Sejak kecil kita sering mendengar nasihat sederhana:
“Belajarlah yang rajin supaya pintar. Kalau pintar, nanti hidupmu akan sukses.”
Nasihat itu tentu tidak salah. Pendidikan dan pengetahuan dapat membuka banyak pintu kehidupan. Tetapi semakin dewasa, kita menemukan kenyataan yang ternyata tidak sesederhana rumus tersebut.
Ada orang yang sangat pintar, pendidikannya tinggi, gelarnya panjang, pengetahuannya luas, tetapi kehidupan ekonominya biasa-biasa saja.
Sebaliknya, ada orang yang mungkin tidak mempunyai gelar akademik tinggi, tetapi mampu membangun usaha, menciptakan lapangan pekerjaan, membaca peluang, dan memperoleh kekayaan.
Lalu di mana letak persoalannya?
Kalau kepintaran membuat seseorang kaya, mengapa tidak semua orang pintar menjadi kaya?
Mungkin masalahnya bukan pada kepintaran.
Mungkin kita yang selama ini terlalu menyederhanakan arti pintar.
Pintar Bukan Mesin Pencetak Uang
Kita sering mencampurkan beberapa hal yang sebenarnya berbeda: pengetahuan, kecerdasan, keterampilan, kebijaksanaan, keberanian mengambil keputusan, kemampuan membangun hubungan, dan kemampuan menciptakan nilai.
Seseorang bisa sangat menguasai suatu ilmu, tetapi belum tentu mampu mengubah pengetahuannya menjadi sesuatu yang dibutuhkan orang lain.
Seseorang bisa membaca puluhan buku tentang bisnis, tetapi belum tentu berani memulai bisnis.
Seseorang bisa memahami teori komunikasi, tetapi belum tentu pandai membangun hubungan.
Seseorang bahkan bisa mengetahui banyak hal yang benar, tetapi belum tentu mampu mengambil keputusan yang benar ketika kehidupan mengujinya.
Di sinilah kita perlu membedakan antara mengetahui sesuatu dan mampu menggunakan apa yang kita ketahui.
Baca juga: Mengapa Banyak Orang Susah Sukses?
Pengetahuan adalah bahan baku.
Tetapi bahan baku belum menjadi produk.
Besi tidak otomatis menjadi jembatan. Kayu tidak otomatis menjadi rumah. Tepung tidak otomatis menjadi roti. Ada proses yang mengubah bahan mentah menjadi sesuatu yang bernilai.
Begitu pula ilmu.
Pengetahuan menjadi lebih bernilai ketika ia diolah menjadi kemampuan memecahkan masalah, mengambil keputusan, menghasilkan karya, menciptakan sesuatu, atau memberi manfaat kepada manusia lain.
Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan:
“Seberapa pintar saya?”
Tetapi:
“Apa yang dapat saya lakukan dengan apa yang saya ketahui?”
Kalau Begitu, Apakah Ilmu Tidak Membuat Kita Kaya?
Bisa.
Tetapi tidak otomatis.
Pengetahuan dapat meningkatkan kemampuan seseorang menciptakan nilai. Pendidikan dapat membuka kesempatan. Keterampilan dapat meningkatkan produktivitas. Kemampuan membaca perubahan dapat membantu seseorang menemukan peluang.
Tetapi kehidupan ekonomi dipengaruhi banyak hal.
Ada keberanian mengambil risiko. Ada kesempatan. Ada jaringan. Ada keterampilan berkomunikasi. Ada disiplin. Ada kondisi keluarga dan lingkungan. Ada akses terhadap modal. Ada kemampuan membaca kebutuhan orang lain. Ada keputusan-keputusan kecil yang terakumulasi selama bertahun-tahun.
Karena itu, menyimpulkan bahwa orang pintar pasti kaya sama sederhananya dengan mengatakan bahwa orang yang mempunyai banyak bahan makanan pasti menjadi koki hebat.
