STIKES Al-Su’aibah — Dalam upaya meningkatkan kapasitas dan produktivitas publikasi ilmiah dosen, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Al-Su’aibah menyelenggarakan Workshop “Bedah Struktur Letter to Editor: Solusi Cepat Tingkatkan Kinerja Publikasi di Jurnal Internasional Bereputasi” pada Jumat, 9 Oktober 2026, pukul 09.00–16.00 WIB.
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting ini dibuka langsung oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) STIKES Al-Su’aibah, Lina Contesa, M.Kes., dan diikuti oleh seluruh dosen di lingkungan STIKES Al-Su’aibah.
Workshop menghadirkan Rio Saputra, M.Pd., dosen Universitas Muhammadiyah Bengkulu sekaligus peneliti, penulis, dan trainer, sebagai narasumber.
Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat keterampilan dosen dalam mengidentifikasi kesenjangan penelitian, menyusun argumentasi akademik, dan mengembangkan Letter to the Editor (LTE) sebagai salah satu bentuk kontribusi ilmiah yang dapat dipublikasikan di jurnal internasional.
Mengubah Kebiasaan Membaca Menjadi Peluang Publikasi
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam workshop adalah bagaimana akademisi dapat mengembangkan gagasan ilmiah dari artikel penelitian yang telah diterbitkan.
Selama ini, aktivitas membaca jurnal sering kali berhenti pada upaya memahami dan mengutip hasil penelitian. Padahal, setiap publikasi ilmiah membuka ruang untuk dialog akademik, baik dalam bentuk kritik metodologis, interpretasi alternatif, pengembangan konsep, maupun rekomendasi untuk penelitian selanjutnya.
Melalui Letter to the Editor, dosen dapat berpartisipasi dalam percakapan ilmiah tersebut tanpa harus selalu memulai penelitian baru berskala besar.
Dalam materinya, Rio Saputra memperkenalkan prinsip “Satu Artikel, Satu Gap, Satu Gagasan” sebagai landasan untuk membangun LTE yang terarah.
Prinsip ini menekankan bahwa kualitas sebuah correspondence tidak ditentukan oleh banyaknya persoalan yang dikemukakan, tetapi oleh ketajaman argumentasi dan kontribusi ilmiah yang ditawarkan.
Peserta juga diajak memahami bahwa LTE bukan sekadar surat pujian maupun kritik terhadap penulis artikel, melainkan komunikasi akademik yang harus didasarkan pada bukti, relevansi, dan kebaruan gagasan.
Membedah Artikel Internasional yang Telah Terbit
Untuk memberikan pemahaman yang konkret, workshop dilaksanakan melalui pendekatan case-based learning, yaitu membedah struktur artikel ilmiah yang telah diterbitkan pada jurnal internasional.
Salah satu contoh yang dibahas adalah artikel berjudul GenAI and Psychiatry: Between Multimodal Promise and Ethical Perils, yang diterbitkan dalam Asian Journal of Psychiatry pada tahun 2025.
Melalui contoh tersebut, peserta mempelajari bagaimana penulis menghubungkan temuan penelitian terdahulu dengan persoalan aktual, membangun landasan konseptual, menyampaikan argumentasi kritis, serta menawarkan implikasi bagi praktik dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Narasumber memperkenalkan lima fungsi retoris dalam penulisan LTE, yaitu SEE, THINK, PROVE, SAY, dan IMPACT.
SEE digunakan untuk memahami kontribusi artikel yang ditanggapi. THINK membantu penulis menemukan perspektif dan merumuskan tesis. PROVE menekankan pentingnya argumentasi berbasis bukti. SAY mengarahkan penulis pada solusi yang konkret, sedangkan IMPACT menjelaskan implikasi gagasan bagi bidang keilmuan yang lebih luas.
Peserta kemudian diperkenalkan pada model latihan penulisan lima paragraf, masing-masing maksimal 100 kata, sebagai strategi awal membangun correspondence yang ringkas, terstruktur, dan argumentatif.
Memanfaatkan AI sebagai Mitra Berpikir, Bukan Pengganti Penulis
Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) turut menjadi bagian penting dalam kegiatan ini.
Narasumber memperkenalkan pendekatan AI as a Thinking Partner, yaitu penggunaan AI sebagai mitra dialog untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan meningkatkan kualitas tulisan ilmiah.
Melalui pendekatan ini, AI dapat membantu dosen memahami artikel yang kompleks, memetakan kemungkinan kesenjangan penelitian, menguji argumentasi dari sudut pandang editor, serta memberikan umpan balik terhadap struktur dan kejelasan bahasa.
Namun, peserta juga mendapat penekanan bahwa AI tidak boleh menggantikan tanggung jawab intelektual seorang akademisi.
