Hari-hari ini Indonesia sedang memanas. Jalanan dipenuhi demonstrasi, kantor DPR dibakar, mobil aparat dilumpuhkan, dan amarah rakyat meluap ke mana-mana. Semua ini bukan muncul tiba-tiba. Amarah itu lahir dari rasa sakit yang menumpuk: ekonomi sulit, harga kebutuhan melambung, tapi para wakil rakyat hidup dengan tunjangan selangit. Luka semakin dalam ketika ada rakyat kecil, seorang pengemudi ojek online, tewas karena terlindas kendaraan aparat.
Wajar rakyat marah. Sangat wajar.
Yang tidak wajar adalah ketika suara rakyat malah ditanggapi dengan kata-kata kasar: menyebut mereka “tolol” hanya karena ada yang bersuara keras meminta perubahan.
1. Pemimpin Jangan Sombong
Ingatlah, jabatan itu bukan kehormatan pribadi. Itu amanah dari Allah dan rakyat. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari-Muslim).
Maka seorang wakil rakyat yang merendahkan rakyat, sejatinya sedang menghina dirinya sendiri.
2. Aparat Jangan Zalim
Aparat adalah pelindung rakyat, bukan mesin yang menakut-nakuti. Setetes darah rakyat yang tumpah tanpa keadilan akan menjadi beban besar di hadapan Allah. Firman-Nya dalam QS. An-Nisa’:135 jelas:
“Tegakkanlah keadilan, walaupun terhadap dirimu sendiri, ibu bapakmu, dan kaum kerabatmu.”
3. Bedakan Rakyat & Penyusup
Namun, di balik semua ini, kita juga tidak boleh buta. Kemarahan rakyat yang tulus sering disusupi oleh pihak-pihak yang ingin memancing di air keruh. Demonstrasi damai adalah hak rakyat, tetapi tindakan membakar dan merusak bukanlah wajah asli rakyat. Itu justru mengaburkan pesan utama: tuntutan keadilan.
4. Jalan Keluar: Dengarkan, Jangan Bungkam
Yang dibutuhkan sekarang bukanlah intimidasi, apalagi cacian. Yang dibutuhkan adalah telinga yang mau mendengar, hati yang mau merasakan, dan kebijakan yang berpihak pada rakyat. Aspirasi rakyat jangan dibungkam, tapi difasilitasi. Rakyat tidak butuh kata-kata manis, mereka butuh bukti nyata.
Saya memahami amarah rakyat, dan saya berdiri di sisi mereka. Tetapi saya juga mengingatkan: jangan sampai perjuangan ini ternodai oleh anarkisme yang justru merugikan kita sendiri.
Mari kita jaga agar amarah rakyat berubah menjadi energi perubahan yang bermartabat. Mari kita dorong agar pemimpin benar-benar mendengar, bukan sekadar berbicara. Mari kita buktikan bahwa bangsa ini mampu memperjuangkan keadilan tanpa harus mewariskan kebencian.
Ingat firman Allah dalam QS. Al-Maidah:8:
“Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil.”
Semoga Allah menjaga negeri ini dari perpecahan, menguatkan rakyat yang terzalimi, dan menuntun para pemimpin untuk kembali pada amanah yang suci.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung. Semoga langkah Anda hari ini membawa semangat baru untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak. Saya menghargai setiap dedikasi dan perjalanan Anda. Sampai kita berjumpa kembali, dalam tulisan atau kehidupan nyata.