Bahan itu penting.
Tetapi bagaimana bahan tersebut diolah jauh lebih menentukan.
Dan ada persoalan lain yang menurut saya lebih mendasar: mengapa kita harus menjadikan kekayaan sebagai satu-satunya bukti keberhasilan ilmu?
Seorang guru mungkin tidak menjadi orang terkaya di kotanya, tetapi satu kalimat yang ia ajarkan dapat mengubah masa depan seorang murid.
Seorang peneliti mungkin tidak hidup bergelimang harta, tetapi temuannya dapat membantu ribuan manusia.
Seorang dokter menggunakan ilmunya untuk menyelamatkan kehidupan.
Seorang ibu mungkin tidak memiliki sederet gelar akademik, tetapi kebijaksanaan yang ia tanamkan dapat membentuk karakter satu generasi.
Kekayaan penting. Kehidupan yang layak tentu penting.
Tetapi nilai ilmu lebih luas daripada nilai ekonomi.
Dan di titik inilah saya teringat pada satu kata yang mempunyai tempat istimewa dalam sejarah Islam.
Iqra’.
Bacalah.
Iqra’: Mengapa Wahyu Dimulai dengan Membaca?
Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad ﷺ tidak dimulai dengan perintah mencari kekayaan, mengejar kedudukan, atau membangun kekuasaan.
Ia dimulai dengan:
“Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq.”
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.
QS Al-‘Alaq ayat 1.
Menariknya, iqra’ tidak harus dipahami sesempit membuka buku kemudian mengeja huruf demi huruf.
Dalam penjelasan Quraish Shihab, kata iqra’ berasal dari akar kata qara’a yang pada mulanya bermakna menghimpun. Dari sana berkembang makna membaca, menelaah, mendalami, meneliti, dan memahami sesuatu. Objek perintah membaca dalam ayat tersebut juga tidak disebutkan secara khusus sehingga cakupannya tidak terbatas pada satu jenis bacaan.
Artinya, buku hanyalah salah satu halaman besar yang harus dibaca manusia.
Alam adalah bacaan.
Sejarah adalah bacaan.
Masyarakat adalah bacaan.
Perubahan teknologi adalah bacaan.
Keberhasilan adalah bacaan.
Kegagalan pun bacaan.
Bahkan diri kita sendiri mungkin merupakan buku yang membutuhkan waktu seumur hidup untuk memahaminya.
Maka iqra’ bukan hanya aktivitas mata.
Ia adalah aktivitas pikiran.
Dan lebih dalam lagi, aktivitas kesadaran.
Tetapi Ada yang Lebih Penting daripada Sekadar “Bacalah”
Perhatikan kelanjutan ayat tersebut.
Bismi rabbika.
Dengan nama Tuhanmu.
Dua kata ini menurut saya sangat penting.
Sebab Al-Qur'an tidak hanya mengajarkan manusia untuk mengetahui. Ia sekaligus memberi arah kepada pengetahuan.
Kita tidak belajar sekadar supaya terlihat pintar.
Tidak membaca hanya agar bisa memenangkan perdebatan.
Tidak mengumpulkan gelar hanya untuk mendapatkan pengakuan.
Dan tidak pula menuntut ilmu semata-mata karena berharap ilmu akan membuat kita kaya.
Ilmu membutuhkan arah.
Pengetahuan membutuhkan nilai.
Kecerdasan membutuhkan kompas.
Sebab manusia dapat menjadi sangat cerdas tetapi menggunakan kecerdasannya untuk merugikan orang lain. Teknologi dapat menjadi semakin canggih, tetapi belum tentu membuat manusia semakin bijaksana.
Maka pertanyaannya bukan hanya:
Apa yang kita ketahui?
Tetapi juga:
Untuk apa pengetahuan itu kita gunakan?
Kita Sebenarnya Membaca atau Tidak?
