Tampilkan postingan dengan label KHUTBAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KHUTBAH. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Juni 2025

Tiga Kalimat Berharga


Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahil Hamd.

Hadirin jama’ah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Pada pagi yang penuh keberkahan ini, tepat 10 Dzulhijjah, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengumpulkan kita di tempat mulia ini untuk merayakan hari raya Idul Adha. Sungguh ini merupakan nikmat besar yang harus kita syukuri, bukan hanya dengan ucapan, namun juga dengan tindakan nyata berupa ketakwaan, amal saleh, dan kesungguhan dalam ketaatan.

Semoga Allah menjadikan kita semua hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur dan tidak menyia-nyiakan nikmat waktu dan kesempatan beribadah yang diberikan.

Shalawat dan salam kita haturkan kepada teladan utama umat ini, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, sang pembawa risalah yang mulia. Semoga kesejahteraan juga tercurah kepada keluarga beliau, sahabat-sahabat beliau, dan seluruh umatnya yang setia mengikuti jalan kenabian hingga hari kiamat.

Banyaknya para kaum muslimin yang saat ini sedang berhaji dan kaum muslimin yang saat ini sudah mempersiapkan hewan kambing atau sapinya untuk dikurbankan setelah ini. Itu semua sebagai ekspresi bentuk kecintaan mereka kepada Allah dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga semuanya diterima Allah, baik yang sedang berhaji dan yang berkurban. Dan semoga dihari kiamat, kita semua termasuk orang yang beruntung dengan syafaat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

TIGA KALIMAT BERHARGA

Minggu, 30 Maret 2025

Penyakitan


Hari ini, takbir bergema di seluruh penjuru dunia. Langit dan bumi seakan ikut bersuka cita menyambut hari kemenangan umat Islam: Idul Fitri 1446 H. Setelah sebulan penuh menjalani puasa Ramadhan, berjibaku melawan hawa nafsu, kini tibalah saatnya kita kembali ke fitrah—kembali suci, bersih, dan penuh harapan.

Semoga Allah menerima semua amal ibadah kita selama ini dan terutama amal ibadah di bulan ramadan, baik puasa, tarawih, witir, membaca Al-Quran, infak sedekah dan zakat fitrah dan semoga kita tidak menjadi orang yang penyakitan.

Namun, di balik kebahagiaan ini, mari kita luangkan sejenak waktu untuk merenung. Adakah hati kita benar-benar sudah bersih? Atau jangan-jangan, tanpa sadar, kita masih menyimpan penyakit yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar penyakit fisik? Penyakit yang tak terlihat, tetapi mematikan: penyakit hati.

Apa Itu Penyakit Hati?

Senin, 25 Januari 2021

Empat Amalan Pelancar Rezeki


Kebutuhan seseorang terhadap segala sesuatu yang menyenangkan hidupnya di dunia dapat memacu tiap orang berlomba-lomba bekerja, berusaha, berbisnis, bahkan terkadang sampai mati-matian.

Dalam ajaran islam, hal tersebut adalah sesuatu yang terpuji. Karena islam melarang pengganutnya hidup dalam keadaan selalu meminta-minta.

Nabi Daud 'alaissalam disebutkan Nabi Muhammad sebagai seseorang yang selalu makan dari hasil usaha tangannya sendiri.

Bahkan para sahabat Nabi Muhammad sebagai generasi terbaik, disebutkan oleh Aisyah dalam hadist shahih Bukhari, mereka adalah pekerja-pekerja yang kuat, sampai-sampai ketika mereka hadir sholat di Masjid terkadang bau keringat mereka dan baju-baju kerja mereka yang lusuh masih diketahui.

Sahabat yang dirahmati Allah

Namun dibalik itu semua, seorang muslim hendaknya tidak hanya mengandalkan atau berprinsip, "Kalau tidak kerja mana bisa dapat rezeki" sehingga hidupnya sehari-hari hanya kerja, kerja, dan kerja. Ia melalaikan ibadah lainnya. Termasuk sholat.

Sahabat yang dirahmati Allah

Memperoleh rezeki yang BANYAK, BERKAH, HALAL, BAIK dan BERLIMPAH adalah keinginan yang baik. Nabi Muhammad saja berdoa dan mengajarkan doa seperti itu kepada umatnya.

Tapi di sisi lain, Islam juga mengajarkan perbuatan-perbuatan yang dengannya seorang muslim bisa mendapat TAMBAHAN REZEKI.

Bahkan boleh jadi dengan perbuatan-perbuatan tersebut, jumlah dan jenis Rezeki yang diperoleh akan lebih banyak , besar, dan membawa berkah. Karena khusyuk suka baca Al-quran, gemar sedekah itu juga rezeki atau bisa disebut karunia Allah yang juga sangat dibutuhkan setiap muslim.

