Rabu, 23 September 2026

Saya Pernah Menulis tentang Otak Kiri dan Otak Kanan. Ternyata Saya Perlu Mengoreksinya



Bertahun-tahun lalu, ketika menulis buku Setiap Orang Berhak Sukses, saya pernah membahas tentang otak kiri dan otak kanan.

Waktu itu, gagasan tersebut terasa sangat masuk akal.

Otak kiri sering dikaitkan dengan logika, analisis, angka, dan kemampuan berpikir sistematis. Sementara otak kanan digambarkan sebagai wilayah kreativitas, intuisi, seni, dan imajinasi.

Maka muncullah pembagian yang sangat populer.

Ada orang yang disebut left-brained.

Ada pula yang dianggap right-brained.

Saya pun pernah menuliskannya.

Namun beberapa waktu kemudian, saya membaca kembali tentang topik ini dan menemukan sesuatu yang membuat saya berhenti sejenak.

Ternyata penjelasan itu tidak sesederhana yang pernah saya pahami.

Bukan berarti kedua belahan otak sama persis atau tidak memiliki spesialisasi fungsi. Otak memang memiliki apa yang disebut lateralization: beberapa fungsi cenderung lebih kuat melibatkan salah satu hemisfer. Bahasa, misalnya, pada banyak orang lebih banyak melibatkan jaringan di hemisfer kiri.

Tetapi dari sana kita terlalu cepat melompat pada kesimpulan lain:

bahwa manusia dapat dibagi menjadi tipe “otak kiri” yang logis dan tipe “otak kanan” yang kreatif.

Penelitian functional MRI terhadap 1.011 orang yang dipublikasikan di PLOS ONE tidak menemukan pola yang mendukung gagasan bahwa seseorang secara keseluruhan memiliki otak yang dominan kiri atau dominan kanan. Ada jaringan yang mengalami lateralisasi, tetapi bukan berarti satu individu hidup dengan satu sisi otak yang secara global lebih dominan.

Dan di situlah saya menemukan pelajaran yang sebenarnya jauh lebih menarik daripada soal anatomi otak.

Apa yang harus kita lakukan ketika sesuatu yang pernah kita yakini, bahkan pernah kita tuliskan—ternyata perlu dikoreksi?

Malu?

Diam?

Berpura-pura tidak pernah menulisnya?

Atau mengakui bahwa proses belajar memang seperti itu?

Bagi saya, pilihan terakhir jauh lebih sehat.

Karena mungkin salah satu tanda bahwa kita masih benar-benar belajar adalah ketika kita masih bersedia mengatakan:

“Dulu saya memahami ini seperti itu. Sekarang saya menemukan penjelasan yang lebih baik.”

Ilmu pengetahuan bukan kumpulan kalimat yang sekali ditulis lalu selesai.

Ia terus diuji.

Diperbaiki.

Dikritik.

Diperbarui.

Dan sebagai pembelajar, mungkin kita pun seharusnya demikian.

Ketika Penjelasan Sederhana Terlalu Menggoda

Mengapa mitos otak kiri dan otak kanan begitu mudah kita percaya?

Mungkin karena ia sederhana.

Ia memberi kotak yang mudah dipahami.

Anda suka matematika?

Otak kiri.

Anda suka menggambar?

Otak kanan.

Anda analitis?

Otak kiri.

Anda kreatif?

Otak kanan.

Masalahnya, otak manusia tidak bekerja seperti dua kamar terpisah dengan pekerjaan masing-masing.

Aktivitas manusia yang kompleks justru melibatkan komunikasi berbagai jaringan otak.

Ketika kita menulis, misalnya, kita tidak hanya membutuhkan bahasa.

Kita membutuhkan memori.

Perhatian.

Perencanaan.

Imajinasi.

Penalaran.

Emosi.

Pengalaman.

Kemampuan memilih kata.

Kemampuan membayangkan pembaca.

Dengan kata lain, satu aktivitas sederhana di permukaan sebenarnya merupakan kerja sama yang rumit di dalam otak.

Mungkin inilah salah satu kelemahan kita ketika memahami sains.

Kita menyukai penjelasan yang rapi.

Padahal realitas sering kali lebih berantakan.

Dan lebih menarik.

Jangan-Jangan Ada Banyak “Mitos Otak” Lain yang Kita Percaya

Setelah menyadari bahwa pemahaman tentang otak kiri dan otak kanan perlu diperbaiki, saya mulai tertarik pada pertanyaan lain.

