Ada satu kalimat pendek yang beberapa waktu lalu menarik perhatian saya:
“Be the role model that you need.”
Jadilah teladan yang kita butuhkan.
Kalimatnya sederhana. Tetapi semakin direnungkan, semakin terasa bahwa ia sedang membalik sebuah kebiasaan yang sangat manusiawi: kita sering menunggu orang lain menjadi seperti yang kita harapkan.
Kita berharap memiliki pemimpin yang lebih jujur.
Kita ingin bekerja dengan orang-orang yang lebih disiplin.
Kita berharap berada di tengah lingkungan yang lebih menghargai waktu, lebih bertanggung jawab, lebih peduli, lebih terbuka terhadap kritik, dan lebih konsisten antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan.
Harapan-harapan itu tentu tidak salah.
Namun ada pertanyaan yang jauh lebih dekat dan mungkin lebih sulit dijawab:
Bagaimana jika perubahan yang kita tunggu dari orang lain justru perlu dimulai dari diri kita sendiri?
Kepemimpinan Tidak Selalu Dimulai dari Jabatan
Ketika mendengar kata leadership, kita mudah membayangkan seseorang yang berdiri di depan: direktur, ketua, kepala, manajer, rektor, dekan, pemimpin organisasi, atau seseorang yang memiliki kewenangan mengambil keputusan.
Padahal pengaruh tidak selalu berjalan melalui struktur formal.
Ada orang yang memiliki jabatan tinggi tetapi tidak banyak meninggalkan jejak dalam kehidupan orang di sekitarnya.
Sebaliknya, ada seseorang yang mungkin tidak memiliki posisi istimewa, tetapi sikapnya membuat orang lain belajar tentang ketekunan, integritas, kesabaran, atau kepedulian.
Ia datang tepat waktu ketika orang lain menganggap keterlambatan biasa.
Ia menyelesaikan tanggung jawab tanpa harus terus diingatkan.
Ia memperlakukan orang dengan hormat, bahkan ketika tidak ada keuntungan apa pun yang akan diperolehnya.
Ia berani mengakui kesalahan.
Ia tidak hanya menuntut standar dari orang lain. Ia mencoba menjalani standar itu terlebih dahulu.
Di titik itulah kepemimpinan menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam daripada jabatan.
Kepemimpinan adalah pengaruh yang lahir dari cara kita menjalani nilai.
Bukan hanya dari apa yang kita katakan.
Kita Semua Pernah Membutuhkan Teladan
Coba ingat kembali perjalanan hidup kita.
Barangkali pernah ada seorang guru yang membuat kita memahami bahwa mengajar bukan sekadar menyampaikan materi.
Mungkin ada dosen yang menunjukkan bahwa kecerdasan tidak harus membuat seseorang kehilangan kerendahan hati.
Ada atasan yang membuat kita belajar bagaimana memperlakukan bawahan dengan hormat.
Ada orang tua yang tidak banyak memberi ceramah, tetapi kehidupannya sendiri menjadi pelajaran.
Atau seorang teman yang diam-diam mengajarkan arti menepati janji.
Sering kali orang-orang seperti itu tidak pernah berkata,
“Jadikan saya teladan.”
Mereka hanya menjalani sesuatu dengan konsisten.
Dan kita melihatnya.
Di sinilah keteladanan memiliki kekuatan yang unik. Nasihat berbicara kepada telinga, tetapi teladan berbicara melalui pengalaman.
Kita mungkin lupa sebuah pidato.
Kita mungkin lupa sebuah presentasi.
Tetapi sulit melupakan seseorang yang memperlakukan kita dengan baik ketika ia sebenarnya punya kesempatan untuk bersikap sebaliknya.
Kita Sering Menuntut Apa yang Belum Kita Hidupi
Ada sebuah ironi kecil dalam kehidupan.
Kita mudah kecewa ketika orang lain tidak disiplin, tetapi sesekali kita sendiri masih mencari alasan untuk keterlambatan.