Apa saja jenis amalan tersebut?

Kamis, 02 Juli 2020

Berlarilah

Kebiasaan beberapa orang yang menjaga kesehatan tubuhnya dengan rutin berlari dengan jarak tertentu adalah sesuatu yang dinilai baik. Apalagi jika diniatkan agar kesehatannya tetap dijaga Allah,  sehingga dapat menjadi sebab ketaatannya pada Allah tetap bisa terjaga, maka larinya tersebut akan mendapatkan nilai pahala.
Orang yang berlari adalah orang yang menjauh dari tempat asal keberadaannya semula. Semakin dia berlari maka akan semakin jauh dari tempat asal keberadaannya semula.
Sama juga halnya seorang yang berlari dari takutnya mendapat ancaman dari binatang buas. Semakin dia menjauh dari binatang buas, maka dengan izin Allah akan semakin selamat dari binatang buas tersebut.
Kini ketahuilah saudaraku sekalian, bahwa Allah di dalam Al-Quran memerintahkan kita untuk berlari. Berlari sekuat mungkin hingga sampai sedekat mungkin. Karena siapa yang tidak berlari dalam masalah ini dia akan tersesat dan siapa yang tidak berlari dalam hal ini dia bisa terpeleset masuk ke dalam api neraka. Dalam Surat Adz-dzariyat ayat 50 Allah berfirman :
فَفِرُّوْۤا اِلَى اللّٰهِ ۗ اِنِّيْ لَـكُمْ مِّنْهُ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ ۚ 
"Maka berlarilah kalian kepada Allah. Sungguh, aku yaitu Nabi Muhammad adalah seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu."

Rabu, 27 Mei 2020

Berbaik Sangka Kepada Allah (Husnuzan)

Hadirin jamaah shalat yang dirahmati Allah

Diantara ibadah yang diperintahkan Allah adalah husnuzan yaitu berbaik sangka pada Allah. Ibadah yang satu ini juga termasuk dari sekian banyak amalan hati yang merupakan amalan yang sangat besar keutaman dan keuntungannya. Mari kita dengarkan beberapa keterangan berikut tentang husnuzan yaitu berbaik sangka pada Allah.

Dalam Shahih Al-bukhori diriwayatkan dari Abu hurairoh, Rasulullah shalaullohhu 'alaihi wassalam  bersabda dalam menyebutkan firman Allah :

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

'Aku selalu tergantung prasangka hamba-Ku terhadap-Ku."

Dalam Musnad Ahmad diriwayatkan dari Abu Hurairoh, Rasulullah shalaullohhu 'alaihi wassalam bersabda dalam menyebutkan firman Allah :

 

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي إِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ

'Aku tergantung dengan prasangkaan hamba-Ku terhadapa-Ku, jika ia berprasangka baik maka ia akan mendapatkannya, dan jika ia berprasangka buruk maka ia akan mendapatkannya. '"

Dan juga dalam Musnad Ahmad diriwayatkan dari Watsilah bin Al-asqa', Rasulullah bersabda dalam menyebutkan firman Allah :

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ

"Saya tergantung pada persangkaan hamba-Ku, maka berprasangkalah dengan-Ku sekehendaknya."

Tulisan Terkait: Bukankah Jodoh Sudah digariskan, Kenapa Masih Sendiri?

Hadirin jamaah shalat jumat yang dirahmati Allah

Dari beberapa keterangan tersebut diketahui pentingnya arti sebuah sangka baik pada Allah.

Dan dalam Surat Al-fath ayat 6 Allah subhanahu wata'ala berfirman tentang bahaya berburuk sangka pada Allah. Allah berfirman :

 

وَّيُعَذِّبَ الْمُنٰفِقِيْنَ وَا لْمُنٰفِقٰتِ وَا لْمُشْرِكِيْنَ وَ الْمُشْرِكٰتِ الظَّآ نِّيْنَ بِا للّٰهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۗ عَلَيْهِمْ دَآئِرَةُ السَّوْءِ  ۚ وَ غَضِبَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَاَ عَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ ۗ وَسَآءَتْ مَصِيْرًا

"Dan Dia yaitu Allah pasti akan mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, dan (juga) orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (azab) yang buruk, dan Allah murka kepada mereka dan melaknat mereka, serta menyediakan Neraka Jahanam bagi mereka. Dan (Neraka Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali."

Dari ayat tersebut ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil:

Pertama, buruk sangka pada Allah adalah sifatnya orang-orang munafik dan musyrik baik laki-laki atau perempuan, keduanya yaitu munafik dan musyrik adalah seburuk-buruknya golongan manusia sepanjang masa dimuka bumi ini.

Kedua, dari ayat tersebut juga diketahui bahwa karena sangka buruknya mereka pada Allah, mereka akan mendapatkan hal-hal yang tidak enak yang mereka akan rasakan di dunia sebab sangka buruk mereka pada Allah.

