Selasa, 22 September 2026

Mengapa Otak Kita Makin Lemot?



Pernahkah Anda membuka ponsel hanya untuk membalas satu pesan, lalu dua puluh menit kemudian baru sadar bahwa Anda sudah berpindah dari WhatsApp ke Instagram, dari Instagram ke YouTube, lalu entah bagaimana berakhir membaca sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan tujuan awal?

Setelah itu kita kembali bekerja.

Lalu lupa tadi hendak melakukan apa.

Kita mulai bertanya:

“Kenapa akhir-akhir ini otak saya terasa lemot?”

Jadilah Teladan yang Kita Butuhkan: Makna Keteladanan dalam Kepemimpinan

 

 Ada satu kalimat pendek yang beberapa waktu lalu menarik perhatian saya:

“Be the role model that you need.”

Jadilah teladan yang kita butuhkan.

Kalimatnya sederhana. Tetapi semakin direnungkan, semakin terasa bahwa ia sedang membalik sebuah kebiasaan yang sangat manusiawi: kita sering menunggu orang lain menjadi seperti yang kita harapkan.

Kita berharap memiliki pemimpin yang lebih jujur.

Kita ingin bekerja dengan orang-orang yang lebih disiplin.

Kita berharap berada di tengah lingkungan yang lebih menghargai waktu, lebih bertanggung jawab, lebih peduli, lebih terbuka terhadap kritik, dan lebih konsisten antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan.

Harapan-harapan itu tentu tidak salah.

Namun ada pertanyaan yang jauh lebih dekat dan mungkin lebih sulit dijawab:

Bagaimana jika perubahan yang kita tunggu dari orang lain justru perlu dimulai dari diri kita sendiri?

Rabu, 16 September 2026

Menjadi Versatilist: Mengapa Keahlian Saja Tidak Lagi Cukup di Era AI

 Menjadi Versatilist: Mengapa Keahlian Saja Tidak Lagi Cukup di Era AI

Ada satu kalimat di layar besar pada saat pembicara publik berbicara tentang keahlian yang membuat saya berhenti cukup lama:

“40% of IT staff will be versatilists, holding multiple roles, most of which will be business rather than technology-related.”

Prediksi Gartner itu disampaikan pada 2017 untuk menggambarkan perubahan yang mereka perkirakan terjadi menjelang 2021. Istilah yang digunakan bukan sekadar specialist, melainkan IT staff: empat dari sepuluh diprediksi bergerak menjadi versatilist, orang yang memiliki kemampuan untuk menjalankan beberapa peran dan menghubungkan kompetensi teknis dengan kebutuhan bisnis.

Angka 40 persen mungkin sudah terasa seperti statistik lama.

Tetapi gagasan di belakangnya justru terasa semakin dekat dengan kehidupan kita hari ini.

Apalagi ketika AI mulai mengambil alih sebagian pekerjaan yang dahulu hanya dapat dilakukan oleh orang dengan keahlian teknis tertentu.

Lalu saya bertanya:

Apakah menjadi ahli dalam satu bidang masih cukup untuk menghadapi masa depan?

Jawabannya mungkin bukan meninggalkan keahlian.

Justru kita perlu menjadi ahli, tetapi tidak berhenti menjadi pembelajar.

Jumat, 11 September 2026

Kisah Zulkarnain dalam Surah Al-Kahfi: Kekuasaan, Kepemimpinan, dan Kerendahan Hati

Kisah Zulkarnain dalam surah Al-Kahfi


Apa yang akan kita lakukan ketika memiliki kekuasaan?

Pertanyaan ini terdengar seperti pertanyaan untuk seorang pemimpin negara. Padahal, dalam kadar yang berbeda, hampir setiap kita memiliki sesuatu yang membuat kita mampu memengaruhi kehidupan orang lain.

Ada yang memiliki jabatan.

Ada yang memiliki ilmu.

Ada yang memiliki kekayaan.

Ada yang memiliki jaringan, teknologi, keterampilan, atau sekadar kesempatan untuk membantu.

Setelah membaca kisah dua pemilik kebun dan perjalanan Nabi Musa bersama Khidir, saya melanjutkan membaca Surah Al-Kahfi. Kali ini saya sampai pada kisah Zulkarnain dalam ayat 83–98.

