendidikan hari ini tidak cukup hanya mengukur seberapa banyak mahasiswa mengingat apa yang kita ajarkan.

Kita juga perlu bertanya:

Apakah ia mampu menggunakan pengetahuannya?

Apakah ia mampu menjelaskan sesuatu yang rumit kepada orang yang bukan ahli?

Apakah ia mampu bekerja dengan orang yang berbeda bidang?

Apakah ia mampu mengakui ketika dirinya tidak tahu?

Apakah ia mampu belajar kembali ketika pengetahuan yang dimilikinya sudah tidak mencukupi?

Dan barangkali pertanyaan yang lebih mendasar:

Apakah ilmu yang dimilikinya membuat dirinya semakin mampu memberi manfaat?

Profesi Tidak Lagi Selalu Berjalan Lurus

Pada slide yang sama ada frasa lain:

Profession Paradigm Shifts.

Pergeseran paradigma profesi.

Dulu kita mungkin membayangkan karier seperti rel kereta api.

Kuliah pada suatu jurusan.

Mendapatkan gelar.

Masuk ke sebuah pekerjaan.

Menekuni bidang itu.

Naik jabatan.

Lalu terus berjalan dalam jalur yang relatif sama.

Sekarang perjalanan profesional semakin menyerupai jaringan jalan.

Ada persimpangan.

Ada jalan baru.

Ada bidang yang sebelumnya terpisah kemudian bertemu.

Ada pekerjaan lama yang berubah.

Ada pekerjaan baru yang muncul.

Ada pula kompetensi yang dahulu dianggap tidak berkaitan, sekarang justru harus digunakan bersama.

Karena itu, mungkin kita perlu mengubah cara bertanya.

Bukan hanya:

“Saya lulusan apa?”

Tetapi:

“Masalah apa yang mampu saya bantu selesaikan dengan apa yang saya ketahui?”

Kelihatannya hanya berbeda beberapa kata.

Namun orientasinya berbeda.

Yang satu berangkat dari gelar.

Yang lain berangkat dari kontribusi.

Ketika Pengetahuan Harus Bergerak

Slide itu juga menggambarkan pergeseran dari technopreneur menuju research-based technopreneur.

Bagi saya, ini menyimpan pesan penting untuk perguruan tinggi.

Riset seharusnya tidak selalu berhenti pada laporan.

Pengetahuan perlu bergerak.

Keluar dari ruang kelas.

Keluar dari perpustakaan.

Keluar dari jurnal.

Bertemu dengan persoalan masyarakat.

Kemudian, bila memungkinkan, berubah menjadi produk, layanan, metode, kebijakan, teknologi, atau solusi yang benar-benar digunakan.

Namun agar itu terjadi, peneliti tidak cukup hanya memahami riset.

Ia perlu memahami manusia yang menghadapi persoalan tersebut.

Pengusaha tidak cukup hanya mempunyai keberanian mengambil peluang.

Ia perlu memahami evidence.

Teknolog tidak cukup hanya mampu membuat sesuatu.

Ia perlu memahami apakah sesuatu itu benar-benar diperlukan.

Sekali lagi kita bertemu dengan hal yang sama:

kemampuan menghubungkan.

Sering kali nilai baru justru lahir di antara dua dunia.

Kesehatan bertemu teknologi.

Pendidikan bertemu psikologi.

Bisnis bertemu data.

AI bertemu etika.

Riset bertemu kewirausahaan.

Ilmu bertemu kebutuhan masyarakat.

Barangkali masa depan tidak hanya membutuhkan orang-orang yang ahli menjaga batas disiplin ilmunya.

Kita juga membutuhkan orang-orang yang mampu membangun jembatan di antara batas-batas itu.

Dari Pekerjaan Rutin Menuju Pekerjaan Merancang

Pada bagian lain, slide tersebut menggambarkan pergeseran dari clerical jobs menuju architectural and creative jobs.

Saya tidak membacanya secara harfiah bahwa semua orang harus menjadi arsitek atau pekerja kreatif.

Ada makna yang lebih luas.

Banyak pekerjaan rutin semakin mudah diotomatisasi.

Memindahkan informasi.

Mengisi format.

Membuat laporan standar.

Mengolah data sederhana.

Mengikuti prosedur yang berulang.

