Pernahkah kita terlibat dalam sebuah diskusi, lalu di tengah percakapan menyadari bahwa kita sebenarnya sudah tidak lagi mencari kebenaran?
Kita hanya ingin menang.
Kita mendengar lawan bicara, tetapi bukan untuk memahami. Kita mendengarkan sambil menyiapkan jawaban. Ketika muncul informasi yang mendukung pendapat kita, kita menerimanya dengan mudah. Tetapi ketika datang bukti yang menggoyahkan keyakinan kita, tiba-tiba standar pembuktiannya menjadi jauh lebih tinggi.
Menariknya, Al-Qur'an berbicara tentang kecenderungan manusia ini jauh sebelum kita mengenal istilah confirmation bias, motivated reasoning, atau intellectual humility.
QS. Al-Kahf ayat 54 menghadirkan sebuah paradoks.
وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِن كُلِّ مَثَلٍ ۚ وَكَانَ الْإِنسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا
"Dan sungguh, dalam Al-Qur'an ini Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia dengan bermacam-macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah."
QS. Al-Kahf: 54
Allah telah menjelaskan kebenaran dengan berbagai cara.
Namun manusia tetap saja suka membantah.
Pertanyaannya kemudian bukan hanya: apakah kita sudah mendapatkan penjelasan?
Pertanyaan yang lebih dalam adalah:
apakah hati kita masih bersedia menerima kebenaran ketika kebenaran itu tidak sesuai dengan apa yang ingin kita percayai?
Allah Menjelaskan, Manusia Membantah
Perhatikan bagian pertama ayat:
وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِن كُلِّ مَثَلٍ
Allah menjelaskan kepada manusia melalui berbagai perumpamaan dan bentuk penjelasan.
Al-Qur'an tidak berbicara kepada manusia dengan satu cara saja.
Ada kisah.
Ada perumpamaan.
Ada pertanyaan.
Ada peringatan.
Ada kabar gembira.
Ada argumentasi.
Ada gambaran tentang manusia, alam, kehidupan, kematian, sejarah, dan hari akhir.
Ath-Thabari menjelaskan bahwa Allah menghadirkan berbagai perumpamaan, nasihat, dan hujah agar manusia mengingat, mengambil pelajaran, dan kembali kepada-Nya. Namun pada bagian berikutnya, beliau menjelaskan jadal sebagai mirā’ dan khuṣūmah, perdebatan dan perselisihan yang membuat manusia tidak kembali kepada kebenaran dan tidak mengambil pelajaran dari nasihat.
Ibn Katsir memberi tekanan yang serupa. Menurut penjelasannya, berbagai perkara telah diterangkan dalam Al-Qur'an agar manusia tidak menyimpang dari kebenaran dan jalan petunjuk. Tetapi manusia tetap dapat banyak berdebat dan melawan kebenaran dengan kebatilan, kecuali mereka yang diberi petunjuk oleh Allah.
Di sini saya menemukan sebuah pelajaran yang cukup mengusik.
Masalah manusia tidak selalu karena kurangnya penjelasan.
Kadang-kadang kita sudah cukup tahu.
Kita hanya tidak menyukai konsekuensi dari apa yang kita tahu.
Ada perbedaan antara seseorang yang berkata:
"Saya belum mengerti. Tolong jelaskan lagi."
dengan seseorang yang sebenarnya telah mendapatkan penjelasan, tetapi pikirannya langsung bekerja:
"Bagaimana saya bisa membantah ini?"
Yang pertama sedang membuka pintu untuk belajar.
Yang kedua mungkin sedang membangun benteng untuk mempertahankan diri.
Ketika Akal Berubah Menjadi Pengacara Ego
Ada kemampuan luar biasa yang Allah berikan kepada manusia: akal.
Dengan akal kita dapat membaca, membandingkan, menganalisis, mempertanyakan, menguji, dan mengambil kesimpulan.
Tetapi kemampuan yang sama juga bisa digunakan untuk tujuan yang berbeda.
Akal dapat menjadi pencari kebenaran.
Akal juga dapat berubah menjadi pengacara yang sangat cerdas bagi ego.
Kita bisa menemukan alasan untuk hampir segala sesuatu.
Mengapa belum perlu berubah.
Mengapa kesalahan kita sebenarnya dapat dimaklumi.
Mengapa nasihat itu tidak perlu didengarkan.
Mengapa orang yang mengkritik kita sebenarnya juga memiliki banyak kekurangan.