Di sinilah saya semula tergoda mengatakan bahwa masyarakat kita sangat sedikit membaca.
Tetapi setelah melihat datanya, saya merasa pernyataan itu perlu diperbaiki.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada 2024, 53,09 persen penduduk Indonesia berumur 10 tahun ke atas membaca dalam seminggu terakhir, di luar kitab suci. Angkanya berbeda cukup jauh antarwilayah.
Perpustakaan Nasional juga melaporkan Tingkat Kegemaran Membaca nasional 2024 mencapai 72,44, meningkat dari 66,7 pada tahun sebelumnya. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat mencapai 73,52. Survei tersebut melibatkan lebih dari 174 ribu responden berusia 10–69 tahun di seluruh provinsi dan kabupaten/kota Indonesia.
Produksi buku pun tidak tepat jika disebut hampir tidak ada.
Pada 2024, Perpusnas menerbitkan 110.346 ISBN. Dari jumlah tersebut, 80.393 judul merupakan buku cetak.
Tentu ISBN tidak otomatis berarti sebuah buku dibaca banyak orang. Demikian pula indeks kegemaran membaca tidak otomatis menunjukkan seberapa dalam seseorang memahami bacaannya.
Tetapi data ini membuat pertanyaan kita menjadi lebih menarik.
Persoalannya mungkin bukan sekadar:
“Apakah kita membaca?”
Melainkan:
“Apa yang terjadi setelah kita membaca?”
Dari Membaca Menuju Qalam
QS Al-‘Alaq tidak berhenti pada perintah membaca.
Beberapa ayat kemudian kita bertemu dengan kata lain yang sangat penting:
“Alladzi ‘allama bil-qalam.”
Yang mengajar manusia dengan pena.
Ada sesuatu yang indah di sini.
Iqra’ bertemu dengan qalam.
Membaca bertemu dengan menulis.
Manusia menerima pengetahuan, kemudian menyimpannya. Ia mempelajarinya, mengkritiknya, mengembangkannya, lalu mewariskannya kepada manusia berikutnya.
Bayangkan jika setiap generasi manusia harus memulai seluruh pengetahuan dari nol.
Kita mengetahui pemikiran manusia yang hidup ratusan bahkan ribuan tahun sebelum kita karena seseorang pernah menuliskannya.
Tubuh penulisnya telah lama tiada.
Tetapi pikirannya masih berbicara.
Itulah salah satu keajaiban tulisan.
Membaca memungkinkan kita berdialog dengan pikiran orang lain.
Menulis memungkinkan pikiran kita ikut masuk ke dalam dialog panjang peradaban.
Karena itu, membaca dan menulis sebenarnya tidak berdiri sendiri.
Membaca adalah menerima percakapan pengetahuan. Menulis adalah ikut masuk ke dalam percakapan itu.
Tidak harus langsung menulis sebuah buku.
Bisa satu halaman.
Satu refleksi.
Satu catatan tentang sesuatu yang baru kita pahami hari ini.
Karena pengetahuan yang tidak pernah dicatat mudah hilang bersama ingatan. Sementara pengetahuan yang dituliskan mempunyai kesempatan untuk diuji, dikembangkan, bahkan diwariskan.
Setelah Membaca, Lalu Apa?
Mungkin inilah pertanyaan terpentingnya.
Kita bisa membaca puluhan buku dalam setahun.
Mengikuti seminar.
Mendengarkan podcast.
Menonton video pendidikan.
Mengambil berbagai kursus.
Bahkan memperoleh gelar demi gelar.
Tetapi semuanya belum tentu mengubah kehidupan jika pengetahuan berhenti sebagai informasi.
Membaca memberi kita bahan.
Berpikir membantu kita mengolahnya.
Pengalaman mengujinya.
Tindakan menerapkannya.
Kesalahan memperbaikinya.
Refleksi membantu kita menemukan makna.
