Jumat, 26 Desember 2025
Sastra, Media Baru, dan Jalan Kreatif Generasi Digital
Di era digital, cara manusia bercerita mengalami perubahan yang sangat mendasar. Cerita tidak lagi hanya hadir dalam bentuk buku cetak, cerpen di majalah, atau puisi di antologi. Hari ini, cerita hidup dalam video pendek, unggahan media sosial, podcast, dan berbagai bentuk konten digital yang dikonsumsi lintas generasi. Dalam konteks ini, sastra sesungguhnya tidak kehilangan relevansi, ia justru menemukan ruang hidup yang baru.
Komunikasi Efektif: Jembatan antara Niat Baik dan Perubahan Nyata
“Ilmu konseling tanpa komunikasi adalah niat baik yang tidak terdengar.
Komunikasi Efektif: Kunci Sukses dalam Konseling
Usaha tanpa komunikasi adalah ide besar yang tidak bergerak.”
Kalimat ini saya sampaikan malam ini kepada mahasiswa, dan sebenarnya juga menjadi pengingat bagi diri saya sendiri. Setelah lebih dari 20 tahun berkecimpung dalam dunia komunikasi, baik sebagai praktisi, maupun pengusaha, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana: hidup manusia sangat ditentukan oleh cara ia berkomunikasi.
Bukan seberapa pintar kita berbicara, tetapi seberapa dalam kita memahami manusia.
Komunikasi: Bukan Sekadar Bicara, tetapi Menghubungkan
Banyak orang mengira komunikasi itu soal bicara. Padahal, komunikasi yang efektif adalah kemampuan menyampaikan pesan dengan empati, kejelasan, dan dampak. Pesan yang baik bukan hanya dipahami, tetapi juga:
Dirasakan dengan nyaman
Menggerakkan perubahan
Tidak melukai harga diri
Dalam praktik, saya sering melihat konflik, salah paham, bahkan kegagalan hubungan bukan terjadi karena niat buruk, tetapi karena cara menyampaikan yang tidak manusiawi.
Selasa, 23 Desember 2025
Mendengar yang Tak Terucap: Bahasa Anak sebagai Isyarat Dini Risiko Bunuh Diri

Bayangkan seorang anak berusia lima tahun sedang bermain boneka. Ia berkata pelan, “Boneka ini capek hidup, lalu tidur selamanya.”
Bagi orang dewasa, kalimat itu mungkin terdengar seperti imajinasi biasa. Namun bagi peneliti dan klinisi, ungkapan sederhana seperti ini bisa menjadi jendela awal untuk memahami dunia batin anak—termasuk risiko psikologis yang serius.
Artikel ilmiah yang baru terbit di Psychiatry Research mengajak kita melihat pikiran bunuh diri pada anak usia dini (4–7 tahun) dari sudut pandang yang jarang diperhatikan: bahasa anak itu sendiri . Tulisan ini merangkum gagasan utama artikel tersebut dengan bahasa yang lebih mudah dipahami, agar relevan bagi pendidik, orang tua, praktisi kesehatan, dan pembaca umum.
Mengapa Bahasa Anak Itu Penting?
Rabu, 17 Desember 2025
“Kami Dengar Tapi Kami Durhaka”, Penyakit Lama dalam Wajah Baru
Pernahkah merasa hati tahu apa yang benar, tapi tubuh enggan melangkah?
Mulut mengucap “sami’na” (kami dengar), tapi perilaku justru berkata “wa ‘ashaina” (kami durhaka)?
Inilah penyakit lama yang berulang dalam wajah baru, penyakit Bani Israil yang kini menjangkiti banyak hati modern.
Senin, 15 Desember 2025
Mengapa Banyak Lulusan Kampus Menganggur dan Keterampilan Apa yang Harus Dimiliki?
