Di tengah maraknya ketidakpercayaan masyarakat terhadap pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan, Surah An-Nisa ayat 58 mengingatkan kita akan dua pilar utama peradaban: amanat dan keadilan. Ayat ini bukan sekadar seruan agama, melainkan panduan universal untuk membangun masyarakat yang harmonis. Di Indonesia, di mana kasus korupsi dan nepotisme masih menggerogoti kepercayaan publik, refleksi atas ayat ini menjadi relevan bagi para pemimpin dan masyarakat yang ingin menciptakan perubahan.
Amanat: Fondasi Kepemimpinan yang Dipercaya
Allah berfirman: “Sungguh, Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…”(QS. An-Nisa: 58). Amanat dalam Islam mencakup segala tanggung jawab, mulai dari mengurus keluarga, mengelola jabatan, hingga memegang kekuasaan publik.
1. Amanat sebagai Identitas Pemimpin
Seorang kepala desa yang jujur mengelola dana bansos, seorang guru yang mengajar dengan dedikasi, atau pejabat yang menolak suap—semua itu adalah bentuk konkret amanat. Sayangnya, ketika amanat dikhianati (seperti korupsi proyek infrastruktur atau manipulasi kebijakan), kepercayaan publik runtuh. Data Transparency International (2023) mencatat Indonesia berada di peringkat 115 dari 180 negara dalam Indeks Persepsi Korupsi—bukti bahwa pengkhianatan amanat masih menjadi tantangan.
2. Masyarakat pun Membawa Amanat
Amanat bukan hanya milik pemimpin. Setiap warga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kejujuran dalam transaksi ekonomi, melaporkan pelanggaran hukum, atau sekadar menegur tetangga yang menyebar hoaks. Amanat adalah kontrak sosial yang menjaga harmoni.
Keadilan: Kunci Masyarakat yang Damai
“…apabila menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kalian menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58). Keadilan adalah prinsip yang melampaui agama dan budaya.
1. Keadilan yang Inklusif
Allah melarang diskriminasi dalam hukum. Contoh nyata? Ketika seorang pejabat terjerat kasus korupsi, proses hukum harus sama tegasnya dengan rakyat biasa. Sayangnya, praktik “hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas” masih kerap terjadi. Padahal, penelitian World Justice Project (2022) menunjukkan negara dengan sistem peradilan adil memiliki pertumbuhan ekonomi lebih stabil.
2. Keadilan dalam Kebijakan Publik
Keadilan juga tercermin dari kebijakan yang pro-rakyat kecil. Misalnya, program bantuan pendidikan yang tepat sasaran atau penghentian alih fungsi lahan yang merugikan petang. Pemimpin yang adil akan memprioritaskan suara kaum marginal, bukan kepentingan oligarki.
Baca juga: Al-Quran Membawa Kebenaran dan Keadilan
Akibat Mengabaikan Amanat dan Keadilan
Allah mengingatkan: “Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” Setiap pengkhianatan amanat dan ketidakadilan tidak luput dari pengawasan-Nya. Namun, dampaknya juga nyata di dunia:
1. Krisis Kepercayaan
Survei LSI (2023) menyebut 67% masyarakat tidak percaya pada integritas pejabat. Ini memicu apatisme, seperti golput dalam pemilu atau enggan melapor korupsi karena dianggap sia-sia.
2. Ketimpangan Sosial
Korupsi dana sosial memperlebar jurang kaya-miskin. Data BPS (2023) mencatat 9,3% penduduk Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan—angka yang bisa ditekan jika amanat keuangan negara dijaga.
3. Bencana Lingkungan
Penyalahgunaan izin tambang oleh oknum pejabat mengakibatkan kerusakan ekosistem. Banjir bandang dan longsor di beberapa daerah adalah bukti alam “protes” atas ketidakadilan penguasa.
Baca juga: Tidak Ada Rasa Aman Tanpa Keadilan
Langkah Menuju Perubahan
1. Untuk Pemimpin
Transparansi: Publikasikan laporan keuangan instansi secara daring. Contoh: Pemkab Sleman yang menerapkan sistem e-budgeting hingga level RT.
Audit Sosial: Libatkan masyarakat dalam mengawasi kebijakan, seperti Forum Warga untuk Pengawasan Anggaran (Fordapra) di Surabaya.
Membangun Kultur Anti-Suap: Tolak segala bentuk gratifikasi, sekecil apa pun.
2. Untuk Masyarakat
Kritis, Bukan Sinis: Laporkan pelanggaran via platform seperti LAPOR! atau whistleblower KPK, bukan sekadar mengeluh di media sosial.
Edukasi Dini: Ajarkan anak nilai kejujuran melalui kisah teladan seperti Nabi Yusuf yang menolak korupsi di istana Mesir.
Dukung Pemimpin Amanah: Berikan apresiasi pada pejabat yang berprestasi, seperti Bupati yang berhasil menekan angka stunting.
Baca juga: Berlakulah Adil Walau Kepada Dirimu Sendiri
Menghadirkan Surga di Bumi dengan Amanat dan Keadilan
Surah An-Nisa:58 mengajak kita melihat kepemimpinan dan kehidupan sosial sebagai ibadah. Setiap amanat yang ditunaikan dan setiap keputusan yang adil adalah jalan meraih ridha Allah sekaligus membangun Indonesia yang bermartabat.
Sebagai penutup, mari renungkan kisah Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang mengembalikan harta negara ke kas publik hingga keluarganya hidup sederhana. Hasilnya? Kesejahteraan merata dan rakyat percaya pada pemimpinnya. Indonesia butuh lebih banyak “Umar” zaman now.
“Jika amanat hilang, tunggulah kehancuran,” sabda Nabi Muhammad. Mari jadikan ayat ini sebagai kompas untuk refleksi, edukasi, dan aksi nyata.
Tindakanmu hari ini menentukan wajah Indonesia masa depan. Amanat dan keadilan dimulai dari diri sendiri!
Malang, 3 Syawal 1446 H/ 2 April 2025 M
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih telah singgah! Semoga kita segera berjumpa lagi. Saya memberi hormat atas dedikasi dan komitmen Anda untuk terus tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Saya menantikan suatu waktu untuk dapat berjumpa dengan Anda suatu hari.