Rabu, 09 September 2026

Banyak Perguruan Tinggi Tutup: Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi?



Barusan saya membaca sebuah tulisan di Entrepreneur yang membuat saya berhenti cukup lama.

Judulnya berbicara tentang semakin banyaknya perguruan tinggi yang tutup di Amerika Serikat dan kemungkinan datangnya krisis penerimaan mahasiswa yang lebih dalam.

Awalnya saya mengira persoalannya sederhana: jumlah mahasiswa berkurang, pendapatan kampus turun, lalu sebagian perguruan tinggi akhirnya tidak mampu bertahan.

Namun semakin saya membaca, saya menyadari bahwa persoalannya jauh lebih kompleks.

Dan mungkin justru di situlah pelajaran pentingnya.

Kampus tidak selalu runtuh karena satu masalah besar. Ia bisa melemah karena terlalu banyak masalah kecil yang dibiarkan bertahun-tahun.

Ketika Berkurangnya Mahasiswa Menjadi Masalah Eksistensial

Menurut laporan Inside Higher Ed, setidaknya 16 institusi nonprofit di Amerika Serikat mengumumkan penutupan pada 2025 karena persoalan keuangan dan jumlah mahasiswa. Banyak dari mereka telah mengalami penurunan enrollment selama bertahun-tahun ketika biaya operasional terus meningkat.

Jika ditarik lebih jauh, skalanya menjadi lebih mengkhawatirkan. The Hechinger Report mencatat hampir 300 perguruan tinggi dan universitas yang menawarkan setidaknya gelar associate tutup antara 2008 dan 2023.

Angka-angka itu mudah kita baca sebagai statistik.

Tetapi coba bayangkan apa yang sebenarnya ada di balik sebuah kampus yang tutup.

Ada mahasiswa yang harus mencari tempat belajar baru.

Ada dosen dan tenaga kependidikan yang kehilangan ruang pengabdian.

Ada alumni yang melihat almamaternya berhenti beroperasi.

Ada masyarakat sekitar yang kehilangan salah satu pusat aktivitas ekonomi dan intelektualnya.

Karena itu, penutupan perguruan tinggi bukan hanya persoalan neraca keuangan.

Ia adalah cerita tentang sebuah institusi yang perlahan kehilangan kemampuan untuk mempertahankan kehidupan di dalamnya.

Yang menarik, penurunan mahasiswa biasanya bukan satu-satunya penyebab.

Ketika mahasiswa berkurang, pendapatan dari biaya pendidikan ikut turun. Tetapi gedung tetap harus dirawat. Pegawai tetap harus dibayar. Sistem teknologi tetap harus berjalan. Program studi tetap membutuhkan dosen. Pada saat yang sama, utang, biaya operasional, kompetisi, perubahan kebijakan, serta munculnya berbagai alternatif pendidikan terus memberikan tekanan.

Masalah-masalah itu kemudian saling memperbesar.

Sedikit seperti sebuah kapal yang mengalami beberapa kebocoran kecil sekaligus.

Satu lubang mungkin masih bisa ditangani.

Tetapi jika air masuk dari banyak tempat sementara awak kapal terus mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja, persoalannya bukan lagi tentang kebocoran.

Persoalannya adalah apakah kapal itu masih memiliki kemampuan untuk berubah arah.

Mungkin Masalahnya Bukan Kekurangan Program, tetapi Terlalu Banyak Program

Ada satu data yang menurut saya sangat menarik.

Dalam survei 2026 terhadap para chief business officers perguruan tinggi di Amerika Serikat, tujuh dari sepuluh responden mengatakan institusi mereka memiliki terlalu banyak program akademik dibandingkan jumlah mahasiswa yang ada saat ini. Angka tersebut meningkat dari 59 persen pada tahun sebelumnya. Akademik juga menjadi area yang paling banyak disebut sebagai sumber ketidaksesuaian antara biaya dan pendapatan.

Ini paradoks yang menarik.

Ketika mahasiswa berkurang, salah satu respons paling mudah adalah membuka sesuatu yang baru.