Ketika mesin mampu mengambil lebih banyak pekerjaan semacam ini, kontribusi manusia dapat bergeser ke tingkatan yang berbeda.

Dari sekadar menjalankan sistem menjadi merancang sistem.

Dari memindahkan informasi menjadi menafsirkan informasi.

Dari mengikuti prosedur menjadi mengevaluasi prosedur.

Dari menerima masalah menjadi merumuskan masalah.

Dari menghasilkan jawaban menjadi membayangkan kemungkinan.

Di sinilah kreativitas bukan lagi monopoli seniman.

Seorang dosen membutuhkan kreativitas ketika merancang pengalaman belajar.

Seorang dokter membutuhkannya ketika harus menyesuaikan komunikasi dengan kondisi pasien.

Seorang pemimpin membutuhkannya ketika menghadapi masalah organisasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Seorang engineer membutuhkannya ketika solusi standar tidak lagi bekerja.

Kreativitas, dalam konteks ini, adalah kemampuan melihat bahwa keadaan tidak harus selalu seperti sekarang.

Ada kemungkinan lain.

Dan manusia harus mampu menemukannya.

Mungkin Kita Perlu Mengubah Pertanyaan kepada Mahasiswa

Ada satu pertanyaan yang sangat biasa kita dengar:

“Setelah lulus nanti mau kerja di mana?”

Tidak ada yang salah dengan pertanyaan itu.

Kita semua membutuhkan pekerjaan.

Namun menghadapi dunia yang terus berubah, barangkali kita perlu menambahkan beberapa pertanyaan lain.

Masalah apa yang ingin kamu bantu selesaikan?

Kemampuan apa yang ingin kamu kuasai secara mendalam?

Bidang lain apa yang perlu kamu pahami agar kemampuan utamamu lebih berguna?

Apakah kamu mampu menjelaskan keahlianmu kepada orang yang tidak memiliki latar belakang yang sama?

Apakah kamu mampu bekerja bersama orang lain?

Dan satu pertanyaan yang menurut saya semakin penting:

Jika pekerjaan yang kamu inginkan hari ini berubah lima atau sepuluh tahun lagi, apakah kamu siap belajar kembali?

Ini bukan pertanyaan kecil.

Sebab pendidikan formal mempunyai batas waktu.

Kehidupan profesional tidak.

Seseorang mungkin menghabiskan empat tahun untuk memperoleh gelar sarjana, tetapi setelah itu ia bisa menjalani kehidupan kerja selama puluhan tahun.

Mustahil semua pengetahuan yang dibutuhkan sepanjang perjalanan itu diselesaikan dalam empat tahun.

Kurikulum mempunyai batas.

Dunia tidak.

Kompetensi yang Jarang Tertulis di Ijazah

Mungkin karena itulah salah satu kompetensi terpenting tidak pernah benar-benar selesai diajarkan:

kemampuan untuk belajar kembali.

Learn.

Unlearn.

Relearn.

Belajar sesuatu yang baru.

Berani melepaskan cara lama yang tidak lagi memadai.

Kemudian belajar kembali dengan pemahaman yang lebih baik.

Kelihatannya sederhana.

Tetapi semakin lama seseorang berada dalam suatu profesi, kadang semakin berat mengatakan:

“Saya belum tahu.”

Kita mempunyai gelar.

Pengalaman.

Jabatan.

Reputasi.

Semua itu berharga.

Namun semuanya juga dapat membuat kita tanpa sadar mempertahankan cara berpikir yang dahulu berhasil tetapi belum tentu masih tepat hari ini.

Seorang pembelajar mempunyai keberanian yang berbeda.

Ia tidak merasa harga dirinya berkurang karena belum tahu.

Ia justru melihat ketidaktahuan sebagai pintu.

Pintu untuk bertanya.

Mencoba.

Memperbarui diri.

Bertumbuh.

Jangan Menjadi Serba Bisa, Jadilah Mampu Bertumbuh

Di sinilah saya rasa kita juga perlu berhati-hati memahami istilah versatilist.

Pesannya bukan:

“Kuasailah semuanya.”

Itu mustahil.

Kita mempunyai waktu, energi, dan kapasitas yang terbatas.

