Saya menonton pengajian tematik bertajuk “Visi Al-Qur’an Menjawab Tantangan Zaman”, hasil ikhtiar Universitas Islam Indonesia (UII) bersama Pusat Studi Al-Qur’an. Dalam ruang yang penuh adab dan keheningan, hadir dua sosok ulama dengan kedalaman ilmu dan kejernihan hikmah: Gus Baha dan Prof. Quraish Shihab, yang menuntun jamaah menapaki jalan pemahaman Al-Qur’an dengan cara yang membumi sekaligus melangit.
Dalam tausiyahnya, Gus Baha berbicara dengan kesederhanaan yang menembus relung nurani. Ia mengingatkan bahwa agama tidak semata berdiri di atas ritual besar yang tampak, melainkan pada kewajiban dasar, fardu ain, yang sering luput dari perhatian. Ia memuliakan peran kiai kampung, orang-orang kecil, mereka yang mungkin tak dikenal, tetapi setia menunaikan kewajiban agama dan sosial secara nyata.
Baca juga: Manusia Langit yang Membumi
Dengan nada bersahabat, Gus Baha mengkritik cara beragama yang kerap menakutkan, seolah iman adalah beban yang harus dipikul dengan dahi berkerut. Ia justru mengajak jamaah menikmati ruang-ruang yang mubah, agar manusia tidak mencari pelarian kebahagiaan melalui jalan maksiat. Dalam penjelasannya, ia juga menekankan pentingnya menjaga kemurnian hadis dan tafsir, agar ajaran Nabi dan Al-Qur’an tidak tercemar oleh tambahan-tambahan yang keliru dan menyesatkan.
Sementara itu, Prof. Quraish Shihab mengajak jamaah merenungi kembali hakikat manusia sebagai khalifah di bumi. Manusia, menurutnya, dianugerahi ilmu, akal, dan inisiatif bukan untuk merusak, melainkan untuk mengelola dan memakmurkan bumi sesuai nilai-nilai ilahiah. Tantangan zaman lahir ketika keseimbangan runtuh: antara ilmu dan iman, akal dan hati, dunia dan akhirat, serta antara eksploitasi dan pemeliharaan alam. Ia menegaskan, ilmu yang tidak berpaut pada nilai ketuhanan hanya akan melahirkan kecerdasan yang kering, ilmu yang tidak bermanfaat. Karena itu, iman dan ilmu harus berjalan beriringan, saling menuntun dan menguatkan.
Dalam sesi tanya jawab, diskusi berkembang menyentuh persoalan-persoalan nyata kehidupan modern. Dibahas krisis keteladanan di tengah hiruk-pikuk media sosial, kegelisahan pendidik tentang bagaimana mengajarkan tafsir dan hadis agar menyentuh ranah afektif generasi muda, serta dinamika hubungan antara hati dan akal dalam beragama.
Perbedaan pendapat di kalangan ulama pun diulas dengan penuh kebijaksanaan, disertai penekanan pada etika menyikapi kontroversi di ruang publik. Para orang tua dan pendidik bertanya tentang cara mendampingi anak-anak di zaman yang serba cepat, tentang keseimbangan antara prestasi akademik, kepedulian sosial, dan kedalaman spiritual. Jawaban yang mengemuka menenangkan: jadilah sahabat bagi anak, pahami bahwa mereka hidup di zaman yang berbeda, dan tuntun mereka dengan cinta, bukan dengan ketakutan.
Pada penekanan akhir, kedua narasumber seakan bertemu pada satu muara yang sama: inti agama adalah akhlak. Beragama hendaknya menghadirkan kegembiraan, keseimbangan, dan kelapangan dada, bukan caci maki dan saling melaknat.
Perubahan zaman tidak perlu ditakuti, selama manusia terus menautkannya dengan nilai-nilai pokok Al-Qur’an: tauhid yang memerdekakan, keadilan yang menegakkan martabat, kemaslahatan yang menebar kebaikan, serta penghormatan terhadap kemanusiaan.
Acara ditutup dengan doa, agar ilmu yang diperoleh tidak berhenti di kepala, tetapi turun menjadi cahaya di hati dan amal dalam kehidupan. Sebuah ajakan pun bergema lirih namun kuat: teruslah menghadiri majelis ilmu, sebab di sanalah iman dikuatkan dan arah hidup diluruskan, di tengah zaman yang terus berubah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung. Semoga langkah Anda hari ini membawa semangat baru untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak. Saya menghargai setiap dedikasi dan perjalanan Anda. Sampai kita berjumpa kembali, dalam tulisan atau kehidupan nyata.