Berapa banyak hal tentang otak yang selama ini kita percaya karena sering diulang, bukan karena benar-benar kita periksa?

Misalnya:

“Multitasking membuat kita lebih produktif.”

“Kalau sering lupa berarti memori kita buruk.”

“Melamun hanya membuang waktu.”

“Orang dengan IQ tinggi pasti lebih sukses.”

“Overthinking dan anxiety adalah hal yang sama.”

Atau satu keluhan yang semakin sering kita dengar:

“Kenapa otak saya sekarang terasa makin lemot?”

Kita sulit fokus.

Membaca beberapa halaman terasa berat.

Sedikit-sedikit ingin membuka ponsel.

Masuk ke sebuah ruangan lalu lupa hendak mengambil apa.

Membuka laptop untuk bekerja, tetapi lima belas menit kemudian justru berada di halaman yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.

Apakah otak kita sedang rusak?

Belum tentu.

Kadang yang berubah bukan kemampuan dasar otak kita.

Yang berubah adalah lingkungan tempat otak itu bekerja.

Kita Hidup di Tengah Perebutan Perhatian

Pikirkan satu hari biasa.

Bangun tidur, lihat ponsel.

Ada pesan.

Notifikasi.

Berita.

Video.

Email.

Grup.

Komentar.

Kemudian kita mulai bekerja sambil tetap memegang perangkat yang sama.

Satu tugas belum selesai, tugas lain datang.

Satu pikiran belum tuntas, notifikasi lain muncul.

Kita menyebutnya multitasking.

Padahal untuk banyak tugas yang membutuhkan perhatian, otak sebenarnya harus berpindah dari satu fokus ke fokus lain.

Penelitian tentang media multitasking menunjukkan hubungan dengan kegagalan perhatian sehari-hari dan mind wandering, walaupun hasil penelitian secara keseluruhan tidak selalu seragam dan hubungan sebab-akibatnya tidak sesederhana “multitasking pasti merusak otak”.

Menariknya, ada juga penelitian yang menemukan bahwa heavy media multitaskers dapat menunjukkan biaya perpindahan perhatian yang lebih rendah pada tugas tertentu. Artinya, literatur ilmiah tentang multitasking tidak boleh diperas menjadi satu slogan sederhana.

Namun dari kehidupan sehari-hari kita bisa menangkap satu persoalan yang sangat nyata:

kalau perhatian kita terus-menerus dipanggil ke tempat lain, kapan satu pikiran mendapat kesempatan untuk selesai?

Kita mungkin bukan kehilangan kemampuan berpikir.

Kita kehilangan ruang untuk berpikir.

Kadang Kita Bukan Pelupa. Kita Tidak Pernah Benar-Benar Hadir

Ada satu pengalaman sederhana.

Seseorang memperkenalkan namanya kepada kita.

Kita mengangguk.

Beberapa menit kemudian lupa.

Lalu kita berkata:

“Wah, memori saya makin jelek.”

Tetapi coba ingat lagi situasinya.

Saat orang itu menyebutkan namanya, apakah kita benar-benar mendengarkan?

Atau separuh perhatian kita sedang membaca notifikasi?

Kadang yang gagal bukan proses mengingat.

Yang gagal terjadi lebih awal:

informasinya tidak pernah benar-benar mendapatkan perhatian.

Kita ingin otak menyimpan sesuatu yang bahkan tidak pernah kita masukkan dengan utuh.

Maka sebelum menyalahkan memori, mungkin kita perlu bertanya:

Apakah saya benar-benar hadir?

Pertanyaan itu bukan hanya penting untuk belajar.

Ia penting untuk hidup.

Berapa banyak percakapan yang sebenarnya tidak kita dengarkan?

Berapa banyak halaman yang kita baca tanpa memahami?

Berapa banyak pekerjaan yang kita lakukan sambil memikirkan lima hal lain?

Tubuh ada di sini.

Pikiran di mana-mana.

Kita Juga Perlu Belajar Bengong Lagi

Ada kebiasaan lain yang semakin langka:

tidak melakukan apa-apa.

Menunggu antrean tanpa membuka layar.

Duduk sebentar tanpa video.

Berjalan tanpa earphone.

Menatap jendela.

Membiarkan pikiran bergerak sendiri.

Kita sering merasa bersalah melakukannya.

Seolah setiap menit harus produktif.

Padahal ketika kita tidak sedang fokus pada tugas eksternal tertentu, otak tidak berarti berhenti bekerja.

