Rabu, 07 Oktober 2026

Orang Pintar Belum Tentu Kaya: Memahami Makna Iqra’, Ilmu, dan Kesuksesan



Sejak kecil kita sering mendengar nasihat sederhana:

“Belajarlah yang rajin supaya pintar. Kalau pintar, nanti hidupmu akan sukses.”

Nasihat itu tentu tidak salah. Pendidikan dan pengetahuan dapat membuka banyak pintu kehidupan. Tetapi semakin dewasa, kita menemukan kenyataan yang ternyata tidak sesederhana rumus tersebut.

Ada orang yang sangat pintar, pendidikannya tinggi, gelarnya panjang, pengetahuannya luas, tetapi kehidupan ekonominya biasa-biasa saja.

Sebaliknya, ada orang yang mungkin tidak mempunyai gelar akademik tinggi, tetapi mampu membangun usaha, menciptakan lapangan pekerjaan, membaca peluang, dan memperoleh kekayaan.

Lalu di mana letak persoalannya?

Kalau kepintaran membuat seseorang kaya, mengapa tidak semua orang pintar menjadi kaya?

Selasa, 29 September 2026

Ketika Orang yang Kita Cintai Belum Berubah: Makna QS. Al-Qashash Ayat 56 tentang Hidayah



Ada satu bentuk kelelahan yang sering tidak terlihat oleh orang lain.

Bukan kelelahan karena pekerjaan yang berat. Bukan pula karena perjalanan yang panjang. Tetapi kelelahan karena terlalu ingin seseorang berubah.

Kita mungkin pernah berada pada posisi itu.

Ada seseorang yang kita sayangi. Seseorang yang ingin kita lihat lebih dekat dengan Allah. Seseorang yang sebenarnya kita tahu memiliki potensi menjadi lebih baik, tetapi perjalanan hidupnya masih membawa ia ke arah yang berbeda dengan harapan kita.

Kita sudah mencoba berbicara dengan lembut. Kita sudah memberikan nasihat dengan penuh perhatian. Kita sudah berusaha menunjukkan contoh melalui sikap dan tindakan.

Namun ketika perubahan yang kita harapkan belum juga datang, perlahan muncul pertanyaan dalam hati:

Apakah saya kurang berusaha?

Apakah cara saya salah?

Apakah saya gagal membimbingnya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sangat manusiawi.

Sebab ketika kita mencintai seseorang, kita tidak hanya ingin berada dekat dengannya. Kita juga ingin melihat kebaikan tumbuh dalam dirinya. Kita ingin melihat hidupnya menjadi lebih baik, hatinya lebih tenang, dan langkahnya lebih dekat kepada Allah.

Namun di sinilah Al-Qur’an memberikan sebuah pelajaran yang sangat dalam tentang cinta, usaha, dan batas kemampuan manusia.

Minggu, 27 September 2026

Tes Minat Bakat vs Trial and Error: Mana yang Lebih Efektif Menentukan Karier?





“Sebenarnya saya cocok menjadi apa?”

Pertanyaan ini terdengar sederhana.

Tetapi bagi seorang pelajar yang sedang memilih jurusan, mahasiswa yang mulai memikirkan karier, atau bahkan seseorang yang sudah bekerja tetapi merasa berada di tempat yang salah, pertanyaan tersebut bisa menjadi sangat membingungkan.

Kita ingin memilih dengan benar.

Kalau bisa, sejak awal.

Kita tidak ingin menghabiskan empat tahun kuliah di jurusan yang ternyata tidak disukai. Tidak ingin bekerja bertahun-tahun sebelum menyadari bahwa pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan diri kita. Tidak ingin terlalu banyak mengambil jalan memutar.

Karena itulah tes minat bakat terasa menarik.

Kita menjawab sejumlah pertanyaan, mengerjakan beberapa bagian tes, lalu memperoleh gambaran mengenai minat, kecenderungan, kemampuan, atau bidang yang mungkin cocok.

Seolah-olah setelah sekian lama tersesat, seseorang akhirnya memberikan kompas.

Tetapi kemudian muncul pertanyaan lain.

Bisakah sebuah tes benar-benar memberi tahu kita siapa diri kita dan jalan hidup seperti apa yang seharusnya kita pilih?

Atau justru kita baru benar-benar mengenal diri setelah mencoba, gagal, berpindah arah, bertemu banyak orang, dan mengalami sendiri dunia yang sebelumnya hanya kita bayangkan?

