Tampilkan postingan dengan label INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INDONESIA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Agustus 2025

Rakyat Marah Karena Kezaliman, Pemimpin Wajib Mendengar



Hari-hari ini Indonesia sedang memanas. Jalanan dipenuhi demonstrasi, kantor DPR dibakar, mobil aparat dilumpuhkan, dan amarah rakyat meluap ke mana-mana. Semua ini bukan muncul tiba-tiba. Amarah itu lahir dari rasa sakit yang menumpuk: ekonomi sulit, harga kebutuhan melambung, tapi para wakil rakyat hidup dengan tunjangan selangit. Luka semakin dalam ketika ada rakyat kecil, seorang pengemudi ojek online, tewas karena terlindas kendaraan aparat.

Jumat, 09 Agustus 2019

Rebranding Indonesia! Kenapa Harus Rebranding?

Oleh: Haikal Haidar

Jika branding merupakan upaya yang dilakukan oleh sebuah brand untuk mendapatkan tempat di hati konsumennya. Maka Rebranding merupakan upaya yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengubah atau memperbaharui sebuah brand yang telah ada agar menjadi lebih baik dan mendapatkan posisi yng lebih tepat di mata konsumen.

Kenapa sebuah perusahaan, lembaga bahkan negara harus melakukan sebuah rebranding? Bukankah dengan rebranding, bisa mengubah sebuah nilai atau value yang telah lama diakui dan dianut oleh perusahaan atau lembaga tersebut?

Rebranding umumnya dilakukan karena alasan finansial, masalah kepemimpinan, prospek pasar yang menuntut perusahaan untuk berubah secara total, sampai kepada alasan merger atau bergabungnya dua perusahaan.

Lalu bagaimana dengan rebranding sebuah negara? Apakah alasannya juga sama. Sejatinya rebranding apapun itu, entah perusahaan besar atau kecil, organisasi besar atau kecil, bahkan negara adidaya lebih-lebih negara berkembang, seringkali terjadi karena beberapa alasan fundamental:

1. Identitas dari negara tersebut tidak jelas.
Lho kok tidak jelas? Ya, identitas negara sejatinya bukan hanya sekedar lambang negara, bendera, bahasa resmi, lagu kebangsaan dan lain-lain. Identitas tertinggi sebuah negara adalah value dan nilai-nilai yang dianut oleh segenap warga negaranya.

Selasa, 05 Maret 2019

Apa yang Bisa Mempersatukan Kita?

Berbagai tanggapan dan alasan yang dikemukakan oleh para pendukung calon presiden menyatakan, “Alasan memilih si A adalah karena ia bisa mempersatukan, ia bisa diterima untuk semua kalangan”. Semua tenaga, pikiran, sumber daya dikerahkan untuk membuat persepsi masyarakat untuk menerimanya sebagai tokoh yang merakyat dan dekat dengan rakyat.

Kita tidak bisa meraih hati semua manusia dengan semua harta yang kita miliki. Berapa banyak yang akan kita habiskan untuk membeli hati manusia? Tidak akan ada yang sanggup untuk membeli hati manusia. Hati mereka terlalu mahal untuk dibeli demi kepentingan sesaat. Dan itu adalah sebuah penghinaan terhadap kemanusiaan.

Akhlaklah yang bisa menarik manusia untuk mencintai sesama mereka. Ingatlah, sebaik apa pun tujuan yang ingin kita tempuh, jika prosesnya salah dan menghalalkan segala cara kita akan tetap gagal. Mengapa? Karena kita menggadaikan akhlak sebagai hamba Allah yang diamanahkan untuk mengelola bumi dan mengabdikan diri (hidup dan mati) untuk-Nya.

Tulisan ini berusaha untuk memberikan sumbang saran  terkait pandangan mendasar yang bisa mempersatukan kita. Sebagian banyak orang menyatakan bahwa  yang mempersatukan kita adalah manusia. Sehebat apapun manusia, ia tetaplah manusia yang memiliki keterbatasan waktu untuk hidup di pentas dunia.

