Bayangkan seseorang berkata:
“Saya baik-baik saja. Hanya akhir-akhir ini rasanya ingin sendiri.”
Bagi sebuah mesin, mungkin ada kata-kata tertentu yang bisa dikenali, dikategorikan, dan dianalisis.
Tetapi bagi manusia yang memahami konteksnya, kalimat itu bisa memiliki makna yang jauh lebih dalam.
“Baik-baik saja” bisa berarti benar-benar baik.
Tetapi bisa juga berarti, saya belum siap bercerita lebih jauh.
Pertanyaan semacam inilah yang membuat saya tertarik untuk melihat kembali bagaimana AI digunakan untuk menganalisis narasi kesehatan mental, khususnya ketika narasi tersebut berasal dari konteks budaya Asia.
Dalam banyak budaya Asia, termasuk Indonesia, kesedihan, tekanan, konflik, atau persoalan psikologis tidak selalu disampaikan secara langsung.
Kadang kita menggunakan bahasa yang halus.
Kadang menggunakan metafora.
Kadang kita bercerita panjang tentang keluarga, pekerjaan, hubungan, atau kehidupan sehari-hari tanpa pernah mengatakan secara eksplisit bahwa kita sedang mengalami persoalan kesehatan mental.
Maka muncul pertanyaan yang menurut saya penting:
Apakah akurasi AI dalam melakukan coding terhadap sebuah teks sudah cukup untuk mengatakan bahwa AI memahami cerita manusia?