Di sinilah tes minat bakat bertemu dengan sesuatu yang jauh lebih berantakan tetapi sangat manusiawi:

trial and error.

Kamis, 24 September 2026

Grit: Ketika Bakat Membuka Pintu, Ketekunan Membawa Kita Sampai Tujuan



Ada orang yang sangat berbakat, tetapi berhenti di tengah jalan.

Ada pula orang yang pada awalnya tampak biasa-biasa saja, tetapi bertahun-tahun kemudian justru melangkah jauh lebih depan.

Apa yang membedakan keduanya?

Kita mungkin tergoda menjawab: kecerdasan. Bakat. Kesempatan. Latar belakang.

Namun, pengalaman Angela Duckworth ketika menjadi guru justru membawanya pada pertanyaan yang berbeda.

Sebelum dikenal sebagai psikolog yang meneliti grit, Duckworth pernah bekerja sebagai konsultan manajemen. Ia kemudian beralih menjadi guru matematika kelas tujuh di sekolah negeri. Di ruang kelas itulah ia melihat sesuatu yang mengusiknya: siswa yang paling cepat memahami pelajaran tidak selalu menjadi siswa yang memperoleh hasil terbaik. Sebaliknya, beberapa siswa yang tidak tampak paling menonjol justru mampu berkembang ketika terus belajar dan berusaha.

Pengamatan sederhana itu kemudian berkembang menjadi pertanyaan penelitian yang jauh lebih besar:

Siapa yang akan berhasil dalam perjalanan panjang, dan mengapa?

Ketika Mahasiswa Bisa Bertanya kepada AI, Apa yang Harus Diajarkan Dosen?

 

Dr. Kasmiruddin, M.Si.
Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Bengkulu



Oleh: Dr. Kasmiruddin, M.Si.

Dulu, mahasiswa datang ke kampus karena dosen memiliki sesuatu yang sulit diperoleh: informasi.

Hari ini, sebagian besar informasi ada di genggaman.

Cukup buka laptop, ketik pertanyaan kepada Artificial Intelligence (AI), dalam hitungan detik muncul jawaban yang rapi, lengkap, bahkan meyakinkan.

Lalu muncul pertanyaan yang menggelitik:

Jika AI mampu menjawab hampir semua pertanyaan mahasiswa, untuk apa mereka masih membutuhkan dosen?

Rabu, 23 September 2026

Ketika Akal Mencari Kebenaran, Ego Ingin Menang: Tadabbur Q.S. Al-Kahf Ayat 54



Pernahkah kita terlibat dalam sebuah diskusi, lalu di tengah percakapan menyadari bahwa kita sebenarnya sudah tidak lagi mencari kebenaran?

Kita hanya ingin menang.

Kita mendengar lawan bicara, tetapi bukan untuk memahami. Kita mendengarkan sambil menyiapkan jawaban. Ketika muncul informasi yang mendukung pendapat kita, kita menerimanya dengan mudah. Tetapi ketika datang bukti yang menggoyahkan keyakinan kita, tiba-tiba standar pembuktiannya menjadi jauh lebih tinggi.

Menariknya, Al-Qur'an berbicara tentang kecenderungan manusia ini jauh sebelum kita mengenal istilah confirmation bias, motivated reasoning, atau intellectual humility.

QS. Al-Kahf ayat 54 menghadirkan sebuah paradoks. 

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِن كُلِّ مَثَلٍ ۚ وَكَانَ الْإِنسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا

"Dan sungguh, dalam Al-Qur'an ini Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia dengan bermacam-macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah."
QS. Al-Kahf: 54

Allah telah menjelaskan kebenaran dengan berbagai cara.

Namun manusia tetap saja suka membantah.

Pertanyaannya kemudian bukan hanya: apakah kita sudah mendapatkan penjelasan?

Pertanyaan yang lebih dalam adalah:

apakah hati kita masih bersedia menerima kebenaran ketika kebenaran itu tidak sesuai dengan apa yang ingin kita percayai?

Saya Pernah Menulis tentang Otak Kiri dan Otak Kanan. Ternyata Saya Perlu Mengoreksinya



Bertahun-tahun lalu, ketika menulis buku Setiap Orang Berhak Sukses, saya pernah membahas tentang otak kiri dan otak kanan.

Waktu itu, gagasan tersebut terasa sangat masuk akal.

Otak kiri sering dikaitkan dengan logika, analisis, angka, dan kemampuan berpikir sistematis. Sementara otak kanan digambarkan sebagai wilayah kreativitas, intuisi, seni, dan imajinasi.