Salah satu tugas pemimpin adalah meletakkan pondasi agar persatuan sebuah masyarakat terus berlangsung agar pembangunan sumber daya manusia dan alam bisa berkelanjutan.

Kamis, 24 Januari 2019

Membangun Semangat Baru

Maha Suci Allah, dzat yang memiliki segalanya. Maha Cermat dan Maha Sempurna, sehingga Ia sama sekali tidak membutuhkan apapun dari hamba-hambanya. Tidak ada kepentingan dan manfaat yang kita berikan, karena Allah secara total dan Maha Sempurna telah mencukupi diri-Nya sendiri. Allah tidak akan bertambah mulia dengan ketaatan kita, keberpalingan dan kemaksiatkan yang dilakukan seluruh manusia tidak akan mengurangi kemuliaan Allah. jika manusia berpaling dan bermaksiat maka sebenarnya ialah yang akan binasa.

Saudara-saudaraku yang baik, kita tahu bahwa negeri kita ini sudah terlalu banyak dilanda bala bencana, tetapi Insya Allah akan datang suatu masa dimana negeri ini akan bangkit menjadi negeri yang terhormat. Syaratnya adalah :

Kita harus mempunyai semangat, kalau selama ini bangsa kita menjadi babak belur, itu semua bukan karena miskin alamnya, di jantung Ibu kota Negeri ini tidak sedikit orang-orang yang pintar berkumpul dan merumuskan arah pembangunan dan melakukan pembangunan, bahkan  sekarang sampai ke tingkat desa semua ikut membangun. Tapi tepas saja, korupsi masih marak, pembangunan mangkrak, dan yang lebih miris adalah kita sudah saling intai mengintai, saling sikut, dan serang. Apalagi menjelang tahun politik seperti saat ini. kenapa? karena miskin hati kita dari tuntunan ilahi dan sunnah nabi-Nya dalam menyikapi perbedaan.

Kita ini pelit sekali untuk senyum kepada orang lain dan pelit sekali untuk memaafkan orang lain. Maka jikalau saudara-saudaraku setuju maka Tahun 2019 ini akan kita coba jadikan menjadi tahun akur bagi kita semua.

Jangan ada lagi pertengkaran, karena buat apa? tidak menghasilkan sesuatu yang berguna, sungguh sedih rasanya melihat negara yang kaya seperti ini bisanya hanya berkelahi. Oleh karena itu kita butuh para pemimpin yang senang akur, kita butuh orang-orang pintar yang bisa akur dan kita butuh juga rakyat yang mau akur. setuju? Insya Allah.

Sabtu, 10 November 2018

Kepahlawanan Masa lalu, Hari ini, dan Masa Depan

Setiap tahun,  Indonesia menobatkan tanggal 10 November  sebagai hari pahlawan. Pahlawan berasal dari bahasa Sansekerta “Phala-Wan”, artinya orang yang menghasilkan buah atau hasil karya (phala). 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang disebut sebagai pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani. Sedangkan dalam Peraturan Presiden No. 33 tahun 1964, untuk disebut Pahlawan harus memenuhi kriteria tertentu dan yang bersangkutan telah wafat dan sebagai seorang pejuang.

Karya besar, penuh pengorbanan dan jelas manfaatnya bagi kehidupan manusia dan lingkungan adalah pekerjaan kepahlawanan. Apapun motif niatnya, manusia patut menghargainya.

Ustadz Rosyadi mengingatkan, bagi kita yang memiliki kerja kepahlawanan itu tentu tidak cukup demi memperoleh penghargaan manusia. Justru bagi para perindu cinta Ilahi dan kampung surgawi bukan kerja kepahlawan semata yang ditekuninya tetapi dia juga mengawal dan memastikan motif niat dirinya dalam mengerjakan semua itu.

Bagi orang yang mencintai kampung akhirat dan amat besar cintanya kepada Sang Pencipta, apresiasi dari Allah jauh lebih penting dan utama daripada yang diperoleh dari manusia.