Ada sesuatu yang menarik perhatian saya.

Jika kisah pemilik kebun berbicara tentang manusia ketika memiliki kekayaan, dan kisah Musa bersama Khidir berbicara tentang manusia ketika berhadapan dengan keterbatasan pengetahuan, maka kisah Zulkarnain membawa kita kepada pertanyaan berikutnya:

Bagaimana manusia bersikap ketika Allah memberinya kekuasaan dan kemampuan?

Jawabannya ternyata bukan sekadar tentang seberapa besar sesuatu yang mampu kita bangun.

Tetapi untuk siapa kekuatan itu digunakan.

Rabu, 09 September 2026

Banyak Perguruan Tinggi Tutup: Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi?



Barusan saya membaca sebuah tulisan di Entrepreneur yang membuat saya berhenti cukup lama.

Judulnya berbicara tentang semakin banyaknya perguruan tinggi yang tutup di Amerika Serikat dan kemungkinan datangnya krisis penerimaan mahasiswa yang lebih dalam.

Awalnya saya mengira persoalannya sederhana: jumlah mahasiswa berkurang, pendapatan kampus turun, lalu sebagian perguruan tinggi akhirnya tidak mampu bertahan.

Namun semakin saya membaca, saya menyadari bahwa persoalannya jauh lebih kompleks.

Dan mungkin justru di situlah pelajaran pentingnya.

Kampus tidak selalu runtuh karena satu masalah besar. Ia bisa melemah karena terlalu banyak masalah kecil yang dibiarkan bertahun-tahun.

Sabtu, 05 September 2026

Apakah AI benar-benar mengerti ketika kita sedang curhat?



Bayangkan seseorang berkata:

“Saya baik-baik saja. Hanya akhir-akhir ini rasanya ingin sendiri.”

Bagi sebuah mesin, mungkin ada kata-kata tertentu yang bisa dikenali, dikategorikan, dan dianalisis.

Tetapi bagi manusia yang memahami konteksnya, kalimat itu bisa memiliki makna yang jauh lebih dalam.

“Baik-baik saja” bisa berarti benar-benar baik.

Tetapi bisa juga berarti, saya belum siap bercerita lebih jauh.

Pertanyaan semacam inilah yang membuat saya tertarik untuk melihat kembali bagaimana AI digunakan untuk menganalisis narasi kesehatan mental, khususnya ketika narasi tersebut berasal dari konteks budaya Asia.

Dalam banyak budaya Asia, termasuk Indonesia, kesedihan, tekanan, konflik, atau persoalan psikologis tidak selalu disampaikan secara langsung.

Kadang kita menggunakan bahasa yang halus.

Kadang menggunakan metafora.

Kadang kita bercerita panjang tentang keluarga, pekerjaan, hubungan, atau kehidupan sehari-hari tanpa pernah mengatakan secara eksplisit bahwa kita sedang mengalami persoalan kesehatan mental.

Maka muncul pertanyaan yang menurut saya penting:

Apakah akurasi AI dalam melakukan coding terhadap sebuah teks sudah cukup untuk mengatakan bahwa AI memahami cerita manusia?

Ubah Cerita Anda, Ubah Hidup Anda: Rahasia Breakthrough ala Tony Robbins



Pernahkah Anda tahu apa yang seharusnya dilakukan, tetapi tetap tidak melakukannya?

Anda tahu bisnis perlu berkembang. Anda tahu karier harus bergerak maju. Anda tahu ada keputusan besar yang sudah terlalu lama ditunda.

Namun entah mengapa, seperti ada sesuatu yang menahan.

Lalu kita mulai mencari alasan.

"Saya belum punya cukup modal."

"Saya tidak cukup berbakat."

"Usia saya sudah tidak muda lagi."

"Mungkin memang bukan jalan saya."

Sekilas, alasan-alasan itu terdengar masuk akal. Tetapi semakin sering diulang, semakin besar kemungkinan kita mulai memperlakukannya sebagai kebenaran.

Padahal, salah satu penghalang terbesar dalam hidup sering kali bukan keadaan di luar diri kita.

Melainkan cerita yang terus kita katakan kepada diri sendiri.