Maka muncullah pembagian yang sangat populer.

Ada orang yang disebut left-brained.

Ada pula yang dianggap right-brained.

Saya pun pernah menuliskannya.

Namun beberapa waktu kemudian, saya membaca kembali tentang topik ini dan menemukan sesuatu yang membuat saya berhenti sejenak.

Ternyata penjelasan itu tidak sesederhana yang pernah saya pahami.

Selasa, 22 September 2026

Mengapa Otak Kita Makin Lemot?



Pernahkah Anda membuka ponsel hanya untuk membalas satu pesan, lalu dua puluh menit kemudian baru sadar bahwa Anda sudah berpindah dari WhatsApp ke Instagram, dari Instagram ke YouTube, lalu entah bagaimana berakhir membaca sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan tujuan awal?

Setelah itu kita kembali bekerja.

Lalu lupa tadi hendak melakukan apa.

Kita mulai bertanya:

“Kenapa akhir-akhir ini otak saya terasa lemot?”

Jadilah Teladan yang Kita Butuhkan: Makna Keteladanan dalam Kepemimpinan

 

 Ada satu kalimat pendek yang beberapa waktu lalu menarik perhatian saya:

“Be the role model that you need.”

Jadilah teladan yang kita butuhkan.

Kalimatnya sederhana. Tetapi semakin direnungkan, semakin terasa bahwa ia sedang membalik sebuah kebiasaan yang sangat manusiawi: kita sering menunggu orang lain menjadi seperti yang kita harapkan.

Kita berharap memiliki pemimpin yang lebih jujur.

Kita ingin bekerja dengan orang-orang yang lebih disiplin.

Kita berharap berada di tengah lingkungan yang lebih menghargai waktu, lebih bertanggung jawab, lebih peduli, lebih terbuka terhadap kritik, dan lebih konsisten antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan.

Harapan-harapan itu tentu tidak salah.

Namun ada pertanyaan yang jauh lebih dekat dan mungkin lebih sulit dijawab:

Bagaimana jika perubahan yang kita tunggu dari orang lain justru perlu dimulai dari diri kita sendiri?

Rabu, 16 September 2026

Menjadi Versatilist: Mengapa Keahlian Saja Tidak Lagi Cukup di Era AI

 Menjadi Versatilist: Mengapa Keahlian Saja Tidak Lagi Cukup di Era AI

Ada satu kalimat di layar besar pada saat pembicara publik berbicara tentang keahlian yang membuat saya berhenti cukup lama:

“40% of IT staff will be versatilists, holding multiple roles, most of which will be business rather than technology-related.”

Prediksi Gartner itu disampaikan pada 2017 untuk menggambarkan perubahan yang mereka perkirakan terjadi menjelang 2021. Istilah yang digunakan bukan sekadar specialist, melainkan IT staff: empat dari sepuluh diprediksi bergerak menjadi versatilist, orang yang memiliki kemampuan untuk menjalankan beberapa peran dan menghubungkan kompetensi teknis dengan kebutuhan bisnis.

Angka 40 persen mungkin sudah terasa seperti statistik lama.

Tetapi gagasan di belakangnya justru terasa semakin dekat dengan kehidupan kita hari ini.

Apalagi ketika AI mulai mengambil alih sebagian pekerjaan yang dahulu hanya dapat dilakukan oleh orang dengan keahlian teknis tertentu.

Lalu saya bertanya:

Apakah menjadi ahli dalam satu bidang masih cukup untuk menghadapi masa depan?

Jawabannya mungkin bukan meninggalkan keahlian.

Justru kita perlu menjadi ahli, tetapi tidak berhenti menjadi pembelajar.

Jumat, 11 September 2026

Kisah Zulkarnain dalam Surah Al-Kahfi: Kekuasaan, Kepemimpinan, dan Kerendahan Hati

Kisah Zulkarnain dalam surah Al-Kahfi


Apa yang akan kita lakukan ketika memiliki kekuasaan?

Pertanyaan ini terdengar seperti pertanyaan untuk seorang pemimpin negara. Padahal, dalam kadar yang berbeda, hampir setiap kita memiliki sesuatu yang membuat kita mampu memengaruhi kehidupan orang lain.

Ada yang memiliki jabatan.

Ada yang memiliki ilmu.

Ada yang memiliki kekayaan.

Ada yang memiliki jaringan, teknologi, keterampilan, atau sekadar kesempatan untuk membantu.