Bahkan terkadang kita tidak menyangkal bahwa suatu nasihat benar.
Kita hanya sibuk mencari alasan mengapa nasihat itu tidak perlu berlaku untuk kita.
Di sinilah QS. Al-Kahf: 54 terasa sangat personal.
Ayat ini mudah sekali digunakan untuk menunjuk orang lain:
"Nah, itu dia. Orang itu memang suka membantah."
Padahal mungkin manfaat terbesarnya justru muncul ketika jari itu kita tarik kembali kepada diri sendiri.
Apakah saya juga seperti itu?
Sebuah Peristiwa pada Ali dan Fatimah
Ada riwayat sahih yang membuat ayat ini semakin menarik.
Suatu malam Rasulullah ﷺ mendatangi Ali bin Abi Talib dan Fatimah radhiyallahu 'anhuma. Beliau bertanya mengapa keduanya tidak mengerjakan salat malam.
Ali menjawab bahwa jiwa mereka berada dalam kekuasaan Allah; apabila Allah menghendaki mereka bangun, mereka akan bangun.
Rasulullah ﷺ kemudian pergi. Ali mendengar beliau membaca:
وَكَانَ الْإِنسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا
"Manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah."
Riwayat ini tercantum dalam Sahih al-Bukhari no. 4724, dan Ibn Katsir juga membawanya ketika menafsirkan QS. Al-Kahf: 54.
Riwayat ini menarik untuk direnungkan.
Pernyataan Ali tentang kehendak Allah bukanlah gagasan bahwa manusia berdiri di luar kekuasaan-Nya. Namun dalam konteks nasihat Rasulullah ﷺ untuk bangun salat, jawaban tersebut menjadi argumentasi yang dibalas Nabi dengan ayat tentang kecenderungan manusia berdebat.
Saya menangkap sebuah cermin di sini.
Kadang kita bahkan dapat menggunakan sesuatu yang secara prinsip benar untuk mempertahankan sesuatu yang tidak ingin kita lakukan.
Kita tahu seharusnya meminta maaf.
Tetapi kita punya alasan.
Kita tahu harus memperbaiki sebuah kebiasaan.
Tetapi kita punya argumentasi.
Kita tahu mungkin ada kebenaran dalam kritik seseorang.
Tetapi sebelum memeriksa kritik tersebut, kita lebih dahulu memeriksa kekurangan orang yang menyampaikannya.
Bukan karena kita tidak mampu berpikir.
Justru karena kita sangat mampu berpikir.
Pertanyaannya: ke mana kemampuan itu sedang kita arahkan?
Apa yang Dapat Kita Pelajari dari Psikologi?
Psikologi kognitif memberi kita beberapa istilah yang membantu mengenali kecenderungan ini.
Bukan berarti psikologi sedang "membuktikan" ayat Al-Qur'an. Saya lebih nyaman melihatnya sebagai dua lensa yang membantu kita memperhatikan perilaku manusia dari sudut yang berbeda.
Salah satunya adalah motivated reasoning.
Dalam tulisan klasiknya pada 1990, psikolog Ziva Kunda menjelaskan bahwa motivasi dapat memengaruhi cara manusia mengakses, membangun, dan mengevaluasi keyakinan. Ia membedakan dorongan untuk mencapai kesimpulan yang akurat dengan dorongan untuk mencapai kesimpulan tertentu yang memang kita inginkan.
Perbedaannya sederhana, tetapi sangat penting.
Yang satu bertanya:
"Apa yang benar?"
Yang lain bertanya:
"Bagaimana saya bisa membuktikan bahwa saya benar?"
Dari luar, keduanya mungkin sama-sama terlihat sedang berpikir.
Sama-sama membaca.
Sama-sama mencari referensi.
Sama-sama mengumpulkan bukti.
Tetapi tujuan di belakang proses berpikir itu berbeda.
Kita juga mengenal confirmation bias: kecenderungan memberi perhatian lebih besar kepada informasi yang sejalan dengan keyakinan yang sudah kita miliki dan memperlakukan informasi yang bertentangan secara berbeda. Fenomena ini telah lama dibahas dalam literatur psikologi mengenai penalaran manusia.
Karena itulah semakin banyak informasi tidak otomatis membuat seseorang semakin bijaksana.
Seseorang bahkan dapat memiliki lebih banyak pengetahuan, tetapi menggunakan pengetahuan itu hanya sebagai amunisi yang lebih banyak untuk mempertahankan keyakinannya sendiri.