Dan menulis membantu kita menyimpan serta membagikannya.
Mungkin proses belajar manusia memang seharusnya bergerak seperti ini:
membaca → memahami → mencoba → gagal → memperbaiki → bertumbuh → berbagi.
Di sinilah perbedaan antara orang yang sekadar mengumpulkan informasi dengan orang yang benar-benar belajar.
Yang satu semakin banyak tahu.
Yang lain perlahan berubah.
Semakin Tahu, Seharusnya Semakin Rendah Hati
Ada satu bagian lagi dari QS Al-‘Alaq yang sangat saya sukai.
“‘Allamal insāna mā lam ya‘lam.”
Allah mengajarkan manusia apa yang sebelumnya tidak diketahuinya.
Ada kerendahan hati yang sangat dalam di sana.
Sebelum tahu, kita tidak tahu.
Sebelum mampu, kita belajar.
Sebelum menjadi ahli, kita pernah menjadi pemula.
Dan sebanyak apa pun buku yang kita baca, selalu ada lebih banyak hal yang belum kita ketahui.
Ironisnya, kadang sedikit pengetahuan membuat manusia merasa mengetahui semuanya.
Padahal semakin luas kita belajar, seharusnya semakin luas pula kesadaran kita tentang keterbatasan diri.
Maka iqra’ bukan hanya jalan menuju kecerdasan.
Ia juga pendidikan kerendahan hati.
Jadi, Untuk Apa Kita Menjadi Pintar?
Kita kembali kepada pertanyaan di awal.
Mengapa ada orang pintar yang tidak kaya?
Karena pintar dan kaya bukan hubungan sebab-akibat yang sederhana.
Ilmu dapat membantu manusia membangun kehidupan yang lebih baik. Tetapi ilmu membutuhkan keterampilan, tindakan, kesempatan, karakter, keberanian, dan banyak faktor lain untuk berubah menjadi nilai ekonomi.
Lebih dari itu, kekayaan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan pengetahuan.
Mungkin kita terlalu lama mengajarkan anak-anak:
“Belajarlah supaya pintar. Pintarlah supaya sukses. Sukseslah supaya kaya.”
Padahal kita dapat menambahkan satu pertanyaan yang lebih dalam:
Setelah pintar, untuk apa?
Untuk menyelesaikan masalah apa?
Untuk membantu siapa?
Untuk menciptakan apa?
Untuk memperbaiki bagian mana dari kehidupan?
Dan manusia seperti apa yang sedang kita bangun melalui semua proses belajar itu?
Pada akhirnya, mungkin kita tidak kekurangan orang pintar.
Yang terus kita perlukan adalah manusia yang mau membaca dengan dalam, berpikir dengan jernih, menulis apa yang dipahami, berani menguji pengetahuannya dalam kehidupan, rendah hati untuk terus belajar, dan bersedia mengubah ilmunya menjadi manfaat.
Itulah mengapa iqra’ tetap relevan.
Bukan karena setiap orang yang banyak membaca pasti akan menjadi kaya.
Bukan pula karena setiap orang berpendidikan tinggi pasti akan memiliki kehidupan yang mudah.
Tetapi karena manusia yang berhenti membaca—teks, kehidupan, zaman, dan dirinya sendiri—perlahan kehilangan kesempatan untuk memperbaiki cara ia memahami dunia.
Iqra’ bukan janji bahwa membaca akan membuat kita kaya.
Iqra’ adalah undangan agar kita tidak pernah berhenti menjadi manusia yang belajar.
Dan mungkin kekayaan terbesar dari ilmu bukanlah seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan seberapa banyak kebaikan yang dapat lahir dari apa yang telah kita ketahui.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung. Semoga langkah Anda hari ini membawa semangat baru untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak. Saya menghargai setiap dedikasi dan perjalanan Anda. Sampai kita berjumpa kembali, dalam tulisan atau kehidupan nyata.