Setelah membaca kisah dua pemilik kebun dan perjalanan Nabi Musa bersama Khidir, saya melanjutkan membaca Surah Al-Kahfi. Kali ini saya sampai pada kisah Zulkarnain dalam ayat 83–98.

Ada sesuatu yang menarik perhatian saya.

Jika kisah pemilik kebun berbicara tentang manusia ketika memiliki kekayaan, dan kisah Musa bersama Khidir berbicara tentang manusia ketika berhadapan dengan keterbatasan pengetahuan, maka kisah Zulkarnain membawa kita kepada pertanyaan berikutnya:

Bagaimana manusia bersikap ketika Allah memberinya kekuasaan dan kemampuan?

Jawabannya ternyata bukan sekadar tentang seberapa besar sesuatu yang mampu kita bangun.

Tetapi untuk siapa kekuatan itu digunakan.

Rabu, 09 September 2026

Banyak Perguruan Tinggi Tutup: Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi?



Barusan saya membaca sebuah tulisan di Entrepreneur yang membuat saya berhenti cukup lama.

Judulnya berbicara tentang semakin banyaknya perguruan tinggi yang tutup di Amerika Serikat dan kemungkinan datangnya krisis penerimaan mahasiswa yang lebih dalam.

Awalnya saya mengira persoalannya sederhana: jumlah mahasiswa berkurang, pendapatan kampus turun, lalu sebagian perguruan tinggi akhirnya tidak mampu bertahan.

Namun semakin saya membaca, saya menyadari bahwa persoalannya jauh lebih kompleks.

Dan mungkin justru di situlah pelajaran pentingnya.

Kampus tidak selalu runtuh karena satu masalah besar. Ia bisa melemah karena terlalu banyak masalah kecil yang dibiarkan bertahun-tahun.

Sabtu, 05 September 2026

Apakah AI benar-benar mengerti ketika kita sedang curhat?



Bayangkan seseorang berkata:

“Saya baik-baik saja. Hanya akhir-akhir ini rasanya ingin sendiri.”

Bagi sebuah mesin, mungkin ada kata-kata tertentu yang bisa dikenali, dikategorikan, dan dianalisis.

Tetapi bagi manusia yang memahami konteksnya, kalimat itu bisa memiliki makna yang jauh lebih dalam.

“Baik-baik saja” bisa berarti benar-benar baik.

Tetapi bisa juga berarti, saya belum siap bercerita lebih jauh.

Pertanyaan semacam inilah yang membuat saya tertarik untuk melihat kembali bagaimana AI digunakan untuk menganalisis narasi kesehatan mental, khususnya ketika narasi tersebut berasal dari konteks budaya Asia.

Dalam banyak budaya Asia, termasuk Indonesia, kesedihan, tekanan, konflik, atau persoalan psikologis tidak selalu disampaikan secara langsung.

Kadang kita menggunakan bahasa yang halus.

Kadang menggunakan metafora.

Kadang kita bercerita panjang tentang keluarga, pekerjaan, hubungan, atau kehidupan sehari-hari tanpa pernah mengatakan secara eksplisit bahwa kita sedang mengalami persoalan kesehatan mental.

Maka muncul pertanyaan yang menurut saya penting:

Apakah akurasi AI dalam melakukan coding terhadap sebuah teks sudah cukup untuk mengatakan bahwa AI memahami cerita manusia?

Ubah Cerita Anda, Ubah Hidup Anda: Rahasia Breakthrough ala Tony Robbins



Pernahkah Anda tahu apa yang seharusnya dilakukan, tetapi tetap tidak melakukannya?

Anda tahu bisnis perlu berkembang. Anda tahu karier harus bergerak maju. Anda tahu ada keputusan besar yang sudah terlalu lama ditunda.

Namun entah mengapa, seperti ada sesuatu yang menahan.

Lalu kita mulai mencari alasan.

"Saya belum punya cukup modal."

"Saya tidak cukup berbakat."

"Usia saya sudah tidak muda lagi."

"Mungkin memang bukan jalan saya."

Sekilas, alasan-alasan itu terdengar masuk akal. Tetapi semakin sering diulang, semakin besar kemungkinan kita mulai memperlakukannya sebagai kebenaran.

Padahal, salah satu penghalang terbesar dalam hidup sering kali bukan keadaan di luar diri kita.

Melainkan cerita yang terus kita katakan kepada diri sendiri.

Kekuatan Imperfect Action

Motivasi Sukses Imperfect Action Tony Robbins.
Ada orang yang sudah bertahun-tahun ingin memulai bisnis.