Ada jaringan yang dikenal sebagai default mode network atau DMN yang terlibat dalam sejumlah proses internal, termasuk mind wandering, mengingat pengalaman pribadi, memikirkan masa depan, pemrosesan yang berkaitan dengan diri, dan berbagai bentuk pemikiran spontan.

Tetapi sekali lagi, jangan menyederhanakannya.

DMN bukan “pusat kreativitas”.

Melamun juga tidak otomatis membuat seseorang kreatif.

Mind wandering bahkan dapat menyebabkan kegagalan perhatian ketika terjadi pada saat kita seharusnya fokus.

Namun tinjauan ilmiah tentang DMN menunjukkan bahwa ketika diarahkan secara tepat, perpindahan pikiran dan pemikiran spontan dapat mendukung pemecahan masalah kreatif.

Mungkin pesannya bukan:

“Banyak-banyaklah melamun.”

Melainkan:

“Jangan isi setiap ruang kosong dengan stimulasi.”

Sebab mungkin otak membutuhkan ruang kosong bukan karena ia malas.

Tetapi karena di ruang itulah ia menyusun kembali sesuatu.

Otak Tidak Hidup Terpisah dari Tubuh

Kita sering membicarakan kesehatan otak seolah otak hanyalah mesin berpikir yang berada di kepala.

Padahal otak hidup di dalam tubuh.

Cara kita tidur, bergerak, makan, beristirahat, dan mengelola kesehatan fisik ikut membentuk kondisi tempat otak bekerja.

Karena itu, menjaga kejernihan berpikir tidak selalu membutuhkan trik canggih.

Kadang jawabannya sangat sederhana:

bergerak.

berjalan.

tidur cukup.

makan secara seimbang.

mengurangi duduk terlalu lama.

memberi tubuh kesempatan untuk melakukan apa yang memang dirancang untuk dilakukannya.

Kita sangat tertarik pada brain hack.

Padahal mungkin salah satu brain hack paling tua di dunia adalah:

hidup dengan lebih sehat.

Overthinking Bukan Sekadar “Berpikir Terlalu Banyak”

Ada pula istilah yang hampir setiap hari kita dengar:

overthinking.

Sering muncul penjelasan yang membedakan:

overthinking = memikirkan masa lalu,

anxiety = memikirkan masa depan.

Pembagian itu menarik.

Tetapi lagi-lagi, realitas psikologis lebih kompleks.

Seseorang dapat terus memikirkan kesalahan masa lalu.

Itu bisa berbentuk rumination.

Orang lain terus-menerus membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang belum terjadi.

Tetapi kecemasan dan pikiran berulang juga bisa saling berkelindan.

Karena itu, mungkin pembeda yang lebih berguna bukan masa lalu versus masa depan.

Melainkan:

Apakah pikiran kita membawa kita menuju pemahaman atau hanya berputar di tempat yang sama?

Ada perbedaan antara berpikir dan terjebak dalam pikiran.

Berpikir analitis bertanya:

Apa masalahnya?

Apa buktinya?

Apa yang bisa saya lakukan?

Apa yang berada di luar kendali saya?

Sementara pikiran berulang yang tidak produktif sering kembali ke tempat yang sama.

Bagaimana kalau gagal?

Kenapa dulu saya melakukan itu?

Bagaimana kalau terjadi lagi?

Kenapa saya seperti ini?

Banyak aktivitas mental.

Sedikit kemajuan.

Mungkin bukan jumlah pikiran yang menjadi masalah.

Tetapi apakah pikiran itu membawa kita ke suatu tempat.

IQ Pun Bukan Seluruh Cerita tentang Kecerdasan

Mitos lain muncul ketika kita terlalu terpesona pada satu angka.

IQ.

Tentu IQ bukan sesuatu yang tidak berguna.

Tes kecerdasan dapat mengukur kemampuan kognitif tertentu dan mempunyai fungsi nyata dalam psikologi maupun pendidikan.

Tetapi manusia terlalu kompleks untuk diringkas oleh satu skor.

Dalam kehidupan sehari-hari kita juga membutuhkan:

kemampuan memahami orang lain,

mengelola emosi,

mengambil keputusan ketika data tidak lengkap,

beradaptasi terhadap perubahan,

bertahan menghadapi kegagalan,

belajar dari kesalahan,

dan menggunakan kemampuan untuk tujuan yang bermakna.

