![]() |
| Sama seperti kebun yang menanti matahari terbit, segala nikmat yang kita miliki sejatinya tunduk pada kehendak-Nya |
Yang menarik dari pemilik kebun dalam Surah Al-Kahfi adalah kejatuhannya tidak dimulai ketika kebunnya hancur.
Kejatuhannya sudah dimulai jauh sebelumnya.
Di dalam hati.
Jika diperhatikan, ada semacam perjalanan batin yang digambarkan Al-Qur'an. Nikmat yang semula berada di tangan perlahan masuk ke dalam cara seseorang menilai dirinya, melihat orang lain, memahami masa depan, bahkan memandang hubungannya dengan Allah.
Saya melihat setidaknya ada empat tahap yang patut kita jadikan cermin.
1. Ketika Nikmat Berubah Menjadi Perbandingan
Pemilik kebun itu berkata kepada sahabatnya bahwa hartanya lebih banyak dan pengikutnya lebih kuat.
Perhatikan sesuatu yang sederhana.
Kebunnya sebenarnya sudah subur sebelum ia membandingkan dirinya dengan orang lain.
Buahnya tetap banyak.
Sungainya tetap mengalir.
Tanamannya tetap tumbuh.
Tetapi entah mengapa, memiliki saja tidak lagi cukup.
Ia perlu mengetahui bahwa ia memiliki lebih banyak daripada orang lain.
Di sinilah nikmat dapat berubah bentuk.
Sesuatu yang seharusnya melahirkan syukur justru berubah menjadi alat ukur untuk menentukan siapa yang lebih tinggi.
Bukankah hal seperti ini sangat manusiawi?
Kita mungkin bahagia mempunyai rumah, sampai melihat rumah orang lain lebih besar.
Kita mungkin bersyukur dengan pekerjaan, sampai mengetahui gaji teman lebih tinggi.
Kita mungkin menikmati pencapaian sendiri, sampai membuka media sosial dan melihat orang seusia kita tampaknya sudah jauh berjalan.
Akhirnya kita tidak lagi bertanya:
“Apakah yang Allah berikan kepada saya cukup untuk disyukuri?”
Kita mulai bertanya:
“Apakah saya lebih berhasil daripada dia?”
"Ada perbedaan besar di antara keduanya. Syukur melihat nikmat berdasarkan hubungannya dengan Sang Pemberi. Perbandingan melihat nikmat berdasarkan posisi kita terhadap manusia lain. Dan ketika kehidupan terus-menerus dilihat sebagai papan peringkat, hati akan sulit tenang."
Selalu ada yang lebih kaya.
Lebih terkenal.
Lebih tinggi jabatannya.
Lebih cepat kariernya.
Lebih luas pengaruhnya.
"Mungkin masalah kita bukan kurangnya nikmat. Kadang masalahnya adalah kita menggunakan nikmat untuk berlomba menentukan nilai diri."
2. Dari Perbandingan Menuju Rasa Aman yang Berlebihan
Setelah merasa lebih unggul, pemilik kebun masuk ke tahap berikutnya.
Ia memandang kebunnya dan merasa bahwa kebun itu tidak akan pernah binasa.
Ini menarik.
Ia tidak sekadar menikmati keadaan hari ini.
Ia membuat kesimpulan tentang masa depan.
Karena kebunnya subur sekarang, ia merasa kebunnya akan selalu subur.
Karena sistemnya berjalan hari ini, ia merasa sistem itu tidak akan pernah runtuh.
Karena keberhasilannya telah berlangsung cukup lama, ia mulai membaca keberhasilan masa lalu sebagai jaminan masa depan.
Di sinilah kesuksesan kadang mempunyai jebakan yang tidak terlihat.
"Kegagalan sering membuat kita sadar bahwa kita terbatas. Kesuksesan yang panjang justru dapat menciptakan ilusi bahwa kita tidak terbatas."
Semakin lama sesuatu berjalan sesuai rencana, semakin mudah kita lupa bahwa banyak hal yang menopangnya berada di luar kendali kita.
Kesehatan.
Keadaan ekonomi.
Keputusan orang lain.
Perubahan teknologi.
Musibah.
Usia.
Waktu.
Bahkan satu peristiwa yang sama sekali tidak kita perkirakan.
Kita membutuhkan perencanaan. Kita juga membutuhkan rasa percaya diri.