Di sinilah intellectual humility menjadi menarik.
Kerendahan hati intelektual bukan berarti tidak memiliki pendirian atau menganggap semua pendapat sama benarnya.
Ia lebih dekat kepada kesadaran:
"Saya memiliki alasan untuk meyakini ini, tetapi pengetahuan saya terbatas dan saya masih mungkin salah."
Kajian psikologi mengenai intellectual humility memang menempatkan pengakuan terhadap keterbatasan pengetahuan dan kemungkinan bahwa keyakinan kita keliru sebagai bagian penting dari konsep tersebut.
Bagi saya, kemampuan mengatakan "saya mungkin salah" bukan tanda kelemahan intelektual.
Justru mungkin itulah salah satu tanda bahwa pikiran masih terbuka untuk belajar.
Tidak Semua Perdebatan Harus Dihindari
Namun ada sesuatu yang perlu kita jaga.
QS. Al-Kahf: 54 tidak seharusnya digunakan untuk mematikan pertanyaan, diskusi kritis, atau perbedaan pendapat.
Al-Qur'an sendiri berbicara tentang jidal dalam konteks yang berbeda. Dalam QS. An-Nahl: 125, misalnya, ada perintah untuk berdialog dengan cara yang terbaik. QS. Al-'Ankabut: 46 juga mengajarkan agar perdebatan dengan Ahli Kitab dilakukan dengan cara yang terbaik, kecuali terhadap mereka yang berbuat zalim.
Jadi persoalannya bukan sekadar apakah kita berdebat atau tidak.
Yang perlu diperiksa adalah tujuan, cara, dan keadaan hati di balik perdebatan itu.
Diskusi yang sehat berkata:
"Mari kita lihat mana argumen yang lebih kuat."
Ego berkata:
"Saya tidak boleh kalah."
Diskusi yang sehat memungkinkan kalimat:
"Ternyata saya keliru."
Ego menganggap kalimat itu sebagai ancaman.
Diskusi yang sehat membuat pengetahuan bertambah.
Perdebatan yang dikuasai ego terkadang hanya membuat suara semakin keras.
Karena itu, memenangkan argumentasi belum tentu berarti kita menemukan kebenaran.
Kefasihan bukan jaminan kebenaran.
Banyaknya referensi bukan jaminan kita bebas dari bias.
Dan kemampuan membantah bukan selalu tanda kedalaman ilmu.
Mungkin salah satu tanda ilmu telah benar-benar menyentuh seseorang justru ketika semakin banyak yang ia ketahui, semakin mudah ia berkata:
"Saya belum tahu."
"Saya perlu memeriksanya lagi."
"Pendapat Anda ternyata lebih kuat."
"Saya salah."
Kalimat-kalimat seperti itu terdengar sederhana.
Namun ego sering membuatnya sangat mahal.
Tiga Pertanyaan Sebelum Membantah
Ayat ini akhirnya membawa saya kepada tiga pertanyaan yang sederhana untuk dibawa ke kehidupan sehari-hari.
1. Apa tujuan saya dalam percakapan ini?
Apakah saya ingin memahami?
Apakah saya ingin mencari kebenaran?
Atau sebenarnya saya hanya ingin membuktikan bahwa saya benar?
Niat tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Tetapi biasanya kita sendiri tahu jawabannya jika bersedia cukup jujur.
2. Apakah ada bukti yang mungkin membuat saya mengubah pendapat?
Ini pertanyaan yang penting.
Jika jawabannya adalah tidak ada—apa pun informasi yang muncul kita tetap tidak akan mengubah pandangan—mungkin kita tidak lagi sedang memeriksa sebuah gagasan.
Kita sedang mempertahankan identitas.
Pendapat telah menjadi bagian dari harga diri.
Akibatnya, mengubah pendapat terasa seperti kalah.
Padahal bisa jadi mengubah pendapat setelah menemukan bukti yang lebih baik justru merupakan kemenangan dalam proses belajar.
3. Jika ternyata saya salah, apakah saya bersedia berubah?
Inilah bagian yang paling sulit.
Sebab kebenaran tidak selalu berhenti pada perubahan pikiran.
Kadang kebenaran meminta perubahan perilaku.
Meminta maaf.
Mengakui kesalahan.
Mengubah kebiasaan.
Meninggalkan keputusan yang terlanjur kita pertahankan.
Menerima nasihat dari orang yang lebih muda.