Jadi mungkin persoalannya bukan apakah IQ penting atau tidak.

Pertanyaan yang lebih menarik adalah:

Apa gunanya pikiran yang tajam jika kita tidak memiliki kebijaksanaan untuk menggunakannya?

Yang Membuat Saya Berpikir Ulang tentang Buku Saya Sendiri

Kembali pada buku Setiap Orang Berhak Sukses.

Saya pernah menulis sesuatu berdasarkan pemahaman yang saat itu saya miliki.

Sekarang saya melihat bagian tersebut dengan perspektif berbeda.

Apakah itu berarti seluruh gagasan buku itu menjadi tidak berguna?

Tentu tidak.

Tetapi ada bagian yang sekarang saya tahu perlu diperbarui.

Dan anehnya, saya justru merasa pengalaman itu penting.

Sebab ia mengingatkan saya bahwa menulis bukanlah tindakan mengabadikan bahwa kita pernah benar.

Menulis adalah merekam perjalanan pemahaman.

Ada hal yang kita yakini hari ini.

Ada yang kemudian diperkuat oleh pengalaman dan penelitian.

Ada pula yang harus kita revisi.

Tidak ada yang salah dengan perubahan itu.

Yang berbahaya justru ketika kita terlalu jatuh cinta kepada pendapat lama sehingga menolak bukti yang lebih baik.

Mungkin pengetahuan seharusnya tidak membuat kita semakin keras mempertahankan identitas.

Pengetahuan seharusnya membuat kita semakin rendah hati.

Jadi, Mengapa Otak Kita Terasa Makin Lemot?

Mungkin jawabannya bukan karena kita semakin bodoh.

Dan tentu tidak tepat menyimpulkan begitu saja bahwa teknologi telah “merusak otak kita”.

Bisa jadi kita sedang meminta terlalu banyak dari sistem perhatian yang sama.

Kita ingin fokus tetapi notifikasi tidak pernah berhenti.

Kita ingin mengingat tetapi tidak benar-benar memperhatikan.

Kita ingin kreatif tetapi setiap ruang kosong segera kita isi.

Kita ingin tenang tetapi otak tidak pernah diberi kesempatan untuk sunyi.

Kita ingin berpikir mendalam tetapi terbiasa berpindah setelah beberapa detik.

Mungkin kesehatan otak modern bukan hanya persoalan bagaimana meningkatkan kapasitas.

Tetapi juga bagaimana melindungi perhatian.

Mengerjakan satu hal pada satu waktu ketika memungkinkan.

Berani meletakkan ponsel.

Berjalan.

Tidur.

Berbicara dengan orang lain.

Memberi ruang untuk diam.

Membaca sesuatu sampai selesai.

Dan sesekali membiarkan pikiran tidak diberi tugas.

Sederhana?

Ya.

Mudah?

Belum tentu.

Karena kita hidup di dunia yang semakin pintar menarik perhatian kita.

Belajar Kadang Berarti Mengoreksi Diri Sendiri

Dulu saya menulis tentang otak kiri dan otak kanan.

Hari ini saya mengetahui bahwa ceritanya lebih rumit daripada itu.

Dan mungkin beberapa tahun dari sekarang, ada lagi pemahaman saya hari ini yang perlu diperbaiki.

Saya berharap demikian.

Sebab itu berarti saya masih belajar.

Pada akhirnya, tujuan belajar bukanlah agar kita selalu bisa mengatakan:

“Saya sudah tahu.”

Tetapi agar kita tetap memiliki keberanian mengatakan:

“Ternyata saya perlu memahami ini lagi.”

Mungkin itulah salah satu bentuk kecerdasan yang jarang diukur oleh tes apa pun:

kesediaan untuk mengubah pikiran ketika menemukan pengetahuan yang lebih baik.

Dan mungkin menjaga otak tetap sehat juga dimulai dari sana.

Bukan hanya membuatnya terus berpikir.

Tetapi membuatnya tetap terbuka untuk belajar kembali.

Dan ternyata, mitos otak kiri dan kanan bukan satu-satunya kesalahpahaman populer tentang cara kerja otak. Pada tulisan berikutnya, saya ingin membahas mengapa otak kita sering terasa makin lemot di tengah kehidupan digital.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung. Semoga langkah Anda hari ini membawa semangat baru untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak. Saya menghargai setiap dedikasi dan perjalanan Anda. Sampai kita berjumpa kembali, dalam tulisan atau kehidupan nyata.