Fenomena tingginya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi merupakan persoalan serius yang dihadapi banyak negara, termasuk Indonesia. Dalam perspektif Islam, kondisi ini tidak hanya dipandang sebagai persoalan ekonomi, tetapi juga sebagai indikator belum optimalnya proses pengembangan potensi manusia (insān kāmil). Islam menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan potensi ilmu dan kemampuan untuk bekerja serta berkontribusi secara produktif dalam kehidupan (Q.S. Al-Baqarah [2]: 30; Q.S. Al-‘Alaq [96]: 1–5). Ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan pasar kerja menunjukkan adanya kesenjangan antara proses pendidikan dan tuntutan realitas sosial, sebagaimana juga dikemukakan dalam berbagai kajian empiris modern (Graham et al., 2019; Jamaludin et al., 2021).
Minggu, 14 Desember 2025
Ketika Manusia Terlupa, Alam Berbicara
Kamis, 11 Desember 2025
“Robot Akademik” dan Cerita Sebuah Titik Balik: Refleksi Santai dari Sesi Bersama Mahasiswa Telkom
Mari saya mulai dari sini.
Ketika “Mahasiswa Ideal” Ternyata Lelah
Beberapa waktu lalu, ada seorang mahasiswa datang ke saya.
IPK-nya 3,9. Sertifikat lombanya segudang. Proyeknya nggak pernah berhenti.
Kalau hanya melihat LinkedIn-nya, mungkin kita semua sepakat: wah, ini sih calon bintang masa depan.
Tapi begitu pintu ruangan tertutup dan obrolan dimulai, dia berkata:
“Pak… saya capek. Rasanya hidup saya kayak robot. Saya nggak tahu lagi apa yang saya mau.”
Jujur, meski saya sering mendengar cerita seperti ini, setiap kali tetap saja terasa. Karena kalimat itu biasanya keluar dari seseorang yang sudah terlalu lama menahan beban sendiri.
Dan, tentu saja, dia bukan satu-satunya.
Sisi Jujur Mahasiswa
Untuk mengetahui bagaimana perasaan mereka minggu itu, saya mengajak peserta menjawab pertanyaan ringan di Menti:
“Dalam satu kata, apa yang menggambarkan hidupmu minggu ini?”
Senin, 08 Desember 2025
Tips Produktivitas: Mengapa Sibuk Belum Tentu Produktif
Di era modern, kesibukan sering dianggap sebagai bukti keberhasilan. Kalender penuh warna membuat kita merasa penting, notifikasi yang terus berdenting seolah mengatakan bahwa hidup kita bergerak cepat, dan rapat bertubi-tubi memberi ilusi bahwa kita sedang maju. Namun, jika direnungkan lebih dalam, apakah semua aktivitas itu benar-benar mengantar kita menuju tujuan? Atau kita hanya seperti berlari di atas treadmill, lelah, berkeringat, namun tetap berada di tempat yang sama?
Ilusi Produktivitas: Sibuk Tidak Sama Dengan Berkembang
Kesibukan mudah sekali menipu. Ketika waktu kita habis untuk rapat dan aktivitas rutin, kita merasa sudah produktif. Padahal, banyak aktivitas tidak memberi kontribusi nyata terhadap tujuan hidup atau kerja yang lebih besar. Kita merasa bersalah jika tidak sibuk, seolah diam adalah bentuk kemalasan. Padahal, diam sering kali menjadi ruang penting bagi pikiran untuk mendapatkan arah yang lebih jernih.
Selasa, 02 Desember 2025
Berani Memulai S3: Tentang Kerentanan, Kebingungan, dan Keberanian yang Sesungguhnya
![]() |
| Berani Memulai S3 |
Banyak orang memuji mereka yang berani melanjutkan studi hingga jenjang doktoral. Namun, jarang yang benar-benar memahami apa arti “berani” di balik keputusan itu.
Berani memulai S3 bukan sekadar soal kesiapan akademik atau gelar yang akan disandang. Itu adalah keputusan untuk menghadapi kerentanan diri, untuk mengakui bahwa kamu akan merasa rapuh, bingung, bahkan tersesat di tengah perjalanan.




.jpeg)