Kita ingin orang lain mendengarkan, tetapi ketika orang berbicara, kita sibuk menyiapkan jawaban.
Kita mengharapkan kejujuran, tetapi terkadang tergoda menyembunyikan kesalahan kecil demi menjaga citra.
Kita berharap organisasi memiliki budaya yang sehat, tetapi mungkin masih ikut menyebarkan keluhan tanpa berusaha memperbaiki keadaan.
Di sinilah kalimat “Be the role model that you need” terasa seperti sebuah cermin.
Ia tidak meminta kita berhenti mengharapkan perubahan dari sistem atau orang lain. Ada keadaan yang memang membutuhkan perbaikan struktural, kebijakan, kepemimpinan formal, dan tanggung jawab bersama.
Tetapi kalimat itu mengingatkan bahwa selalu ada satu wilayah yang berada paling dekat dengan kendali kita:
cara kita sendiri bertindak.
Kita mungkin belum mampu mengubah seluruh budaya organisasi.
Tetapi kita bisa mulai membangun budaya kecil di sekitar meja kerja kita.
Kita mungkin belum mampu membuat semua orang menghargai waktu.
Tetapi kita bisa belajar menghargai waktu orang lain.
Kita mungkin tidak dapat memaksa semua orang menjadi dapat dipercaya.
Tetapi kita bisa berusaha menjadi seseorang yang ucapannya bisa dipercaya.
Perubahan besar sering terasa jauh.
Keteladanan membuatnya menjadi dekat.
Teladan Bukan Berarti Menjadi Sempurna
Ada satu jebakan ketika berbicara tentang keteladanan: kita bisa membayangkan bahwa seorang teladan harus selalu benar.
Padahal tidak demikian.
Menjadi teladan bukan berarti tidak pernah salah.
Justru terkadang teladan yang paling kuat muncul dari cara seseorang menghadapi kesalahannya.
Ia mampu berkata, “Saya keliru.”
Ia bersedia memperbaiki keputusan.
Ia tidak sibuk mempertahankan gengsi ketika fakta menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Ia meminta maaf ketika menyakiti orang lain.
Ia mau belajar lagi ketika menyadari bahwa pengetahuannya belum cukup.
Bukankah kita lebih mudah percaya kepada manusia seperti itu?
Keteladanan bukan pertunjukan kesempurnaan.
Ia adalah keberanian untuk terus menyelaraskan antara nilai yang kita percaya, kata-kata yang kita ucapkan, dan perilaku yang kita jalani.
Tentu tidak selalu berhasil.
Ada hari ketika kita lelah.
Ada saat ketika emosi membuat respons kita kurang bijaksana.
Ada keputusan yang belakangan kita sesali.
Tetapi justru di sanalah proses pertumbuhan berlangsung.
Teladan tidak selalu berkata, “Lihatlah betapa sempurnanya saya.”
Kadang ia berkata melalui kehidupannya,
“Saya juga sedang belajar, tetapi saya tidak ingin berhenti memperbaiki diri.”
Budaya Dibangun dari Perilaku yang Diulang
Kita sering berbicara tentang budaya organisasi seolah-olah budaya adalah sesuatu yang abstrak.
Padahal budaya hidup dalam perilaku sehari-hari.
Bagaimana orang merespons pesan.
Bagaimana rapat dimulai.
Bagaimana kesalahan diperlakukan.
Bagaimana orang berbicara tentang rekan yang tidak berada di ruangan.
Bagaimana seorang pemimpin bersikap kepada orang yang tidak memiliki kekuasaan.
Bagaimana janji kecil dipenuhi.
Bagaimana kontribusi orang lain dihargai.
Satu perilaku mungkin tampak kecil.
Tetapi perilaku yang diulang dapat berubah menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang ditiru dapat berubah menjadi norma. Dan norma yang bertahan lama perlahan menjadi budaya.