Ketiga, dari ayat tersebut juga diketahui bahwa mereka yang berburuk sangka pada Allah jika sampai wafat belum bertaubat, mereka akan mendapatkan murka kemarahan Allah dan juga laknat-Nya yaitu dijauhkan dari rahmat Allah dan akhirnya mereka akan dimasukkan kedalam neraka yang merupakan seburuk-buruknya tempat pulang kampung tempat tinggal abadi. Semoga Allah jauhkan diri kita dari berburuk sangka pada Allah. Amiin.

Tulisan terkait: Berbaik Sangka

Hadirin jamaah shalat jumat yang dirahmati Allah

Mengenal Allah melalui nama-nama dan juga sifat-sifat-Nya dan terus berusaha mempelajari lebih dalam ajaran islam, maka keduanya akan mudah menjadikan seseorang berbaik sangka pada Allah.

Sebagai contoh ketika seorang berlilmu tentang nama Allah AL-QHAABIDHU Allah zat yang Dia sajalah yang bisa menyempitkan rizki seseorang, Allah juga AL-BAASHITHU  Dialah Allah yang Dia sajalah yang bisa melapangkan rizki seseorang, Allah juga AR-ROZZAAQ dan AR-ROOZIQ Dia Allah yang selalu akan memberikan rizki tanpa pernah berhenti dan dari jalan yang bisa tanpa pernah diduga dan Dia Allah adalah satu-satunya pemilik sumber rizki, maka dengan berilmu tentang diantara nama-nama dan sifat-sifat-Nya tersebut disertai dengan keyakinan dan pemahaman yang benar maka akan sangat mudah dengan izin Allah menjadikan seseorang berbaik sangka pada Allah.

Adapun tanda orang yang berbaik sangka pada Allah adalah orang-orang yang dalam kehidupannya senantiasa menjaga ibadah amal shalehnya, tetap hanya mengerjakan yang halal dan selalu meninggalkan yang haram disertai dengan selalu memohon kebaikan pada Allah. Karena berbaik sangka adalah amalan hati dan amal shaleh adalah bukti nyatanya. 

Baca juga: Harapan dan Gambaran Kehidupan Anda Saat ini

Bohong jika ada orang yang mengaku berbaik sangka pada Allah bahwa dia yakin  kelak akan dimasukkan kesurga, sementara ia sedikit beristighfar dan tidak segera bertaubat pada Allah.

Dalam Surat An-nahl ayat 97 Allah berfirman :

 

مَنْ عَمِلَ صَا لِحًـا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَـنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةً ۚ وَلَـنَجْزِيَـنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَ حْسَنِ مَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ

"Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."

Semoga Allah menanamkan dalam diri kita sifat baik sangka pada-Nya, dan memberikan kebaikan berlimpah pada kita semua dan semoga Allah selalu menolong kita untuk mengingat-Nya, bersyukur pada-Nya dan membaguskan ibadah kita pada-Nya. Amiin.

Baca juga: Berpikir Positif


Jumat, 27 September 2019

Kiat Menghadapi Fitnah Akhir Zaman


Allah takdirkan kita hidup di akhir zaman. Penuh fitnah, kejahatan, tindakan kriminalitas. Baik dilakukan individu maupun kelompok. Kita bisa lihat di masyarakat sekarang lokal, regional, global. Hidup semakin terasa sulit.

Alhamdulillah Allah takdirkan kita sebagai umat islam. Merupakan salah satu keunggulan ajaran islam. Kita diajarkan oleh Al Quran dan Sunnah. Kita bisa membaca fenomena akhir zaman, sehingga kita tidak terjebak dalam fitnah akhir zaman.

Jumat, 12 Oktober 2018

Takdir Allah

Hadirim jamaah shalat jumat yang dirahmati Allah

Beriman dengan takdir adalah diantara enam rukun iman yang wajib diyakini. Sehingga ilmu berkaitan tentang takdir wajib juga untuk diketahui. Karena jika salah memahaminya, salah juga keyakinan tentangnya. Dan jika salah keyakinan tentang takdir maka imannya juga  bermasalah.

Hal terpenting tentang takdir yang harus diketahui bahwa takdir baik dan buruk, yang rinci, bahkan sangat detail, semuanya ketetapan Allah. Dalam sunan At-Tirmidzi diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, bersabda Rasulullah shalaullahhu ‘alaihi wassalam:

لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ حَتَّى يَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُ

 "Seorang hamba tidak dikatakan beriman sampai dia mengimani tentang takdir baiknya dan takdir buruknya, sehingga dia yakin bahwa apa yang akan menimpanya tidak mungkin akan meleset darinya, dan sesuatu yang tidak ditetapkan atasnya tidak akan mungkin menimpanya."