Program baru.

Konsentrasi baru.

Fasilitas baru.

Promosi baru.

Harapannya sederhana: semakin banyak yang ditawarkan, semakin banyak pula mahasiswa yang akan datang.

Tetapi bagaimana jika masalah sebenarnya bukan karena kampus memiliki terlalu sedikit pilihan?

Bagaimana jika justru kampus sedang kehilangan fokus?

Dalam dunia organisasi, bertambahnya aktivitas tidak selalu berarti bertambahnya kekuatan.

Kadang organisasi terlihat sangat sibuk tetapi sebenarnya sedang menyebarkan energinya terlalu tipis.

Perguruan tinggi mungkin perlu mengajukan pertanyaan yang lebih sulit: apa yang benar-benar menjadi kekuatan kita?

Program mana yang memiliki kualitas kuat?

Bidang apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat?

Kompetensi apa yang membuat lulusan kita berbeda?

Dan apa yang selama ini terus kita pertahankan hanya karena “dari dulu memang begitu”?

Pertanyaan seperti ini tidak nyaman.

Sebab institusi memiliki sejarah, kepentingan, kebiasaan, struktur, bahkan nostalgia.

Tetapi keberlanjutan organisasi sering kali membutuhkan keberanian untuk membedakan antara nilai yang harus dipertahankan dan cara lama yang harus diperbarui.

Keduanya tidak selalu sama.

Ketika Calon Mahasiswa Sudah Datang, Tetapi Kita Tidak Menyambutnya

Ada bagian lain dari tulisan tersebut yang menurut saya bahkan lebih mengusik.

Kita sering berbicara tentang bagaimana mendapatkan lebih banyak calon mahasiswa.

Membuat iklan.

Mengadakan promosi.

Memasang baliho.

Mengoptimalkan media sosial.

Mengadakan berbagai kegiatan penerimaan mahasiswa.

Tetapi bagaimana jika masalahnya bukan hanya bagaimana mencari mahasiswa baru?

Bagaimana jika mahasiswa sebenarnya sudah datang, tetapi kita gagal melayaninya?

UPCEA melakukan studi secret shopper terhadap proses enrollment perguruan tinggi. Temuannya cukup mengejutkan: 44 persen pertanyaan dari calon mahasiswa tidak mendapatkan respons sama sekali. Untuk pertanyaan yang dijawab, rata-rata waktu respons mencapai 14 jam 23 menit.

Bayangkan.

Seseorang sudah tertarik.

Ia membuka website kampus.

Membaca program yang ditawarkan.

Kemudian memberanikan diri bertanya.

Pada titik itu sebenarnya ia sedang mengatakan:

"Saya tertarik. Tolong bantu saya memahami kampus Anda."

Tetapi hampir separuhnya tidak mendapatkan jawaban.

Di sinilah persoalan penerimaan mahasiswa berubah dari sekadar persoalan pemasaran menjadi persoalan manusia.

Kita bisa menghabiskan banyak uang untuk mendatangkan perhatian.

Tetapi perhatian tanpa pelayanan hanya akan menjadi lalu lintas yang lewat.

Website yang cantik tidak cukup.

Iklan yang kreatif tidak cukup.

Jumlah pengikut media sosial tidak cukup.

Pada akhirnya seseorang memilih institusi karena ia merasa menemukan sesuatu yang bernilai, dan sering kali pengalaman itu dimulai dari hal yang sangat sederhana:

ada orang yang menjawab ketika ia bertanya.

Perguruan Tinggi Sedang Berhadapan dengan Perubahan Cara Orang Menilai Pendidikan

Di balik persoalan jumlah mahasiswa, sebenarnya ada pertanyaan yang jauh lebih besar.

Apa arti kuliah bagi generasi berikutnya?

Selama bertahun-tahun, pendidikan tinggi memiliki posisi yang relatif mapan. Sekolah selesai, lalu kuliah. Kuliah selesai, lalu bekerja.

Sekarang jalurnya tidak lagi sesederhana itu.