Idenya ada.

Rencananya ada.

Nama merek sudah dipikirkan.

Logo sudah beberapa kali diganti.

Strategi pemasaran sudah disusun.

Namun satu hal belum pernah dilakukan:

memulai.

Alasannya terdengar masuk akal.

"Saya masih harus belajar."

"Produknya belum sempurna."

"Saya belum cukup percaya diri."

"Nanti kalau semuanya sudah siap, baru saya mulai."

Masalahnya, kata “nanti” bisa berubah menjadi berminggu-minggu.

Berminggu-minggu berubah menjadi berbulan-bulan.

Dan tanpa disadari, bertahun-tahun berlalu sementara seseorang masih berdiri di tempat yang sama.

Di sinilah filosofi imperfect action menjadi menarik.

Tony Robbins pernah menyampaikan sebuah gagasan sederhana tetapi kuat:

“Winners take imperfect action while others are still planning.”

Intinya sederhana:

Orang yang maju tidak selalu memiliki rencana paling sempurna. Mereka adalah orang yang bersedia bergerak meskipun semuanya belum sempurna.

Jumat, 28 Agustus 2026

Kisah Musa dan Khidir: Belajar Memahami Hikmah di Balik Jalan Hidup

Ilustrasi perahu kayu tua di laut tenang saat fajar, melambangkan perumpamaan perahu yang dilubangi dalam kisah Nabi Musa dan Khidir pada Surah Al-Kahfi.
Hari ini kita mungkin sedang menatap sebuah perahu yang berlubang. Besok kita mungkin baru memahami mengapa ia harus berlubang.


Pernahkah kita kecewa pada sebuah kejadian, lalu beberapa tahun kemudian baru menyadari bahwa ternyata ada kebaikan yang lahir darinya?

Sesuatu yang dahulu kita tangisi, ternyata menyelamatkan kita.

Sesuatu yang dahulu kita anggap kegagalan, ternyata mengarahkan kita ke jalan yang berbeda.

Atau sebaliknya. Sesuatu yang pernah begitu kita banggakan ternyata tidak bertahan selama yang kita bayangkan.

Saya kembali memikirkan hal ini ketika membaca Surah Al-Kahfi.

Sebelumnya, perhatian saya tertuju pada kisah dua pemilik kebun dalam Surah Al-Kahfi ayat 32–44. Salah seorang di antara mereka memiliki dua kebun yang subur. Kebunnya menghasilkan buah, dialiri air, dan memberinya kekayaan. Kemakmuran itu kemudian membuatnya merasa begitu yakin terhadap apa yang dimilikinya.

Ia bahkan berkata bahwa ia tidak menyangka kebunnya akan binasa.

Tetapi kebun itu akhirnya hancur.

Kisah tersebut seperti mengingatkan saya bahwa apa yang terlihat kuat hari ini belum tentu akan tetap kuat esok hari. Kekayaan, jabatan, kesehatan, keberhasilan, bahkan berbagai hal yang kita banggakan dalam kehidupan, semuanya berada dalam keterbatasan manusia dan kekuasaan Allah.

Lalu saya melanjutkan membaca kisah lain dalam surah yang sama.

Kisah Nabi Musa dan Khidir dalam Surah Al-Kahfi ayat 60–82.

Dan saya menemukan pelajaran lain yang terasa seperti melengkapi renungan sebelumnya.

Jika kisah pemilik kebun mengingatkan bahwa sesuatu yang tampak baik belum tentu akan selamanya baik, perjalanan Musa bersama Khidir mengajarkan bahwa sesuatu yang tampak buruk belum tentu berakhir buruk.

Di antara keduanya, ada satu pelajaran besar:

Pandangan kita terhadap kehidupan sangat terbatas.

Sabtu, 22 Agustus 2026

Empat Tahap Ketika Nikmat Perlahan Menguasai Hati

Ilustrasi kebun anggur yang subur saat matahari terbit, sebagai perumpamaan kisah pemilik dua kebun dalam Surah Al-Kahfi.
Sama seperti kebun yang menanti matahari terbit, segala nikmat yang kita miliki sejatinya tunduk pada kehendak-Nya




Yang menarik dari pemilik kebun dalam Surah Al-Kahfi adalah kejatuhannya tidak dimulai ketika kebunnya hancur.

Kejatuhannya sudah dimulai jauh sebelumnya.

Di dalam hati.