Mungkin karena itu perubahan tidak selalu dimulai dari pidato besar.
Kadang ia dimulai dari seseorang yang memutuskan:
“Saya tidak ingin meneruskan kebiasaan buruk ini.”
Lalu ia memilih cara yang berbeda.
Pada awalnya mungkin tidak ada yang memperhatikan.
Tetapi keteladanan mempunyai cara tersendiri untuk menyebar.
Orang melihat.
Orang merasakan.
Lalu sebagian mulai meniru.
Jangan Hanya Bertanya, “Pemimpin Seperti Apa yang Saya Inginkan?”
Ada pertanyaan yang sering kita ajukan:
Pemimpin seperti apa yang kita butuhkan?
Pertanyaan itu penting.
Namun mungkin ada pertanyaan kedua yang tidak kalah penting:
Jika suatu hari orang lain menjadikan perilaku kita sebagai contoh, nilai apa yang akan mereka pelajari?
Apakah mereka akan belajar bahwa keberhasilan membenarkan segala cara?
Atau bahwa integritas tetap penting ketika tidak ada yang melihat?
Apakah mereka akan belajar bahwa posisi membuat seseorang berhak diperlakukan istimewa?
Atau bahwa semakin besar amanah, semakin besar pula tanggung jawab untuk melayani?
Apakah mereka melihat bahwa orang hanya dihargai ketika berguna?
Atau bahwa setiap manusia layak diperlakukan dengan hormat?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membuat kepemimpinan kembali kepada sesuatu yang sangat personal.
Sebelum menjadi strategi, kepemimpinan adalah karakter.
Sebelum menjadi instruksi, ia adalah contoh.
Sebelum meminta orang lain bergerak, ada baiknya kita melihat arah langkah kita sendiri.
Mulai dari Satu Nilai
Kita tidak harus mengubah semuanya hari ini.
Barangkali cukup memilih satu nilai yang selama ini sangat kita harapkan dari orang lain.
Jika kita ingin berada di lingkungan yang lebih disiplin, mulailah dari disiplin kita.
Jika kita merindukan komunikasi yang lebih baik, mulailah dengan memberi kabar dan kejelasan.
Jika kita ingin bekerja dengan orang-orang yang dapat dipercaya, mulailah dengan menjaga janji.
Jika kita ingin memiliki pemimpin yang mau belajar, jangan pernah berhenti menjadi pembelajar.
Jika kita menginginkan suasana yang lebih manusiawi, perlakukan orang lain sebagai manusia—bukan sekadar jabatan, fungsi, atau angka.
Kecil?
Mungkin.
Tetapi hampir semua karakter besar dibangun dari keputusan kecil yang dilakukan berkali-kali.
Menjadi Apa yang Selama Ini Kita Cari
Pada akhirnya, kita memang tidak selalu bisa memilih siapa yang memimpin kita.
Kita tidak selalu dapat menentukan seperti apa lingkungan tempat kita berada.
Kita juga tidak bisa mengendalikan bagaimana orang lain bertindak.
Tetapi kita masih memiliki pilihan tentang manusia seperti apa yang ingin kita hadirkan di tengah keadaan itu.
Mungkin dunia tidak kekurangan orang yang pandai berbicara tentang nilai.
Yang lebih dibutuhkan adalah orang-orang yang mencoba menghidupi nilai tersebut.
Tidak harus terkenal.
Tidak harus memiliki jabatan besar.
Tidak harus sempurna.
Cukup mulai dari ruang pengabdian kita masing-masing.
Karena terkadang perubahan tidak datang ketika kita akhirnya menemukan teladan yang kita tunggu.
Perubahan mulai terjadi ketika kita memutuskan untuk menjadi teladan yang selama ini kita butuhkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung. Semoga langkah Anda hari ini membawa semangat baru untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak. Saya menghargai setiap dedikasi dan perjalanan Anda. Sampai kita berjumpa kembali, dalam tulisan atau kehidupan nyata.