"Tetapi ada perbedaan antara mempunyai rencana dan merasa masa depan telah menandatangani kontrak dengan kita. Tidak ada kontrak seperti itu."
3. Dari Rasa Aman Menuju Lupa kepada Sumber Nikmat
Pada titik tertentu, persoalannya semakin dalam.
Sahabatnya kemudian mengingatkan kembali siapa yang menciptakan manusia dan mengatakan bahwa Allah adalah Tuhannya.
Mengapa pembicaraan tentang sebuah kebun tiba-tiba kembali kepada penciptaan manusia?
Mungkin karena masalah sebenarnya memang bukan kebun.
Masalahnya adalah siapa yang ditempatkan sebagai pusat dari seluruh keberhasilan itu.
Ketika seseorang terlalu lama memandang hasil, ia bisa lupa kepada sumber.
Ia melihat buah, tetapi lupa siapa yang memungkinkan tanah menumbuhkannya.
Ia melihat keberhasilan, tetapi lupa berapa banyak hal yang tidak pernah benar-benar ia kuasai.
Kita pun dapat mengalami bentuk modern dari keadaan seperti itu.
“Saya berhasil karena saya bekerja keras.”
Kalimat itu tidak sepenuhnya salah.
Kerja keras memang penting.
Tetapi kalimat itu menjadi berbahaya ketika titiknya berhenti di sana.
Saya bekerja keras, tetapi siapa yang memberi tubuh ini kemampuan bekerja?
Saya belajar bertahun-tahun, tetapi siapa yang memberi pikiran kemampuan memahami?
Saya membangun jaringan, tetapi siapa yang mempertemukan saya dengan manusia-manusia yang membuka jalan?
Saya mengambil keputusan tepat, tetapi berapa banyak variabel yang tidak saya ketahui ternyata bergerak mendukung keputusan itu?
"Kesadaran seperti ini tidak dimaksudkan untuk mengecilkan usaha manusia. Justru sebaliknya. Ia membuat usaha menjadi lebih jernih. Kita tetap bekerja keras, tetapi tidak mabuk oleh hasil. Kita tetap bangga terhadap proses, tetapi tidak mengangkat diri menjadi sumber segala keberhasilan."
Karena itu nasihat sang sahabat terasa begitu kuat:
Mā syā’ Allāh, lā quwwata illā billāh.
Ada pengakuan di sana.
Semua yang terjadi berada dalam kehendak Allah.
Dan kekuatan yang kita gunakan pun pada akhirnya bukan kekuatan yang kita ciptakan sendiri.
4. Dari Lupa kepada Allah Menuju Ilusi tentang Masa Depan
Tahap terakhir mungkin yang paling berbahaya.
Pemilik kebun bukan hanya merasa kebunnya tidak akan binasa. Ia bahkan berkata bahwa ia tidak mengira Kiamat akan terjadi. Dan seandainya ia dikembalikan kepada Tuhannya, ia merasa akan memperoleh tempat kembali yang lebih baik.
Ada sesuatu yang sangat halus di sini.
Keberhasilan dunia mulai digunakan sebagai bukti bahwa dirinya pasti baik-baik saja.
Seolah-olah:
“Karena hidup saya berjalan bagus, berarti saya berada di jalan yang benar.”
“Karena saya berhasil, berarti Allah pasti meridhai semua pilihan saya.”
“Karena banyak hal berpihak kepada saya, masa depan saya pasti akan baik.”
"Padahal keberhasilan bukan selalu sertifikat kebenaran. Kelimpahan bukan selalu tanda bahwa semua keputusan kita benar."
Dan kesulitan pun bukan otomatis tanda bahwa seseorang ditinggalkan Allah.
Di sinilah kita perlu berhati-hati membaca kehidupan.
Ada orang yang memiliki banyak tetapi sedang diuji dengan kepemilikannya.
Ada orang yang kehilangan sesuatu tetapi justru sedang dibentuk melalui kehilangan itu.
Ada yang naik jabatan dan diuji apakah kekuasaan membuatnya lebih amanah.
Ada yang mendapatkan ilmu dan diuji apakah ilmu membuatnya lebih rendah hati.
Ada yang memperoleh pengaruh dan diuji apakah semakin banyak orang mengenalnya membuatnya semakin mengenal dirinya sendiri.
"Nikmat tidak pernah sekadar nikmat. Ia juga membawa pertanyaan tentang siapa diri kita setelah menerimanya."