Minggu, 30 September 2018

Palu-Donggala Airmata Kita


Bencana kembali menghenyak. Bukan satu, bukan dua. Ada beberapa tempat yang sedang menghadapi musibah dari gempa disusul tsunami, bencana seakan belum mau berhenti.

Kita turut berduka atas musibah gempa dan tsunami yang terjadi tanggal 28 September 2018 di Palu- Donggala.


Saudaraku, setiap bencana yang hadir memberikan kita peluang untuk beramal sholeh dan semakin mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta Alloh Subhanahu wata'ala.

Hartamu yang hakiki adalah harta yang engkau sedakahkan.


Dengan mengharap ridho اَللّهُ Mengajak bapak/ibu/saudara berpartisipasi dalam membantu saudara kita yang sedang mendapat musibah GEMPA DAN TSUNAMI PALU DAN SEKITARNYA dengan tetap membawa misi dakwah pengobatan Islam, untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kesejehteraan masyarakat melalui Islamic Medicine

Bersama Divisi Sosial IIMF dan Relawan IIMF akan mengirimkan bantuan ke lokasi GEMPA DAN TSUNAMI PALU.

Kami menerima donasi dalam bentuk dana maupun barang

Konfirmasi CP
Suster Windy 089681226250

Mohon menambahkan nominal transfer dengan angka 28 dibelakangnya.

Contoh : Hamba Allah Rp 1.000.028,-

BNI SYARIAH Norek 6666 212 212
(No kode bank 009)

AN YAYASAN PENGEMBANGAN PENGOBATAN ISLAM INTERNASIONAL

Semoga Allah membalas kebaikan Bapak/ Ibu/ Saudara semua dengan  balasan kebaikan yang lebih baik lagi. Aaamin.

Jakarta, 17 Muharram 1440

Selasa, 17 April 2018

Janji Ilahi dan Pengharapan


Perbincangan delapan mata yang kami lakukan malam itu sangat berkesan hingga saat ini. Satu hal yang selalu beliau ajarkan adalah untuk meluangkan waktu mengamati perkembangan keadaan sosial masyarakat, khususnya dalam media.  Tentu dengan dosis yang pas ya. Karena membaca Al-Qur’an sudah tentu wajib, mentadabburi, mengamalkan, dan mendakwahkannya.

Mengapa ini penting? Tentu fenomena yang terjadi di tengah-tengah umat ini kita harus carikan solusi dan sudut pandang yang tepat. Kami malam itu berbicara tentang kondisi negeri ini dan bagaimana cara yang tepat menyikapinya.

Saya memahami dengan baik, di tengah kondisi yang dianggap sebagian orang tahun politik saat ini. Kita tanpa sadar di bawah untuk saling membenci, saling menghujat, akhirnya terprovokasi tanpa sadar. Kecuali hamba-hamba Allah yang mendapatkan bimbingan dan hidup di bawah naungan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Faktanya di lapangan, sebagian masyarakat mudah termakan isu yang di jual oleh musuh-musuh islam yang tidak sedang dengan kemajuan islam. Saat itulah, dalam menyikapi gejolak yang terjadi di tengah masyarakat, ada yang terlalu ekstrem menyikapi dengan berlebihan dan ketakutan dan ada juga yang tidak peduli sama sekali dengan kondisi bangsa. Merasa bahwa bangsa ini akan aman dan terus ada sampai hari kiamat. 

Baca juga: Moral dan Peradaban Menurut Ibnu Khaldun

Bagaimana menyikapinya?

Senin, 26 Maret 2018

Ghost Fleet Dalam Pandangan Dahlan Iskan


Oleh : Dahlan Iskan

Sebenarnya cerita seru dalam sebuah novel itu biasa saja. Tapi karena penulisnya seorang ilmuwan bidang strategi kemiliteran novel Ghost Fleet ini dianggap bukan hanya fiksi.

Apalagi Peter Warren Singer ini, penulis novel itu, meraih doktornya di Harvard. Dia juga analis di lembaga think thank terkemuka di Amerika: Brookings Institute.