Calon mahasiswa memiliki semakin banyak kemungkinan: pendidikan daring, sertifikasi jangka pendek, pelatihan profesional, pembelajaran berbasis industri, dan berbagai jalur keterampilan lainnya. Artikel Entrepreneur menempatkan kompetisi dari pendidikan online dan jalur alternatif sebagai salah satu tekanan yang ikut mengubah lanskap pendidikan tinggi.

Karena itu, universitas tidak lagi cukup hanya mengatakan:

"Kami menyediakan program sarjana."

Masyarakat mungkin mengajukan pertanyaan berikutnya:

Untuk apa?

Apa yang akan saya pelajari?

Menjadi manusia seperti apa saya setelah belajar di sana?

Kompetensi apa yang benar-benar saya miliki?

Apakah pendidikan ini relevan dengan dunia yang sedang berubah?

Apakah pengalaman empat tahun itu sebanding dengan biaya, waktu, dan energi yang saya keluarkan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini seharusnya tidak membuat perguruan tinggi defensif.

Justru sebaliknya.

Ia bisa menjadi undangan untuk kembali kepada pertanyaan paling mendasar:

mengapa sebuah universitas perlu ada?

Bukan Sekadar Bertahan, tetapi Kembali Menemukan Nilai

Menurut saya, ancaman terbesar bagi perguruan tinggi bukanlah penurunan jumlah mahasiswa.

Penurunan mahasiswa adalah sinyal.

Yang lebih berbahaya adalah ketika sebuah institusi kehilangan kemampuan membaca sinyal tersebut.

Organisasi yang sehat bukan organisasi yang tidak pernah menghadapi masalah.

Organisasi yang sehat adalah organisasi yang masih mampu belajar.

Ia melihat data tanpa kehilangan manusia.

Ia menjaga tradisi tanpa menjadi tawanan masa lalu.

Ia berani mengevaluasi program tanpa kehilangan identitas.

Ia menggunakan teknologi tanpa melupakan sentuhan manusia.

Ia mendengarkan mahasiswa bukan hanya ketika mereka mendaftar, tetapi juga ketika mereka belajar, kesulitan, bertumbuh, dan akhirnya menjadi alumni.

Dan mungkin yang paling penting: ia tidak menunggu krisis menjadi terlalu besar sebelum mulai berubah.

Ada kalimat yang terus terbayang setelah saya selesai membaca tulisan tadi.

Setiap calon mahasiswa adalah manusia yang sedang mencari masa depan.

Bagi institusi, ia mungkin muncul sebagai satu baris data dalam dashboard penerimaan mahasiswa.

Satu lead.

Satu formulir.

Satu nomor WhatsApp.

Satu email.

Tetapi bagi orang tersebut, keputusan memilih kampus bisa menentukan beberapa tahun kehidupannya—bahkan mungkin arah hidupnya.

Karena itulah persaingan perguruan tinggi pada akhirnya bukan semata-mata perlombaan mendapatkan jumlah mahasiswa sebanyak mungkin.

Ia adalah perlombaan membangun kepercayaan, relevansi, kualitas, pengalaman, dan makna.

Kampus-kampus yang mampu bertahan mungkin bukan selalu yang paling besar.

Bukan pula yang memiliki gedung paling megah.

Tetapi mereka yang cukup rendah hati untuk terus bertanya:

Apa yang sedang berubah?

Apa yang sebenarnya dibutuhkan mahasiswa?

Apa yang sudah tidak relevan?

Apa kekuatan yang harus kita jaga?

Dan apa yang harus kita berani ubah sebelum perubahan memaksa kita melakukannya?

Karena kadang sebuah institusi tidak kehilangan masa depannya ketika pintunya resmi ditutup.

Ia mulai kehilangan masa depan jauh sebelumnya,

ketika ia berhenti belajar membaca perubahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung. Semoga langkah Anda hari ini membawa semangat baru untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak. Saya menghargai setiap dedikasi dan perjalanan Anda. Sampai kita berjumpa kembali, dalam tulisan atau kehidupan nyata.