Atau memulai lagi sesuatu yang ternyata selama ini kita pahami secara keliru.
Pada titik itulah intelektualitas bertemu dengan spiritualitas.
Bukan hanya: bisakah saya memahami kebenaran?
Tetapi:
maukah saya tunduk ketika telah mengetahuinya?
Dari Mendengarkan Menuju Ketundukan
Saya kemudian teringat QS. Az-Zumar: 18 tentang orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya. Mereka disebut sebagai orang yang mendapat petunjuk dan ulul albab—orang-orang yang menggunakan akalnya.
Ada hubungan reflektif yang indah dengan QS. Al-Kahf: 54.
Akal yang sehat tidak berhenti pada kemampuan berbicara.
Ia mampu mendengar.
Menimbang.
Memeriksa.
Dan ketika menemukan sesuatu yang lebih benar, ia bersedia mengikutinya.
Saya juga teringat QS. Al-Kahf: 28 yang sebelumnya kita tadabburi: tentang menjaga diri bersama orang-orang yang mengingat Allah dan menginginkan rida-Nya.
Saya tidak mengatakan bahwa QS. Al-Kahf: 28 dan 54 secara tafsir membentuk hubungan sebab-akibat langsung.
Namun sebagai refleksi, keduanya memberi saya sebuah pertanyaan:
siapa yang sedang membentuk hati kita akan memengaruhi bagaimana kita memperlakukan kebenaran.
Lingkungan yang sehat membantu kita menjaga orientasi.
Dan orientasi menentukan pertanyaan yang kita bawa.
Ketika yang kita cari adalah rida Allah, pertanyaannya menjadi:
"Apa yang benar?"
Ketika ego mengambil alih, pertanyaannya perlahan berubah:
"Bagaimana supaya saya tetap terlihat benar?"
Perbedaannya tipis.
Tetapi arahnya sangat jauh.
Refleksi Penutup
Kita hidup pada masa ketika manusia memiliki begitu banyak alat untuk berargumentasi.
Informasi dapat ditemukan dalam hitungan detik.
Referensi dapat dikumpulkan dengan cepat.
Pendapat dapat disampaikan kepada ribuan orang hanya dengan beberapa sentuhan layar.
Bahkan hari ini teknologi dapat membantu kita menyusun argumentasi yang terlihat sangat meyakinkan.
Tetapi QS. Al-Kahf: 54 mengingatkan bahwa persoalan manusia bukan selalu kekurangan informasi.
Ada persoalan lain yang jauh lebih sunyi:
hati yang tidak ingin tunduk.
Allah telah menjelaskan.
Dengan kisah.
Dengan perumpamaan.
Dengan nasihat.
Dengan peringatan.
Dengan hujah.
Tetapi manusia masih dapat membantah.
Karena itu, mungkin doa kita tidak cukup hanya:
"Ya Allah, tunjukkan kepadaku kebenaran."
Kita juga membutuhkan doa yang lebih dalam:
"Ya Allah, ketika kebenaran itu datang, jangan biarkan egoku menghalangiku untuk menerimanya."
Sebab menjadi cerdas bukan hanya tentang kemampuan menemukan argumentasi.
Kedewasaan juga terlihat dari keberanian mengoreksi diri ketika ternyata kita salah.
Akal yang sehat mencari kebenaran.
Ego mencari kemenangan.
Dan mungkin kebijaksanaan dimulai ketika kita masih mampu membedakan keduanya.
Referensi
Al-Qur'an, QS. Al-Kahf: 54; QS. Al-Kahf: 28; QS. Az-Zumar: 18; QS. An-Nahl: 125; QS. Al-'Ankabut: 46.
Ath-Thabari, Jāmi' al-Bayān, tafsir QS. Al-Kahf: 54.
Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf: 54.
Sahih al-Bukhari no. 4724, riwayat Ali bin Abi Talib radhiyallahu 'anhu.
Kunda, Z. (1990). The Case for Motivated Reasoning. Psychological Bulletin, 108(3), 480–498.
Nickerson, R. S. (1998). Confirmation Bias: A Ubiquitous Phenomenon in Many Guises. Review of General Psychology, 2(2), 175–220.
Porter, T., et al. (2022). Predictors and consequences of intellectual humility. Nature Reviews Psychology.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung. Semoga langkah Anda hari ini membawa semangat baru untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak. Saya menghargai setiap dedikasi dan perjalanan Anda. Sampai kita berjumpa kembali, dalam tulisan atau kehidupan nyata.