Disiplin ilmunya bidang militer dan politik hubungan internasional. Maka novel Ghost Fleet ini dianggap karya ilmiah.

Tentang ramalan masa depan yang dekat yang pasti terjadi: tahun 2030 Indonesia jadi negara gagal. Akan ada perang lagi di Timor.

Penguasa di Tiongkok akan diambil alih satu tim aneh: gabungan antara pengusaha dan militer. disebut Direktorate. Pengendali negara bukan lagi politbiro partai. Tapi direktorate itu.

Inilah novel tentang gambaran perang dunia ke 3 nanti. Perang dengan menggunakan teknologi baru: penuh unsur artificial intelligence. Kecerdasan buatan.

Robot jet tempur. Remaja menghancurkan sistem komputer persenjataan. Dan semua itu tentang pertempuran gaya baru. Antara Tiongkok dan Amerika.

Dan inilah sebenarnya inti karya sastra ini: Perang Pasifik baru. Indonesia hanya disebut agak sekilas. Mungkin karena letaknya dekat Pasifik.

Dalam perang baru itu Hawaii direbut Tiongkok. Tidak diduduki Tiongkok tapi menjadi kawasan yang terpisah dari Amerika.

Penulis novel tersebut, Peter Warren Singer, 43 tahun, nemang bukan sembarang ilmuwan. Dia meraih gelar doktor dari Harvard. Tulisan-tulisannya menyebar di semua koran besar Amerika. Mulai dari Boston Globe, New York Times, Washington Post sampai Los Angeles Times.

Pernah juga masuk tim sukses pencalonan Obama jadi Presiden Amerika. Dia sangat berpengaruh di lembaga think thank Brooking Institute di Washington DC. Lembaga yang sudah berumur 100 tahun lebih.

Dia dikenal juga sebagai anak muda dengan karir tercepat. Dan pikirannya cemerlang.

Bisa jadi novel itu memang warning dari seorang ilmuwan untuk negaranya. Agar waspada pada kemajuan pesat Tiongkok. Termasuk di bidang artificial intellegence (AI). Yang berbeda dengan di Amerika.

Di Tiongkok AI dipelopori oleh perusahaan-perusahaan raksasa. Dengan pendekatan bisnis. Bukan oleh pemerintah. Atau lembaga riset di bawah pemerintah.

Khusus di bidang AI ini pemerintah Tiongkok justru menunjuk empat raksasa IT-nya: Ali Baba, Tencent, Baidu dan iFlyTek. Untuk berada di front depan. Dengan kemampuan penyediaan dana riset yang begitu besar.

Mungkin makalah-makalah ilmiah PW Singer kurang dapat perhatian dari pemerintahnya. Peringatannya secara ilmiah mungkin tidak dianggap menarik. Maka Singer mengajak wartawan terkemuka, August Cole menuangkan pikiran ilmiahnya itu ke dalam karya fiksi. Lantas dia wujudkan dalam bentuk novel.

Maka kalau pun ada unsur dramatisasi menjadi sah. Dengan dalih novel toh memang fiksi.

Mungkin Singer juga tidak bermaksud memberi warning pada Indonesia. Bahwa dia menceritakan Indonesia akan berantakan pada tahun 2030 mungkin hanya untuk menambah dramatisasi.

Justru kita sendiri yang harusnya menganggap novel itu sebagai warning. Agar Indonesia jangan sampai jatuh menjadi negara gagal.

Memang di tengah menggunungnya hutang Indonesia novel itu seperti tiba-tiba ibarat ramalan. Apalagi struktur hutangnya berat ke pasar bebas. Bukan seperti hutang di zaman lama yang lebih multilateral antar negara.

Bersamaan pula dengan data yang dikeluarkan BPS bahwa jumlah orang miskin ternyata justru bertambah. Dan soal keadilan juga lagi hangat dipersoalkan.