Jika diperhatikan, ada semacam perjalanan batin yang digambarkan Al-Qur'an. Nikmat yang semula berada di tangan perlahan masuk ke dalam cara seseorang menilai dirinya, melihat orang lain, memahami masa depan, bahkan memandang hubungannya dengan Allah.

Saya melihat setidaknya ada empat tahap yang patut kita jadikan cermin.

Rabu, 19 Agustus 2026

Siapa yang Diam-Diam Sedang Membentuk Hati Kita?

Lingkaran pertemanan yang saling mengingatkan dalam kebaikan dan keridaan Allah QS Al-Kahf 28
Lingkaran pertemanan yang saling mengingatkan dalam kebaikan dan keridaan Allah QS Al-Kahf 28


Pernah ada satu masa ketika seseorang merasa hidupnya baik-baik saja. Ia masih shalat, masih mengingat Allah, dan masih memiliki keinginan tulus untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Tetapi perlahan, ada sesuatu yang berubah.

Bukan karena ia tiba-tiba membenci agamanya. Bukan pula karena ia sengaja berniat menjauh dari Allah. Ia hanya mulai lebih sering berada di lingkungan yang berbeda.

Obrolannya mulai bergeser. Dulu, ia merasa tenang ketika berbincang tentang ilmu, kehangatan keluarga, kekhusyukan ibadah, dan ikhtiar memperbaiki diri. Sekarang, topik pembicaraan lebih sering berputar pada siapa yang penghasilannya paling fantastis, siapa yang rumahnya paling megah, siapa yang kariernya melesat paling cepat, siapa yang gaya liburannya paling mewah, dan siapa yang paling banyak menuai sorotan.

Awalnya tidak ada yang terasa salah. Semuanya tampak wajar dan lumrah.

Sampai pada suatu hari, ia menyadari sebuah pergeseran dalam batinnya: ia mulai gemar membandingkan hidupnya dengan pencapaian orang lain.

Apa yang dulu terasa cukup, kini terasa kurang. Apa yang dulu disyukuri dengan tulus, kini dipandang biasa saja. Dan apa yang dulu paling ia takuti, kehilangan kedekatan dengan Allah, perlahan justru tidak lagi terasa mencemaskan.

Begitulah cara hati berubah. Sering kali bukan terjadi dalam satu malam, melainkan tergerus sedikit demi sedikit: melalui apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, dan terutama melalui siapa yang senantiasa hadir mengisi hari-hari kita.

Senin, 17 Agustus 2026

Membongkar 7 Jebakan Mental yang Diam-Diam Mengontrol Hidupmu

Ilustrasi jebakan mental dan cara kerja otak manusia

Pernahkah kamu mengambil keputusan yang rasanya sudah dipikirkan matang-matang, tapi ujung-ujungnya disesali? Atau mungkin kamu sering terjebak membeli barang diskon yang sebenarnya tidak kamu butuhkan?

Jika ya, kamu tidak sendirian. Faktanya, otak kita diam-diam sering menyabotase diri kita sendiri.

Dalam buku legendaris Thinking, Fast and Slow, pemenang Nobel Ekonomi, Daniel Kahneman, membongkar rahasia cara kerja otak manusia. Setelah puluhan tahun melakukan penelitian bersama sahabatnya, Amos Tversky, Kahneman menyimpulkan satu hal mengejutkan: manusia itu tidak rasional, pemalas, dan penuh cacat logika.

Mari kita bedah apa saja jebakan mental (bias kognitif) yang setiap hari mengontrol hidup kita, dan bagaimana cara melawannya.

Sabtu, 15 Agustus 2026

Mengenal Diri Sendiri dan Menentukan Arah Hidup: Perspektif Islam tentang Pengembangan Diri



Ada orang yang menjalani hidup seperti berjalan di sebuah jalan panjang tanpa benar-benar tahu ke mana arah yang dituju. Ia terus bergerak, bekerja, belajar, mengejar pencapaian, bahkan terlihat sukses di mata orang lain. Namun, di dalam dirinya masih muncul satu pertanyaan sederhana:

“Sebenarnya saya ingin menjadi siapa?”

Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, jawabannya dapat menentukan banyak hal dalam kehidupan.

Jim Rohn mengatakan:

“Positive self-direction says, ‘I know who I am and I know where I want to go.’”

Secara sederhana, pesan tersebut dapat dimaknai bahwa arah hidup yang positif dimulai dari kemampuan mengenali siapa diri kita dan mengetahui ke mana kita ingin pergi.