Sabtu, 05 September 2026

Apakah AI benar-benar mengerti ketika kita sedang curhat?



Bayangkan seseorang berkata:

“Saya baik-baik saja. Hanya akhir-akhir ini rasanya ingin sendiri.”

Bagi sebuah mesin, mungkin ada kata-kata tertentu yang bisa dikenali, dikategorikan, dan dianalisis.

Tetapi bagi manusia yang memahami konteksnya, kalimat itu bisa memiliki makna yang jauh lebih dalam.

“Baik-baik saja” bisa berarti benar-benar baik.

Tetapi bisa juga berarti, saya belum siap bercerita lebih jauh.

Pertanyaan semacam inilah yang membuat saya tertarik untuk melihat kembali bagaimana AI digunakan untuk menganalisis narasi kesehatan mental, khususnya ketika narasi tersebut berasal dari konteks budaya Asia.

Dalam banyak budaya Asia, termasuk Indonesia, kesedihan, tekanan, konflik, atau persoalan psikologis tidak selalu disampaikan secara langsung.

Kadang kita menggunakan bahasa yang halus.

Kadang menggunakan metafora.

Kadang kita bercerita panjang tentang keluarga, pekerjaan, hubungan, atau kehidupan sehari-hari tanpa pernah mengatakan secara eksplisit bahwa kita sedang mengalami persoalan kesehatan mental.

Maka muncul pertanyaan yang menurut saya penting:

Apakah akurasi AI dalam melakukan coding terhadap sebuah teks sudah cukup untuk mengatakan bahwa AI memahami cerita manusia?

Pertanyaan ini saya angkat dalam sebuah Letter to the Editor yang baru saja diterbitkan dengan judul:

“Beyond coding accuracy: Pragmatic fidelity in AI-assisted analysis of Asian mental-health narratives.”

Melalui correspondence tersebut, saya mengajak pembaca melihat satu persoalan yang mungkin mudah terlewat: akurasi coding tidak selalu identik dengan ketepatan memahami makna.

Di sinilah saya menggunakan gagasan pragmatic fidelity.

Secara sederhana, kita tidak hanya perlu bertanya apakah AI mampu mengenali dan mengelompokkan apa yang tertulis, tetapi juga apakah analisis tersebut tetap setia pada makna yang dimaksudkan, konteks sosial, dan nuansa budaya yang menyertai narasi tersebut.

Bayangkan AI seperti seorang editor.

Ia mungkin sangat cepat menemukan kata, pola, dan kategori.

Tetapi editor yang baik tidak hanya bertanya:

“Apa yang tertulis?”

Ia juga perlu bertanya:

“Apa yang sebenarnya sedang dikatakan?”

Dan pertanyaan kedua ini menjadi jauh lebih rumit ketika kita berhadapan dengan cerita manusia.

Sebab sebuah kalimat tidak selalu membawa makna yang sama ketika dipisahkan dari budaya, hubungan sosial, pengalaman hidup, dan konteks emosional orang yang mengucapkannya.

Karena itu, mungkin diskusi tentang AI dalam analisis kesehatan mental tidak cukup berhenti pada pertanyaan:

“Seberapa akurat AI melakukan coding?”

Kita juga perlu bertanya:

“Seberapa setia AI memahami makna di balik coding tersebut?”

Bagi saya, ini bukan sekadar persoalan teknis.

Ini adalah persoalan tentang bagaimana kita memperlakukan cerita manusia.

Terlebih ketika cerita itu berisi pengalaman yang sangat personal, tentang kesedihan, tekanan, relasi, stigma, keluarga, atau kesehatan mental.

AI boleh semakin pintar.

Tetapi semakin besar kemampuan kita menggunakan AI untuk memahami manusia, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk memastikan bahwa konteks manusia tidak ikut hilang dalam prosesnya.

Free access berlaku hingga 8 Oktober 2026.

Bagi rekan-rekan akademisi, mahasiswa, peneliti, praktisi kesehatan mental, atau siapa saja yang tertarik pada persimpangan AI, bahasa, budaya, dan kesehatan mental, silakan membaca artikelnya melalui tautan berikut:

Baca & Unduh Artikel — Free Access : klik disini

Silakan simpan salinannya dan, jika menurut Anda relevan, bagikan juga kepada kolega, mahasiswa, komunitas akademik, atau teman yang mungkin tertarik.

Saya berharap penelitian ini tidak hanya menambah diskusi tentang apa yang bisa dilakukan AI, tetapi juga mengajak kita memikirkan apa yang seharusnya dilakukan AI ketika berhadapan dengan cerita manusia.

Sebab ketika seseorang sedang bercerita tentang lukanya, mungkin yang kita butuhkan bukan sekadar mesin yang mampu membaca kalimat.

Kita membutuhkan teknologi yang tahu bahwa di balik sebuah kalimat, ada manusia.

Sumber: Saputra, R., Kaluku, M.R.A., Dewi, R.S.I., 2026. Beyond coding accuracy: Pragmatic fidelity in AI-assisted analysis of Asian mental-health narratives. Asian J. Psychiatr. 124, 105127. https://doi.org/10.1016/J.AJP.2026.105127

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung. Semoga langkah Anda hari ini membawa semangat baru untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak. Saya menghargai setiap dedikasi dan perjalanan Anda. Sampai kita berjumpa kembali, dalam tulisan atau kehidupan nyata.