Padahal ketika novel itu ditulis (2014, terbit 2015) kondisi Indonesia belum seperti itu. Maka kita harus menganggap novel itu peringatan yang baik. Demikian juga bagi Amerika.

Gambaran tentang kekuatan baru Tiongkok memang tidak boleh diabaikan. Bukan hanya dari serunya novel itu. Juga sudah tergambar dari film baru yang amat laris di Tiongkok: Operation Red Sea.

Saya menontonnya minggu lalu. Di bioskop di Beijing. Khusus untuk menangkap gejala yang digambarkan novel Ghost Fleet.

Itu seperti gabungan antara film Rambo dan film kemenangan Amerika di Perang Teluk.

Versi Tiongkok. Kini Tiongkok sudah punya film macam Rambo versi mereka sendiri. Kejagoan bukan lagi seperti yang digambarkan dalam film silat Hongkong. Zaman Bruce Lee sudah kuno. Sudah ditinggalkan.

Kini penggambaran kekuatan baru Tiongkok sudah lewat Rambo gaya Tiongkok. Ditambah peralatan perang modern yang menjadi senjata pamungkas. Didukung artificial intelligence.

Gambaran kejagoan Tiongkok itu juga terlihat dari film yang lebih laris: Wolf Warrior 2. Saya juga menontonnya minggu lalu.

Di sini keramboannya lebih hebat lagi. Tak heran kalau Wolf Warrior 2 menjadi film terlaris dunia tahun 2017.

Dengan pendapatan 874 juta dolar. Wolf Warrior 2, untuk sepanjang sejarah film, hanya kalah dari Star Wars episode The Force Awakens (936 juta dolar). Wolf Warrior 2 jauh mengalahkan Titanic, Jurrasic World atau Avatar.

Industri film Hongkong dengan andalan kungfunya kini sudah ditinggalkan. Tiongkok yang baru, sudah pula merambah ke film. Yang menggambarkan era baru itu.

Menyaksikan Operation Red Sea dan Wolf Warrior 2, lalu mencermati novel Ghost Fleet rasanya tahun 2030 itu seperti di depan mata.

Padahal dua-duanya fiksi.

Photo Credit: wsj.com 
Sumber Tulisan: disway.id

Senin, 18 September 2017

Ibadah Qurban, Spirit Berbagi Untuk Mengatasi Kesenjangan Ekonomi Umat


Jamaah sholat ‘id yang dimulaiakan Allah Subhanahu wata’ala, pertama marilah kita bersyukur, pada hari ini, kita kembali menunaikan sholat ‘idul Adha berjamaah. ‘Idul Adha’ juga disebut ‘Idul Qurban. Karena itu, bagi yang mampu, dianjurkan menyembelih hewan Qurban untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkan sehingga nikmat rezeki yang kita peroleh dapat dibagi untuk kepentingan sesama. Bahkan, karena pentingnya menyembelih qurban, sampai-sampai Rasululloh Sholaulllohhu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Barangsiapa diberikan keluasan rizki dan tidak mau menyembelih hewan qurban, maka janganlah dekat-dekat dengan masjid kami.” (H.R. Ahmad dan Ibn Majah).

Sambil mempraktikkan spirit untuk berqurban, semangat untuk saling berbagi dan saling peduli (the spirit of sharing and caring) dalam peri kehidupan bersama, marilah kita saling ingat mengingatkan satu sama lain bahwa Islam yang kita yakini sebagai agama yang paling benar, dan paling tepat untuk menuntun perjalan hidup kita harus kita mewujudkan dalam prilaku kita sehari-hari yang harus hidup di tengah kemajemukan dalam peri kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan bahkan dalam pergaulan antar umat manusia di era globalisasi dewasa ini. semua pemimpin dan pejabat di negara kita selalu mengajak kita untuk bersatu. Cita-cita kebangsaan kita dalam sila ketiga, juga adalah persatuan Indonesia, yaitu persatuan, kerukunan, dan harmoni di tengah kemajemukan hidup berbangsa.