Menjadi versatilist bukan berarti mengambil sepuluh kursus sekaligus, mengumpulkan sertifikat sebanyak-banyaknya, lalu menulis semua keterampilan yang sedang populer di profil profesional kita.

Yang dibutuhkan tetap sebuah kedalaman.

Kita membutuhkan rumah intelektual, sesuatu yang benar-benar kita kuasai dan terus kita dalami.

Namun dari rumah itu kita perlu membuka pintu dan jendela.

Melihat dunia.

Berbicara dengan disiplin lain.

Mempelajari bahasa orang lain.

Mencari hubungan yang sebelumnya tidak terlihat.

Bukan menjadi manusia yang serba bisa.

Melainkan menjadi manusia yang mampu bertumbuh melampaui kotak pertama yang diberikan kepadanya.

Pendidikan untuk Dunia yang Belum Kita Kenal

Inilah barangkali tantangan terbesar pendidikan.

Kita mendidik anak muda hari ini untuk memasuki dunia yang beberapa bagiannya bahkan belum ada.

Kita tidak mengetahui secara pasti teknologi apa yang akan dominan sepuluh tahun mendatang.

Kita tidak mengetahui pekerjaan apa yang akan muncul.

Kita juga tidak mengetahui kompetensi teknis mana yang akan jauh lebih mudah dilakukan oleh AI.

Maka pendidikan tidak mungkin hanya mempersiapkan mahasiswa untuk satu jenis pekerjaan.

Yang dapat kita lakukan adalah membantu mereka membangun kapasitas untuk terus berkembang ketika pekerjaannya berubah.

Pengetahuan yang kuat.

Keterampilan yang dapat digunakan.

Sikap yang membimbing keduanya.

Kemampuan berkomunikasi.

Kemampuan bekerja bersama.

Kemampuan berpikir.

Kemampuan mempertanyakan.

Kemampuan mencipta.

Dan keberanian untuk belajar kembali.

Pada 2026, Gartner bahkan masih menempatkan versatility sebagai persoalan talenta penting ketika AI membentuk ulang pekerjaan. Dalam riset terbarunya, Gartner menyebut proporsi pekerja IT yang dianggap versatilist belum meningkat sejak 2021.

Bagi saya, fakta itu memberikan pelajaran menarik.

Teknologi boleh berubah sangat cepat.

Tetapi manusia tidak otomatis ikut berubah.

Kita harus memilih untuk bertumbuh.

Akhirnya, Kembali Menjadi Pembelajar

Ketika kembali melihat slide itu, saya merasa angka 40 persen bukan lagi bagian yang paling penting.

Bukan pula istilah specialist, versatilist, technopreneur, atau creative jobs.

Ada satu pesan yang lebih sederhana.

Jangan pernah mendefinisikan diri terlalu sempit berdasarkan apa yang mampu kita lakukan hari ini.

Pekerjaan bisa berubah.

Jabatan bisa hilang.

Teknologi bisa menggantikan sebagian tugas.

Bidang ilmu bisa bertemu dengan bidang lain.

Tetapi ada satu identitas yang sebaiknya tidak pernah kita tinggalkan:

pembelajar.

Orang yang memiliki kedalaman, tetapi tetap membuka diri.

Orang yang ahli, tetapi tidak merasa selesai.

Orang yang mempunyai profesi, tetapi tidak terpenjara oleh profesinya.

Orang yang ketika dunia berubah tidak hanya bertanya, “Apakah keahlian saya masih dibutuhkan?”

Ia juga mampu bertanya:

“Apa yang perlu saya pelajari agar saya masih dapat memberi manfaat?”

Mungkin itulah makna versatilist yang paling penting bagi saya.

Bukan manusia yang mengetahui semuanya.

Bukan manusia yang mampu melakukan semuanya.

Tetapi manusia yang memiliki akar cukup kuat untuk terus menumbuhkan cabang baru.

Dan barangkali masa depan memang bukan milik mereka yang sudah selesai belajar.

Masa depan lebih terbuka bagi mereka yang tidak pernah menganggap dirinya selesai bertumbuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung. Semoga langkah Anda hari ini membawa semangat baru untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak. Saya menghargai setiap dedikasi dan perjalanan Anda. Sampai kita berjumpa kembali, dalam tulisan atau kehidupan nyata.