![]() |
| Dr. Kasmiruddin, M.Si. Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Bengkulu |
Oleh: Dr. Kasmiruddin, M.Si.
Dulu, mahasiswa datang ke kampus karena dosen memiliki sesuatu yang sulit diperoleh: informasi.Hari ini, sebagian besar informasi ada di genggaman.
Cukup buka laptop, ketik pertanyaan kepada Artificial Intelligence (AI), dalam hitungan detik muncul jawaban yang rapi, lengkap, bahkan meyakinkan.
Lalu muncul pertanyaan yang menggelitik:
Jika AI mampu menjawab hampir semua pertanyaan mahasiswa, untuk apa mereka masih membutuhkan dosen?
Jawabannya justru semakin penting.
Karena pendidikan tidak pernah hanya tentang mendapatkan jawaban.
Pendidikan adalah proses belajar memahami pertanyaan, menguji kebenaran, membangun argumentasi, mengambil keputusan, dan membentuk karakter.
Karena itu, dosen masa depan tidak cukup menjadi penyampai informasi. Dosen harus menjadi pembimbing nalar, penguji kebenaran, mentor karakter, dan penjaga arah intelektual mahasiswa.
AI bisa menjawab. Dosen harus mengajarkan cara bertanya.
AI Bisa Menjawab, Dosen Mengajarkan Cara Bertanya
AI sangat baik menjawab pertanyaan yang jelas. Tetapi perguruan tinggi justru harus mengajarkan mahasiswa membuat pertanyaan yang bermutu.
Ketika mahasiswa bertanya kepada AI, misalnya, “Apa penyebab perubahan iklim?”, dosen harus membawa pertanyaan itu lebih jauh:
Apakah datanya dapat dipercaya? Dari mana sumbernya? Siapa yang menghasilkan data? Apa kepentingan di baliknya? Apa dampaknya bagi masyarakat?
Nilai dosen bukan lagi pada kemampuan menghafal lebih banyak daripada mesin.
Nilai dosen ada pada kemampuan mengajak mahasiswa berpikir lebih dalam daripada jawaban mesin.
Iqra’ dan Tabayyun di Era AI
Al-Qur’an memulai wahyu dengan perintah:
“Iqra’” - Bacalah.
QS Al-‘Alaq ayat 1 dimulai dengan perintah membaca, dan ayat 1–5 berbicara pula tentang penciptaan manusia, pengajaran melalui pena, serta Allah mengajarkan manusia apa yang sebelumnya tidak diketahuinya. Qur’an Kemenag
Di era AI, membaca bukan hanya membaca buku. Kita harus mampu membaca data, konteks, kepentingan, dan konsekuensi sebuah keputusan.
AI dapat membantu mahasiswa membaca lebih cepat. Dosen harus membantu mahasiswa membaca lebih benar.
Demikian pula prinsip tabayyun dalam QS Al-Hujurat ayat 6. Ayat tersebut memerintahkan orang beriman untuk meneliti kebenaran suatu berita agar tidak merugikan orang lain karena kecerobohan. Encyclopedia of the Noble Quran
Ketika menerima informasi, jangan langsung percaya.
Tanyakan:
Benarkah? Dari mana sumbernya? Apa buktinya? Adakah perspektif lain? Apa yang belum dijelaskan?
Inilah literasi AI yang sesungguhnya.
Ketika AI Mengerjakan Tugas Mahasiswa
Bayangkan mahasiswa meminta AI membuat esai, kemudian langsung mengumpulkannya sebagai tugas pribadi.
Tugas selesai.
Tetapi...
Apakah ia telah belajar?
Persoalannya bukan sekadar boleh atau tidak menggunakan AI. Persoalan utamanya adalah:
Apakah mahasiswa masih menjadi pelaku utama proses berpikir?
Karena itu, dosen perlu mengubah desain tugas.
Baca juga: Bagaimana Cara Belajar di Abad ke-21 ?
Mahasiswa dapat diminta membandingkan jawaban AI dengan sumber ilmiah, menemukan kesalahan AI, menjelaskan alasan menerima atau menolak suatu argumen, kemudian mempertahankan hasil pemikirannya secara lisan.
Dengan demikian, AI tidak menjadi jalan pintas untuk menghindari belajar.
AI justru menjadi bahan untuk belajar berpikir kritis.
Lima Langkah Sederhana bagi Dosen
1. Minta mahasiswa bertanya kepada AI, lalu mengkritiknya.
Cari jawaban yang benar, jawaban yang meragukan, dan informasi yang masih harus diverifikasi.
2. Nilai proses, bukan hanya produk.
Minta mahasiswa menjelaskan bagaimana sebuah kesimpulan diperoleh.
3. Gunakan asesmen lisan.
Tanyakan: Mengapa Anda memilih teori ini? Apa kelemahan argumen Anda? Bagaimana jika datanya berubah?
4. Terapkan AI Declaration.
Mahasiswa menyatakan apakah AI digunakan, untuk apa, dan bagian mana yang dibantu.
5. Jadikan kesalahan AI sebagai bahan belajar.
Berikan jawaban AI yang mengandung kesalahan. Minta mahasiswa melakukan fact-checking.
Dosen dan Keteladanan
Ada satu hal yang tidak mudah digantikan AI: keteladanan manusia.
AI dapat menjelaskan integritas.
Tetapi mahasiswa membutuhkan dosen yang mempraktikkan integritas.
AI dapat menjelaskan kepemimpinan.
Tetapi mahasiswa perlu melihat dosen yang adil, berani mengakui kesalahan, menghargai perbedaan pendapat, dan tetap jujur ketika menghadapi tekanan.
Dalam perspektif Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA), dosen harus menjadi role model intelektual dan moral.
Jadi, Apakah Dosen Akan Tergantikan AI?
Sebagian fungsi dosen memang berubah.
Dosen yang hanya menjadi penyampai informasi akan semakin mudah digantikan teknologi.
Tetapi dosen yang mampu membimbing nalar, membangun karakter, mengembangkan kreativitas, memberikan umpan balik, dan memahami manusia justru semakin dibutuhkan.
Karena itu, masa depan bukan:
Dosen versus AI.
Melainkan:
Dosen yang mampu menggunakan AI tanpa kehilangan sentuhan kemanusiaan.
Pada akhirnya, ukuran dosen hebat di era AI bukanlah siapa yang paling banyak bicara atau paling banyak memberikan tugas.
Dosen hebat adalah dosen yang membuat mahasiswa mampu berpikir tanpa selalu bergantung kepada dosen maupun mesin.
Sebab semakin pintar mesin menjawab, semakin penting manusia belajar berpikir.
Jangan hanya mendidik mahasiswa agar mampu menggunakan AI.
Didiklah mereka agar ketika menggunakan AI, mereka tetap mampu membedakan:
- yang benar dan yang salah,
- yang bermanfaat dan yang merugikan,
- yang cerdas dan yang bijaksana.
Karena pada akhirnya:
AI dapat membantu mahasiswa menemukan jawaban.
Tetapi dosenlah yang harus membantu mereka menemukan arah.
Baca juga : Menjadi Versatilist: Mengapa Keahlian Saja Tidak Lagi Cukup di Era AI
Catatan editor: Tulisan ini diterbitkan dengan izin penulis. Penyuntingan dilakukan secara ringan untuk format dan keterbacaan tanpa mengubah substansi utama tulisan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung. Semoga langkah Anda hari ini membawa semangat baru untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak. Saya menghargai setiap dedikasi dan perjalanan Anda. Sampai kita berjumpa kembali, dalam tulisan atau kehidupan nyata.