Namun, dalam kenyataannya, persatuan membutuhkan kondisi yang adil dan berkeadilan terutama keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bagaimana mungkin mengharapkan kerukunan jika kondisi kehidupan bersama dalam masyarakat berlangsung sangat timpang  antar kelompok dan antar golongan penduduk. Jumlah penduduk Muslim di negeri ini sebanyak 87% dari 250 juta jiwa dan menempatkan Indonesia dewasa ini sebagai negeri berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di Dunia. Akan tetapi, penguasaan di bidang perekonomian sebaliknya justru minoritas. Dari daftar 100 orang terkaya di Indonesia, yang beragama Islam hanya sekitar 20% saja.

Senin, 14 Agustus 2017

Menjauhi Prasangka



“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Hujurat: 12)

Akhir-akhir ini masyarakat selalu disuguhkan tontonan yang bisa mengarah menjadi tuntunan yang kurang mendidik. Saling  curiga mencurigai  antara masyarakat dan pemerintah. Bahkan ada kecenderungan pemerintah yang mencurigai masyarakat.

Sejumlah kasus makar, beras maknyus, pembubaran ormas, bahkan media republika pagi ini pemerintah akan membubarkan ormas yang masih dirahasiakan namanya.

“Wahai Orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan daripada prasangka.”

Apa itu prasangka? Menurut Buya Hamka dari tafsirnya Al-Azhar. Prasangka ialah tuduhan yang bukan-bukan perasangkaan yang tidak beralasan, hanya semata-mata rahmat yang tidak pada tempatnya saja. “karena sesungguhnya sebagian daripada prasangka itu adalah dosa”. Prasangka adalah dosa karena dia adalah tuduhan yang tidak beralasan dan bisa saja memutuskan silaturahim di antara dua orang yang barbaik.

Rabu, 19 April 2017

Pertimbangan dalam memilih Ahok atau Anis dan Prediksi Gubernur Terpilih DKI Yang Baru

Kita saat ini sedang memasuki jam-jam kritis. Mungkin sebagian kita bertanya, kenapa Pilkada DKI begitu banyak menyedot perhatian seantero negeri?

Berdasakan pendapat pengamat Mas Yodhia, Ekonomi bisnis Jakarta tak pelak merupakan urat nadi negeri ini. Sekitar 70% peredaran uang ada di kota Jakarta. Maka proses pemilihan top leader ini mungkin memberikan impact yang signifikan bagi roda ekonomi bisnis bangsa ini.

Minggu, 02 April 2017

Khutbah Jum'at : “Bahaya Sekularisme bagi Iman dan Islam”

Oleh: Prof. Dr. –Ing. Misri Gozan, M.Tech., IPM

Khutbah Jum’at di Masjid Ukhuwwah Islamiyah UI

3 Rajab1438 H –3 Maret 2017 M

Pembuka:


اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.

Wasiat Taqwa:

Jika kita bertaqwa, Allah SWT akan memberikan kepada kita al-Furqon.

“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan[607]. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS 8: 29)

Pengingat:

Sebelum Khatib yang lemah ini menguraikan khutbah jumat, perkenankan khotib  mengingatkan kita semua, apabila khutbah sedang berlangsung, seorang dilarang menyibukkan diri dengan hal-hal yang bisa memalingkan konsentrasinya dari menyimak khutbah. Sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ: (أَنْصِتْ) وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ
“Jika kamu berkata kepada temanmu, “Diamlah” sementara imam sedang berkhutbah di hari jumat, sungguh ia telah berbuat sia-sia.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Perhatikan, bahwa Rasulullah yang mulia melarang kita melakukan perbuatan “mulia” menyeru yaitu kawannya supaya diam di saat imam sedang khutbah. Namun karena dilakukan pada saat yang tidak tepat, perbuatan tersebut menjadi tidak berpahala. Bahkan justru berdampak buruk bagi pelakunya. Maka, terlebih pembicaraan yang hukum asalnya mubah. Tentu lebih terlarang lagi. Juga menulis menjawab SMS, WA, browsing dsb di saat khutbah sedang berlangsung.