Dua Kalimat untuk Dua Waktu
Semakin saya membaca rangkaian ini, semakin menarik hubungan antara dua ungkapan dalam bagian Surah Al-Kahfi tersebut.
Untuk masa depan:
Insya Allah.
Ketika melihat apa yang telah Allah karuniakan:
Mā syā’ Allāh, lā quwwata illā billāh.
"Yang satu mengajarkan kerendahan hati terhadap sesuatu yang belum terjadi. Yang lain mengajarkan kerendahan hati terhadap sesuatu yang sudah kita miliki."
Seolah-olah kehidupan seorang mukmin dijaga oleh dua kesadaran.
Ketika melihat ke depan:
“Aku akan berusaha, tetapi Allah yang menentukan.”
Ketika melihat apa yang ada di tangan:
“Aku telah berusaha, tetapi semua ini dapat terjadi karena Allah mengizinkannya.”
Di antara keduanya, manusia tetap bergerak.
Tetap belajar.
Tetap bekerja.
Tetap membangun.
Tetap bercita-cita.
Tetapi ada sesuatu yang berbeda di dalam hatinya: ia tidak lagi menganggap dirinya pusat dari seluruh cerita.
Barangkali Kita Semua Memiliki Kebun
Membaca kisah ini, mudah bagi kita melihat kesalahan pemilik kebun.
Ia sombong.
Ia terlena.
Ia salah.
Tetapi barangkali Al-Qur'an tidak menceritakannya agar kita sibuk menghakimi seseorang yang hidup jauh sebelum kita.
Kisah itu mungkin sedang meminta kita mencari kebunnya di dalam kehidupan sendiri.
Apa yang hari ini paling membuat kita merasa aman?
Apa yang membuat kita mulai merasa lebih tinggi daripada orang lain?
Apa yang sangat kita banggakan sampai sulit membayangkan hidup tanpanya?
Dan jika sesuatu itu diambil, apakah kita masih mengetahui siapa diri kita?
Pertanyaan terakhir ini mungkin tidak nyaman.
Tetapi justru di sanalah letak refleksinya.
Jika identitas kita sepenuhnya dibangun dari jabatan, bagaimana ketika jabatan itu selesai?
Jika harga diri dibangun dari kekayaan, siapa kita ketika jumlahnya berkurang?
Jika kebanggaan terbesar berasal dari gelar, apa yang tersisa ketika tidak ada lagi orang yang memanggil kita dengan gelar tersebut?
Jika ketenangan hanya berasal dari keadaan yang selalu sesuai rencana, bagaimana hati kita ketika kehidupan mengambil jalan lain?
"Mungkin tanda bahwa sebuah nikmat sudah terlalu jauh masuk ke hati bukan ketika kita memilikinya. Melainkan ketika kita tidak lagi bisa membayangkan diri kita bernilai tanpanya."
Memiliki Tanpa Dimiliki
Barangkali inilah salah satu pelajaran paling indah dari kisah dua kebun.
Islam tidak meminta kita menjadi manusia tanpa kekayaan, pencapaian, ilmu, jabatan, atau cita-cita.
"Yang perlu dijaga adalah jangan sampai sesuatu yang kita miliki justru berbalik memiliki kita."
Punya harta, tetapi hati tidak diperbudak harta.
Punya jabatan, tetapi identitas tidak bergantung pada jabatan.
Punya ilmu, tetapi ilmu tidak membuat kita merasa lebih tinggi.
Punya keberhasilan, tetapi keberhasilan tidak menghapus kebutuhan kita kepada Allah.
Punya rencana besar, tetapi tetap mampu mengucapkan insya Allah dengan kesadaran.
Punya “kebun” yang indah, tetapi ketika memandangnya kita masih mampu berkata:
Mā syā’ Allāh. Lā quwwata illā billāh.
Sebab mungkin ujian terbesar dari sebuah nikmat bukan apakah kita mampu mendapatkannya.
Melainkan apakah setelah mendapatkannya, kita masih ingat siapa diri kita, dan siapa sebenarnya Pemilik segala sesuatu.
Wallahu a'lam bish-shawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung. Semoga langkah Anda hari ini membawa semangat baru untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak. Saya menghargai setiap dedikasi dan perjalanan Anda. Sampai kita berjumpa kembali, dalam tulisan atau kehidupan nyata.