Setiap klaim ilmiah, referensi, data statistik, maupun interpretasi yang dihasilkan dengan bantuan AI harus diperiksa kembali berdasarkan sumber aslinya. Penggunaan AI juga perlu mengikuti ketentuan etika dan kebijakan penerbit jurnal tujuan.
Dengan demikian, teknologi digunakan untuk memperkuat kualitas proses berpikir dan penulisan, bukan sekadar mempercepat produksi teks.
Tidak Hanya Mendengarkan Materi, Seluruh Dosen Dilibatkan dalam Praktik Penulisan
Salah satu karakteristik workshop ini adalah penerapan pembelajaran berbasis praktik dan pendampingan langsung.
Seluruh peserta memperoleh akses ke bahan pelatihan yang disediakan melalui Google Drive, meliputi materi presentasi, lembar kerja penulisan LTE, serta contoh artikel ilmiah yang telah diterbitkan.
Lembar kerja tersebut dirancang secara bertahap agar dosen dapat mengikuti seluruh proses penulisan, mulai dari menentukan artikel target, membaca secara kritis, mengidentifikasi kesenjangan, merumuskan tesis, hingga mengembangkan kerangka tulisan.
Untuk memperkuat praktik, peserta juga diperkenalkan pada artikel penelitian berjudul Predictive Linguistic Markers of Suicidal Ideation in Autobiographical Memory Narratives, yang diterbitkan dalam jurnal Psychiatry Research tahun 2026.
Artikel tersebut digunakan sebagai contoh untuk mempelajari bagaimana temuan penelitian dapat dikaji kembali dari sudut pandang metodologis, interpretatif, maupun implikasi klinis.
Melalui latihan ini, peserta diarahkan untuk memahami proses penulisan correspondence secara sistematis, bukan sekadar meniru format artikel yang telah terbit.
Progres Penulisan Dipantau Melalui Spreadsheet
Berbeda dari kegiatan pelatihan yang hanya berfokus pada penyampaian materi, workshop ini juga dilengkapi dengan sistem pemantauan proses penulisan peserta.
Selama kegiatan berlangsung, narasumber menggunakan spreadsheet monitoring untuk mencatat dan memantau perkembangan pekerjaan dosen pada setiap tahapan penyusunan LTE.
Instrumen tersebut membantu memetakan proses penulisan, mulai dari pemilihan artikel target, identifikasi masalah, penyusunan tesis, pengembangan kerangka, hingga kesiapan draf untuk ditinjau lebih lanjut.
Melalui pendekatan ini, proses pendampingan menjadi lebih terstruktur dan transparan. Perkembangan setiap peserta dapat diidentifikasi, termasuk tahapan yang masih membutuhkan perbaikan atau penguatan argumentasi.
Penggunaan spreadsheet juga membuka peluang tindak lanjut setelah workshop, sehingga proses penulisan ilmiah tidak berhenti ketika sesi Zoom Meeting berakhir.
Pendekatan ini mencerminkan pentingnya membangun ekosistem publikasi yang berkelanjutan melalui kombinasi pembelajaran, praktik, umpan balik, dan monitoring.
Mendorong Budaya Akademik yang Kritis dan Produktif
Penyelenggaraan workshop oleh LPPM STIKES Al-Su’aibah menunjukkan perhatian institusi terhadap peningkatan kapasitas dosen dalam menghasilkan karya ilmiah yang relevan dan berkualitas.
Melalui kegiatan ini, para dosen memperoleh penguatan tidak hanya dalam aspek teknis penulisan, tetapi juga dalam kemampuan membaca secara analitis, mengevaluasi bukti, merumuskan argumen, serta menggunakan teknologi digital secara bertanggung jawab.
Keterampilan tersebut semakin penting dalam lingkungan pendidikan tinggi yang menuntut dosen untuk terus mengembangkan keilmuan, meningkatkan kualitas penelitian, dan berpartisipasi aktif dalam forum akademik nasional maupun internasional.
Workshop ini sekaligus memperlihatkan bahwa upaya peningkatan publikasi ilmiah memerlukan strategi yang terarah. Penyediaan materi dan contoh yang relevan, latihan penulisan terstruktur, serta pemantauan perkembangan peserta menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Dengan adanya pendampingan dan tindak lanjut, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong lahirnya naskah-naskah Letter to the Editor yang layak dikembangkan menuju publikasi ilmiah.
Pada akhirnya, pesan penting dari workshop ini adalah bahwa kontribusi akademik dapat dimulai dari satu langkah sederhana: membaca sebuah artikel secara kritis, menemukan persoalan yang bermakna, dan menyampaikan gagasan baru berdasarkan bukti ilmiah.
Satu artikel, satu gap, satu gagasan-langkah kecil untuk membangun kontribusi ilmiah yang lebih luas.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung. Semoga langkah Anda hari ini membawa semangat baru untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijak. Saya menghargai setiap dedikasi dan perjalanan Anda. Sampai kita berjumpa kembali, dalam tulisan atau kehidupan nyata.