Hadirin sidang jumat rahimakumullah,

Baru-baru ini, dalam kesempatan peresmian Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara di KecamatanBarus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Jumat (24/3/2017), seperti dikutip Antara, Presiden Joko Widodo meminta semua pihak agar memisahkan persoalan politik dan agama. 

Menurut Presiden, pemisahan tersebut untuk menghindari gesekan antar umat. Saya berbaik sangka terhadap Presiden, yang mungkin bermaksud meredam gesekan-gesekan kecil dalam suasana Pilkada. Namun banyak pihak menganggap pernyataan Presiden itu sangat perlu ditanggapi dengan sangat serius.

Seorang tokoh besar umat Islam, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI Pusat) sekaligus  Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) , Bapak KH Kiai Ma'ruf Amin pun menyatakan pendapatnya. Menurut Kiai Ma'ruf, agama dan politik mempunyai hubungan yang saling mempengaruhi, sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan dan justru harus saling menguatkan. "Agama dan politik itu kan saling memengaruhi, politik kebangsaan itu kan juga harus memperoleh pembenaran dari agama, kalau tidak bagaimana?" ujarnya saat menghadiri Refleksi Kebangsaan 71 Tahun Muslimat NU di Hotel Crowne Plaza, Jakarta Selatan, Senin (27/3).

Kamis, 02 Maret 2017

Negara Federasi Islam Global


Terlepas dari pro kontra kunjungan Raja Salman dari Arab Saudi kemarin ke Indonesia, sehingga ada yang benci sampai  ke ubun-ubun dan ada pula yang over estimate (mubalaghoh),  saya berpikir alangkah indahnya jika  kunjungan yang fantastis ini membahas nasib masa depan umat Islam dan negeri-negeri Islam yang masih menghadapai penjajahahan oleh bangsa asing dan aseng sejak satu abad belakagan.

Semua sepakat bahwa umat Islam dan negeri-negeri masih dalam penjajahan, kalau tidak secara fisik seperti Palestina oleh kaum Yahudi, ya secara ekonomi, politik, budaya, pemikiran, perundang-undangan seperti Indonesia dan seterusnya.

Umat Islam dan negeri Islam bukan hanya perlu kerjasma ekonomi, pendidikan dan politik, pertahanan dan keamanan dan seterusnya, dalam bingkai nasionalisme masing-masing, akan tetapi lebih dari itu, yakni kesatuan visi dan misi Islam (wihdaturrukyah wa arrisalah Islamiyyah) sehingga membentuk sebuah kekuatan Islamic global state sebagai langkah awal tegaknya kembali kekuatan kaum Muslimin akhir zaman dalam bingkai Khilafah ala Minhajinnubuwwah yang diprediksi Rasul Sholaullohhu ‘alaihi wassalam yang pasti terwujud di akhir zaman.

Kerjasama antar negera-negara Muslim yang dibingkai dengan nasionalisme tidak akan banyak membantu penyelesaian persoalan-persoalan yang sedang dihadapi umat Islam yang sampai saat ini mereka hidup dan menjalankan pemerintahan dan politik di bawah hegemoni asing dan aseng.

Sebab itu, semoga ada di antara pejabat-pejabat Muslim dan pemimpin-pemimpin negeri Islam yang berpikir lebih maju lagi dan berani mengangkat tema Negara Federasi Islam Global sebagaimana yang di awal tahun 2000an pernah diwujudkan al-Marhum Najmuddi  Erbakan PM Turki saat itu mendirikan G8 (8 Negara Msulim bersatu, termasuk Indomesia) sebagi upaya mengimbangi kekuatan ekonomi, politik dan militer kelompok G7.

Semoga tulisan singkat ini menjadi bahan renungan kita semua.. amin

Detik-detik menjelang pidato Raja Salman 

Baca juga: Geberakan Raja Baru Arab Saudi Salman Bin Abdul Aziz

Gambar: Detik

Jakarta, 3 Jumadil Akhir 1438 H