Minggu, 10 September 2017

Setiap Orang Butuh Cerita

Saya merasakan aina begitu tenang dan sangat berwibawa di dalam dekapan ibunya. Ada rasa bahagia dalam wajah dan sorot matanya.

Lebih-lebih jika memandangi wajahnya yang teduh. Tidak cukup sampai di sana, melihat wajahnya yang cantik dan manis dengan berbalut bando kupu-kupu sangat membahagiakan setiap mata yang memandang walaupun guratan senyum simpul hanya mampir sejenak di wajahnya itu sudah cukup bagiku.

Jika di suruh memilih mungkin Aina ingin bertutur lembut menatap wajah bundanya, “Izinkan Aina tetap digendong bunda untuk mendengar dan menyaksikan bunda tampil depan kakak-kakak yang kece” he

Tenang sobat, cuplikan kisah di atas adalah sebuah tantangan yang diberikan oleh Mutia Zahra Feriani. dalam acara Smart Writing to Aid Our Generation (SWAG). Dari sana pulalah akhirnya saya terpilih menjadi salah satu peserta terbaik.

Kembali ke awal, Mutia membawakan talk show seputar menulis dengan menggendong bayi. Tentunya awalnya saya kira tantangannya adalah menaklukkan hati aina.

Dari 8 peserta yang merasa tertantang semuanya menuliskan dalam waktu singkat pengalaman ketika berinteraksi dengan aina. Ajaibnya, 8 orang itu semuanya menulis dengan angel yang berbeda. Tidak ada satu pun yang sama. Padahal yang ditemui orang yang sama. Dahsyat bukan?

***

“Setiap tulisan pasti akan bertemu dengan pembacanya”

Ingatlah baik-baik quote di atas sahabat. Terkadang ada rasa minder, tidak percaya diri dengan semua yang pernah kita tulis. Sebagian orang sudah pernah mencoba menulis, tetapi semua itu tersimpan rapi dalam folder yang membisu. Kertas yang berdebu. Layu sebelum berkembang. Apakah kamu pernah merasakannya? Jika pernah. Catat quote di atas dan tempelkan di kamarmu.

Mutia banyak berbagi tentang prosesnya dalam menulis. Ibu satu anak ini menuturkan kisahnya ketika memulai menulis. Ini bukan perkara ringan bagi perempuan dengan latar belakang hukum. Sebuah proses panjang mungkin sebelum ia berhenti menjadi lawyer dan beralih ke dunia industri kreatif di tahun 2014.

Ia memulai karir menulisnya melalui blog. Dari sana ia mencoba melempar ke pasar bagaimana respon pembaca terhadap tulisan-tulisan yang ia rajik. Waktu berhembus cepat akhirnya ia mendapatkan respon yang cukup menarik dan inspiratif dari pembacanya. Pelan tapi pasti, target pembaca sudah mulai terbentuk.

“Modal sosial terkadang lebih penting daripada modal kapital”

Quotes di atas menarik untuk kita renungi. Tidak perlu khawatir jika kita tidak memiliki modal kapital yang besar dalam memulai usaha apa pun. Selama kita memiliki modal sosial kita bisa melangkah ke arah yang kita tuju.

Pertanyaannya, apakah kita sudah memiliki modal sosial tersebut?

Sahabat, jika engkau sudah mendekap impianmu dengan kuat dan arah yang engkau tuju sudah jelas. Pasti ada jalan.

Founder Logikarasa.com ini juga bercerita tentang salah satu rubrik yang menarik berjudul “tentang”. Isinya berupa surat yang ingin disampaikan kepada seseorang tetapi tidak bisa. Kenapa? Mungkin dengan bermacam alasan. Contoh: Mutia sendiri sempat menampilkan surat yang ia buat untuk papanya yang telah meninggal. Bisa juga kepada sosok yang tak berani kita sapa hingga saat ini.

Apa yang mereka (Penulis surat) rasakan setelah menulis surat kepada seseorang yang tidak pernah tersampaikan? Ternyata mereka sangat berterima kasih karena diberikan ruang untuk menulis. Apa pelajarannya sahabat?

Sebuah perasaan itu tidak perlu dipendam, melepaskannya lewat tulisan adalah pelarian yang baik. Keluarkan agar lega walaupun orang lain tidak tahu.  Tentu yang terbaik semua keluh kesah biarkan hanya Dia yang tahu.


“Saya menulis untuk menyampaikan sesuatu. Menulis karena ingin bercerita.” Tandas mutia

Lalu apa yang diceritakan?

“Menulis dengan pengalaman itu tinggi  sekali, apalagi ditambah pengetahuan” tuturnya dengan suara rendah.

Ini bagian terpenting kenapa kita harus menulis?

Karena setiap orang butuh cerita. Bukankah untuk dekat kepada seseorang, sesorang butuh cerita? Tapi ingat ya jangan cerita ke sembarang orang. He. Jika solusinya salah bisa berabe.

Suami cerita kepada istri dan istri pun bercerita pengalamannya hari itu kepada suami. Demikian juga anak yang bercerita keseruannya di sekolah kepada ayah dan bundanya. Demikian pula dengan sahabat.

Salah satu kriteria kita menilai seseorang nyambung atau tidak bukan karena fisiknya, tetapi ceritanya. Apakah nyambung atau tidak?

Orang yang memiliki tujuan yang sama akan berjalan bersama.

****

Sahabat, tidak perlu minder jika kita bukan orang bahasa, bukan seorang wartawan, karena setiap orang berhak sukses di bidangnya masing-masing. Mungkin diantara kita ada yang jurusan teknik, kedokteran, pertanian, perminyakan, bahkan hukum seperti mutia.  Tetapi itulah yang membuat seseorang spesial. karena teman-teman punya pengalaman sendiri, cerita sendiri, latar belakang yang berbeda. Itulah yang membuat Anda adalah makluk yang sangat spesial.


Yuk mulai menulis. Berbagi cerita yang bermanfaat.
Menulis itu melegakan dan menyembuhkan loh.

Photo Credit: Swagtalk_sc

Jakarta, 19 Dzulhijjah 1438 H

RS


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih telah singgah! Semoga kita segera berjumpa lagi. Saya memberi hormat atas dedikasi dan komitmen Anda untuk terus tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Saya menantikan suatu waktu untuk dapat berjumpa dengan Anda suatu hari.